Nyala



Prompt: Lilin
Jumlah Kata: 450

DULI MEMATIKAN SAMBUNGAN. Demikianlah balasannya atas permintaan maaf Ria untuk ketiadaan hadiah tahun ini.

Pasalnya, sepertiga gaji telah Ria prioritaskan untuk Lastri. Ibu sahabatnya itu katanya tengah jatuh sakit. Ria hanya melihat urgensi, dan kado ulang tahun bukanlah hal yang begitu penting.

Gerah menyapunya. Padahal AC menyala, dan malam sudah melahap setengah sisi kiri jam. Sejenak Ria ingin terlibat di tepi lalu-lalang jalanan. Mata lelahnya berkedip dan berkelebat mengikuti laju cahaya. Kehampaan menemani di benak, cukup lama, hingga sesuatu merenggut kembali keawasannya.

Ada bocah menjambret tasnya. Ria refleks menyeru, “Copet!”, memaksa kakinya ikut menyusur jalanan.

Bocah itu akhirnya terkejar, berbelok masuk gang aneh yang baru Ria ketahui ada di tengah kota. Remangnya pencahayaan membuat Ria merasa terdampar ke dimensi yang berbeda.

Rupanya sumber remang pada tempat itu adalah lilin. Banyak lilin. Beragam warna, beraneka aroma. Emosi Ria yang terajut sejak berdebat dengan Duli hingga terjambret, perlahan-lahan terbenam.

Bocah penjambret tidak ditemukan di mana-mana. Yang menunggu di sana hanya seorang wanita paruh baya di balik meja. Senyum manisnya merekah pada bibir dengan warna yang tak bisa Ria terka. Entah merah atau cokelat tua.

“Selamat datang. Maafkan Mandu, Nak. Dia memang agak usil.” Tas Ria yang ternyata bertengger di tangannya, diacungkan. “Tidak ada yang tercuri, semuanya aman. Kau bisa memeriksanya.”

Entah apa hubungan anak yang mungkin bernama Mandu dan wanita itu, tapi ucapannya bisa Ria buktikan.

“Saya baru tahu di sini ada toko lilin.”

“Kami baru buka dan tidak berpromosi. Hanya yang diarahkan ke sini yang akan mampir.”

“Sepertinya saya memang diarahkan ke sini.” Meningat insomnia dan kecemasannya yang tak menemui akhir, Ria terkekeh. “Anda punya lilin yang bisa membuat relaks?”

Wanita itu memandang Ria lekat. Seolah mencoba untuk membaca sesuatu yang tertulis tak kasatmata di wajah Ria. Perlahan, kepalanya menggeleng.

“Tidak-tidak-tidak. Kamu memerlukan sesuatu yang berbeda.”

Tangannya meraih sekemasan lilin berwarna ungu, menyodorkan itu pada Ria.

“Untuk membuka pintumu. Bisa dinyalakan sebagai teman tidur. Ini gratis. Anggap saja kompensasi sebagai korban Mandu.”

Ria keluar dengan kerumunan pertanyaan yang anehnya tidak bisa tersuarakan. Namun, arloji di tangan segera melungsurkan perasaan ganjil. Ria berdecak. Betapa lekas waktu berlari tanpa disadari. Malam nyaris berjumpa dini hari. Baru dirasakannya nyeri kaki akibat berderap dalam pantofel ber-hak tadi.

Malam itu, nyala api lilin ungu menjadi temannya ke alam mimpi. Aroma lavender seolah menjadi akselerator bagi kantuk dan kedamaiannya.

Akan tetapi, begitu pagi tiba dan Ria terjaga, kehidupannya berubah aneh.

Panggilan video yang datang dari Duli justru menampakkan seekor buaya yang berbicara bahasa manusia. Ria refleks menjerit, menjatuhkan ponselnya. Lirikannya tak sengaja menyapu nakas. Pada potret dirinya dan Lastri, kepala Lastri yang terbelah dua, dengan satu wajah yang memancarkan kebencian .

Dan, ketika Ria berjumpa refleksinya dalam cermin, dilihatnya sebatang lilin, yang perlahan-lahan melahap diri sendiri.

Tinggalkan komentar