Eccedentesiast

#MyWords7

Prompt: Koridor
Jumlah Kata: 448

‘NAMA: AI. Umur: 10 tahun. Cita-cita: jadi orang dewasa.’

Merupakan keputusan bijak untuk pulang ke rumah peninggalan Ibu di tengah krisis rumah tanggaku. Kutemukan selembar sampah masa lalu yang terjebak dalam gudang saat bersih-bersih. Tulisan tangan itu milikku. Nama itu milikku. Cita-cita itu pun, pernah menjadi milikku.

Kereta ingatan membawaku menyusuri lorong waktu, mengetuk pintu kelas. Guru-guru suka mengerutkan kening mendengar lontaran cita-citaku. Ketika anak lain menyebut pekerjaan mentereng, aku bersikeras menyebutkan dua kata asing.

“Ai,” Bu Guru menegur. “Semua anak pasti tumbuh dewasa. Itu bukan cita-cita.”

Kugelengkan kepala. “Tidak semua, Bu. Bina selamanya jadi anak-anak. Aku ingin umurku panjang, biar bisa memahami hal-hal yang tidak dimengerti anak-anak.”

Bina, temanku. Meninggal di usia delapan karena sakit tipus. Bu Guru kubuat bungkam dengan alasan itu.

Imajinasiku tidak cukup liar membentuk pemikiran prospektif. Aku hanya ingin jadi orang dewasa, agar mampu memahami berbagai keputusan Ibu yang tak pernah kupahami sebelumnya.

Sebab ketika menjadi anak-anak, aku merasa dikambinghitamkan.

Ayah suka pulang usai jangkrik bernyanyi. Dia tidak tahu kecupannya pada puncak kepalaku kadangkala membuatku terjaga. Hingga bisa kusaksikan hal yang membuatku bertanya-tanya: mengapa Ayah-Ibu tidak tidur bersama, bahkan tidak pula bertegur sapa?

Pertanyaan selanjutnya mengintili seiring semakin seringnya aku menemukan rahasia yang mereka sembunyikan. Mengapa Ayah kerap memarahi Ibu? Mengapa Ayah membuat Ibu menangis? Mengapa Ibu tidak mengadu padaku dan Pi? Atau pada Nenek?

Pernah tanpa sengaja aku menguping pembicaraan Ibu dan Tante. Mereka pikir aku tengah bermain bersama Pi di luar, nyatanya aku menenggak air di belakang mereka, terhalang meja. Rupanya Tante pun turut dibuat bertanya-tanya.

“Kenapa tidak pisah saja?”

Meski masih bodoh, kutahu mereka bicara tentang Ibu dan Ayah. Entah mengapa sudut hati kanak-kanakku membenarkan. Jika Ayah dan Ibu berpisah, Ibu bisa hidup tanpa omelan, dan Ayah bisa hidup tanpa perlu marah-marah. Aku terhindar dari berpura-pura tidur dengan bantal yang basah, di tengah perseteruan mereka.

“Karena Ai dan Pi.”

Jawaban Ibu membuatku mengerutkan kening. Karena aku dan adikku? Memangnya apa yang kami lakukan?

Tante kuharap menjadi perpanjangan dari pertanyaanku, tapi adik ibuku itu malah mendesah. “Aku mengerti.” Namun, aku masih tidak mengerti. Mengapa kami menjadi alasan di balik keputusan yang tidak melibatkan kami?

Mungkin aku akan mengerti setelah menjadi dewasa.

Maka kembalilah aku di masa kini, terduduk sambil mengusap air mata yang rebas. Di usia yang telah berlipat tiga kali dari diriku di masa itu, aku mengerti. Ibu ingin menjadikan anak-anaknya jembatan. Biar pulaunya dan pulau Ayah tetap terhubung. Sekalipun jembatan itu tak pernah dilewati apa-apa selain hujan salju.

Namun, aku tidak ingin menjadi seperti Ibu, yang seolah merasa tahu itulah yang aku dan Pi inginkan. Bila diperlukan, akan kutanyakan pada dua putraku, apa yang mereka harapkan dari hubunganku dengan Ayah mereka, yang semakin lama kian menumbuhkan duri dalam daging kami.

Tinggalkan komentar