Prompt: Burj Khalifa + tantangan: kata ‘Jatuh’ 4 kali
Jumlah Kata: 450
OLEH-OLEH DARI DUBAI yang kamu bawa kutimang dengan semringah. Sekalipun sebetulnya, aku tidak begitu memerlukan pun menginginkannya. Aku hanya senang kamu kembali dengan selamat.
Kecualikan rasa iri yang kerap hadir setiap berpikir kamu tidak perlu pusing mencari uang sepertiku. Aku tulus berharap kamu bersenang-senang dalam jalur halal. Kesempatan yang disiapkan orang tuamu untuk berlibur bersama di sana memang tidak boleh disia-siakan. Itu jauh lebih baik dibanding melihatmu berkumpul dengan teman-teman tongkronganmu yang gemar foya-foya dan hura-hura. Aku takkan kaget jika ada di antara mereka yang kelak tertangkap pakai ganja.
“Jadi, bagaimana liburannya?”
Pertanyaan yang kujatuhkan usai melontar tumpahan terima kasih, disambut dengan derai tawamu. Namun, mataku menyipit tak nyaman. Hanya bagiku, atau memang tawa itu tidak mengandung ketulusan?
“Yah. Begitulah,” jawabmu sekenanya. “Liburan hanyalah alibi.”
Kukerutkan hidung. Meski kamu tidak menjawab lebih, mampu kutangkap secarik hipotesa. Kemungkinan, meski dibungkus agenda liburan keluarga, orang tuamu masih dililit urusan pekerjaan, seperti yang sudah-sudah. Ternyata memiliki ayah seorang duta besar dan ibu pengusaha berlian, tidak otomatis membuat hidup diluputkan dari keluh-kesah.
“Aku tidak mengerti orang-orang kaya. Untuk apa mencari uang dan ketenaran tapi tidak bisa dinikmati?”
Alih-alih tersinggung dengan cerocosanku, kamu malah bertepuk tangan, mengiringi tawa yang terlepas kembali. “Mungkin pertanyaan ini sama dengan pertanyaanku, ‘Untuk apa membangun gedung tinggi yang penuh hedonitas, jika besok bakal diruntuhkan kiamat?’.”
Aku ikut tertawa dan geleng-geleng kepala, sampai salah satu boks cincin yang tidak muat di genggamanku terlepas hingga menggelinding sampai kakimu.
“Tapi aku menemukan satu fakta lucu.” Senyummu terkembang usai membantuku memungut kotak. Pandanganmu dijatuhkan pada lukisan abstrakku di sudut apartemen, tapi sorotnya seolah menembus jauh ke kedalaman yang tidak terbaca. “Kamu tahu, bangunan yang diklaim sebagai ‘Gedung Tertinggi di Dunia’ itu tidak punya septic tank?”
Kukerjapkan mata. “Hah? Terus, bagaimana mereka … errr … kamu tahu ….”
“Tinjanya? Dipikul truk setiap hari.” Tawamu kembali terlepas bebas. “Mereka berlomba-lomba meninggikan gedung, tapi eek yang keluar dari tubuh mereka sendiri tidak diperhatikan.”
Tawaku turut terlontar untuk kali kesekian. Tak hanya karena banyolanmu terdengar lucu, tapi juga senang. Bukankah dengan kamu tertawa, sekalipun bete, kamu masih mampu menemukan secarik keseruan?
Kamu masih bertahan di petak pribadiku hingga jarum jam jatuh pada angka satu dini hari. Kuajak kamu menginap, tapi kamu menolak. “Aku sudah punya agenda. Omong-omong, entah kenapa setelah pulang dari Dubai, aku merasa seperti eek-nya orang di Burj Khalifa.”
Di sela rasa kantukku, aku bengong. “Hah?”
Namun, kamu malah tertawa dan mengibas tangan, berkata bahwa itu bukan hal yang perlu dipikirkan. Kamu memelukku erat sebelum beranjak menjauh dari pintu. Dan entah kenapa yang kurasakan setelah kepergianmu adalah keheningan.
Mungkin angin malam ingin memintaku melawan arus kantuk demi menawanmu di tempatku hingga pagi menjelang. Biar kabar bahwa kamu menjatuhkan diri dari balkon apartemenmu esok subuhnya, tidak pernah berlangsung dalam sejarah.
Kejatuhan
