Déjà Senti

Prompt: Teh Melati
Jumlah Kata: 450



AKU MENGERUTKAN HIDUNG. Seberkas aroma yang terhidu mengusikku. Memunculkan letusan di kepala, seolah sehelai benang telah putus tiba-tiba.

Fokusku hijrah dari mesin pengganda lembaran. Mengusutnya pada sosok yang baru melewatiku.

“Mbak Yuni, pakai parfum apa?”

Dia berhenti menyesap isi cangkirnya demi mengendusi tubuh sendiri. Kekesalan membias di matanya.

“Melati. Kenapa, Din? Memang baru kucoba. Tapi kayaknya besok mau kuganti lagi. Kata Ajeng, bauku kayak Mbak Kunti.”

Kurapatkan tubuhku pada tubuhnya. Semakin dihirup, semakin kuyakin, bukan ini aroma yang mengusikku.

Sambil terkekeh canggung, kugelengkan kepala pada Mbak Yuni yang menatapku bingung. “Hehehe, sorry, Mbak. Lanjutin aja.”

Wangi melati memang umum. Kutebak, aroma bermasalah ini mencuat dari kombinasi wangi parfum melati dan aroma teh, yang memang rutin diseduh Mbak Yuni saban pagi.

Aku memikirkan ini hingga jam makan siang tiba. Berbekal keinginan menelusuri misteri di balik sebuah aroma, alih-alih memesan secangkir espresso seperti kebiasaan, kulafalkan Jasmine Tea sebagai minuman.

Nasi gorengku dianggurkan sementara. Pada satu meja di sudut rumah makan yang kukuasai sendiri, cairan kekuningan dalam cangkir menjadi pusat pelototanku selama beberapa lama. Uap yang melayang menyusupi lubang hidungku, terus menembusi otakku yang lemah.

Benar, aroma ini yang bermasalah. Entah bagaimana, ia membuatku merasa hampa.

Kelopak mataku memejam. Selusup uap teh melati mengetuk-ngetuk pintu memori. Kusadar, ada lahan kopong di antara jejalan ingatan. Bukan sesuatu yang berlangsung tiga tahunan belakangan saat aku menjalani studi di London. Bukan pula yang kujalani saat masa sekolahku di Jakarta. Kemungkinan besar, pencetus dari perasaan aneh ini ada pada masa yang jauh lebih purba.

Apa pun itu sepertinya bukan hal yang menyenangkan. Sebab saat ini, tanpa musabab yang bisa kulacak, tahu-tahu air mataku jatuh begitu saja.

Segera setelah pekerjaanku rampung, kutanyakan ini via panggilan video, pada Bunda di Bandung. Dari jendela kaca kantor, terlihat malam telah merebaki sudut-sudut langit.

“Aroma jasmine tea?” Dalam balutan telekung, Bunda bertanya balik. Ada kerutan yang diterbitkan di antara kedua alisnya kini.

Aku mengangguk.

Bunda menggunakan waktu yang kuberi dengan baik untuk mengingat-ingat. Namun, karena gagal menemukan jawabannya, dia menyerahkannya pada Ayah.

Hanya butuh sekedipan mata bagi Ayah untuk membawakan simpulan.

“Oh. Mungkin itu …, Almarhumah nenekmu. Dulu, waktu kamu masih kecil banget, belum sekolah, biasanya kamu dititip ke Nenek. Nenekmu kan punya kedai teh.”

Kata-kata Ayah membuatku tertegun, tapi ada kelegaan seolah telah kutemukan jalan yang lama kucari. Padahal, memoriku tak memberkaskan wajah Nenek—ibu dari ayahku—kecuali carikan foto-foto buram dalam album lama. Keakrabanku dengan Nenek pun tidak kuingat, selain yang bersumber dari cerita Ayah dan Bunda dalam momen-momen nostalgia mereka.

Tidak kusangka ini cara otak dan hatiku menyampaikan kerinduan atas Nenek. Atau, mungkinkah Nenek yang sedang kangen padaku? Sejak kepulanganku kembali ke Indonesia, aku memang belum berkesempatan mengunjunginya.

Kataku, “Sabtu Dina ke Bandung, ya, Yah? Kita ziarah ke makam Nenek.”

Tinggalkan komentar