Sendirian

Prompt: Ular
Jumlah Kata: 355

SEEKOR ULAR MENEROBOS masuk liang telingaku. Dari mulutnya yang berbisa, terbisikkan seuntai kalimat, “Petiklah buah pohon itu”. Dan, aku memetiknya.

Pohon itu berduri dan buahnya pahit. Darah yang terlukis di jemariku membukakan sebuah pintu kesadaran dalam akal. Dari sana, termuntahkanlah kegelapan berkatnya. Sewaktu kucoba meludahkan daging buahnya, segalanya sudah terlambat. Seratnya kadung menelusup masuk melalui sela-sela gigi. Berbaur, bercampur, beraduk-adukkan dengan salivaku, bahkan menjadi pita suaraku sendiri.

Ular itu menggantikan lidahku dengan ekornya, yang gesit menabuh genderang dari kulit-kulit manusia hidup. Takkan puas ia, sampai mereka merah dan marah, mengaduh atau minta ampun, akibat direbaki murka ataupun luka pada setiap sudut yang dijamahnya. Tidak ia berikan seujung kuku pun rasa iba.

Bosan merasuki lidah, sang ular mulai serakah. Ia menerobos masuk ke liang senggamaku. Lidahnya mengaduk-aduk kewarasan, merenggut segenap sadar, hingga yang mampu kulontarkan hanyalah lenguh dan desah. Yang kutahu, saat itu hanya ada gelenyar nikmat sekaligus hasrat yang menggebu-gebu. Aku mencelat melintasi langit kelabu, hingga diperjumpakan pada tepi surga yang tabu.

Di sanalah aku melihat Adam dan Hawa, yang merdeka dari cengkeraman klaim agama dan imam mana pun. Mereka berderap telanjang, melangkahi bibir sungai nan jernih, yang beralih suram karena ternodai langkah manusia berdosa. Kengerian berpancaran dari wajah mereka, sebab di belakang sana, kemurkaan Ilahi mengejar-ngejar bagai pemburu. Bersiap menerjang siapa pun, yang ketahuan merabai apa yang belum atau tidak seharusnya mereka jamah.

Lalu kutemukan bahwa akulah Hawa. Kelelahannya adalah kelelahanku, kakinya yang terantuk pada bebatuan adalah kakiku, tubuhnya yang didorong jatuh dari Taman Eden adalah tubuhku. Perbedaannya, aku dipautkan dari Adam-ku, kian lama kian jauh, semakin jauh …

Hingga, aku kembali pada keterjagaan dari sakau dan silau akan kenikmatan semu. Dikurung petak kubusku sendiri yang gulita, seolah malam adalah sepanjang hari.

Satu-satunya sinar ada di bawahku. Aku tergolek di atas pembaringan, yang terbakar bara tanpa pernah padam lagi. Dengan desah dan lenguh yang masih tersisa, aku meraba-raba lidah dan bagian bawah tubuhku sendiri. Tidak ada ular di mana-mana. Ia telah lama kabur, membiarkanku menanggung segenap sanksi.

Seharusnya aku tidak memetiki buah itu. Seharusnya aku tidak membiarkan ular itu menguasai tubuhku. Namun, segalanya telah telanjur. Ular kabur, sedang diriku terkubur dalam pemanggangan ini. Sendirian.

Tinggalkan komentar