#MyWords6
Prompt: Heels
Jumlah Kata: 442
KUINGAT KAKAK PERNAH MENGGUMAM, “Berarti, sepertinya Ayah memang pake sepatu hak.”
Kalau tak salah, saat itu kami ada di toko sepatu. Melihat-lihat sepatu murah yang diobral goban dapat dua pasang.
Bukan tanpa alasan kukerutkan kening tak paham. Perkataannya tersumbar di kala aku mencermahinya, perihal alasan di balik, ‘kenapa aku tidak mau melirik sepatu berhak tinggi’. Bahwa sepatu itu, meski memunculkan kepercayaan diri, kalau keseringan bisa berdampak buruk pada postur tubuh di kemudian hari.
Agak tidak nyambung, bukan, sih?
Ayah memang pendek, kuterka tidak sampai semeter setengah. Postur yang diturunkan pada Kakak, satu-satunya orang yang saat itu membersamaiku selain Ayah. Namun, bagaimanapun juga, dia lelaki dan sudah terlalu renta untuk mengenakan sepatu berhak tinggi. Lagi pun, selama tiga puluhan tahun aku mengenal Ayah, tak pernah kulihat ia mengenakan barang-barang wanita.
Aku baru memahami maksud Kakak saat Ayah menjalani sekaratnya setahun berselang. Selama sepekan penuh alias tujuh hari tujuh malam, laki-laki yang sudah terlau renta itu mengejang, tapi maut tidak kunjung datang. Mencoba merahasiakannya dari para tetangga, suami Kakak memutuskan memanggil Ustadz dari kampung sebelah.
Dan dari mulut Ustadz itulah lantas keluar kalimat:
“Bapakmu ini dulunya pernah pake sesuatu. Makanya beliau bisa berumur panjang.”
Kakakku mengangguk sambil menangis. Tak bisa kuterjemahkan tangisannya sebagai simbolisme kekecewaan, kekesalan, penyesalan, atau keprihatinan.
“Sudah kutahu sejak dulu. Makanya keluarga kami jadi keluarga yang nggak pernah beres,” katanya.
Sepanjang ingatanku berkelana, dalam hampir sembilan puluh tahun hidupnya, Ayah memang tak pernah sakit-sakitan. Bahkan di usia delapan puluhan, dia masih sanggup memikul barbel dan menaiki tangga hingga lantai lima gedung bertingkat. Masih mampu menendang orang hingga nyaris mâtî dan membuat keributan di kompleks kami. Masih bisa menunjukkan keperkasaannya dengan cara menumbangkanku di saat aku membantahi kata-katanya.
Berkebalikan darinya, Kakak keduaku lah yang menanggung penyakit syaraf hingga meninggal di usia kanak-kanak. Adikku meninggal saat masih bayi. Ibuku mendahuluinya, meninggal selepas melahirkan adikku.
Otakku lantas sibuk merenungi satu demi satu ketidakberesan lain yang diabsen Kakak dalam lingkup kehidupan kami.
Seseorang dari antah berantah tergopoh memasuki rumah, merobek sesi perenunganku. Pak Ustadz memanggilnya Ki Ageng. Sosoknya masih muda, hingga aku tak percaya dirinya seorang dukun.
“Dulu Bapak saya yang memasangkan. Katanya, ayah kalian tidak pede dengan tubuhnya yang kecil pendek dan memerlukan itu supaya tidak diremehkan orang. Tapi saya sudah diberi tahu cara melepaskannya sebelum Bapak wafat.”
Aku berusaha agar tidak menganga, ketika sesuatu yang sebelumnya tak ada, tiba-tiba ditarik keluar dari telapak kaki Ayah oleh Ki Ageng. Tidak sempat kutengok wujud benda itu karena sudah keburu disulut sang dukun dengan api dari korek yang sebelumnya telah disiapkan.
Namun, mulutku tetap saja menganga. Khususnya ketika Ayah tiba-tiba mengejang lebih parah dengan napas yang terbata, kemudian diam tak berkutik dengan mata nanar memandang langit-langit kamar.
