Prompt: Yoga
Jumlah Kata: 404
“PERMISI, APA KELAS yoganya sudah dimulai?”
Wanita itu baru saja menyalakan lilin. Akan tetapi, saya merangsek masuk ruangan. Lantas berdiri canggung tepat di hadapannya yang bahkan belum sempat menyahut. Barangkali kehadiran saya yang terlalu awal mengejutkannya.
Ia akhirnya menjawab, “Belum. Silakan. Tapi, saya belum sempat membentang matras—”
“Saya bantu!” sela saya seketika. “Saya bisa—melakukan apa saja sebelum kelas dimulai.”
Alisnya sempat terangkat. Namun, ia tersenyum tenang, kepala mengangguk, langkahnya terkayuh dengan isyarat agar saya mengikutinya. Syukurlah. Saya hanya perlu kesibukan sebelum mendapatkan yang saya inginkan, dan ia memberinya.
“Saya baru melihatmu. Baru bergabung?” tanyanya kemudian.
Saya mengangguk. Beberapa bulan belakangan satu demi satu pecahan jiwa saya retak, pecah, dan hilang. Satu jatuh di dalam kuburan bersama meninggalnya Ayah. Dua dibawa Ibu yang memilih berkeluarga dengan selingkuhannya. Tiga, lowong karena saya gagal masuk universitas. Empat rompal bersama minimarket tempat saya bekerja paruh waktu yang dibubarkan pemilik karena mau pindah ke luar kota.
“Katanya Yoga bisa mencari jiwa saya yang hilang. Saya sedang tidak ingin berpikir, hanya ingin mengisi kehilangan dengan bergerak.”
“Bukan seperti itu cara main Yoga,” katanya. Nadanya sehalus sapuan angin, tapi berhasil merajut kerut di kening saya.
“Bagaimana, Kak?”
Wanita itu tersenyum, tapi tidak bicara lagi. Mungkin karena sudah ada beberapa murid lain yang berdatangan dan mendekatinya, bagai adegan di mana helai-helai jarum yang ditarik oleh magnet mengalami perlambatan.
Kami disuruhnya duduk di atas matras. Saya sendiri menempati tepi, penasaran, gugup sekaligus tertarik. Wanita itu, yang mereka sebut ‘Guru’, akhirnya mulai menutur sambil berlalu-lalang perlahan.
“Ada beberapa poin yang menjadikan Yoga sebagai Yoga. Yang pertama adalah olah postur atau ‘Asana’. Yang kedua, olah napas atau ‘Pranayama’. Yang ketiga, olah pikiran, atau ‘Dhyana’.”
Langkahnya berhenti di sisi saya. Saya mengangkat wajah, dan ia tersenyum. “Tapi hari ini, saya lihat teman kita jauh lebih memerlukan meditasi sebagai ladang mengenal. Mengenal kita, mengenal Yoga, dan mengenal dirinya sendiri. Bagaimana, Teman-teman?”
Saya kebingungan ketika teman-teman lain menolehi saya, dan tersenyum. Serempak mereka mengangguk. Hingga Guru kembali ke depan, membawa serta atensi bersamanya kala ia duduk dengan punggung lurus dan pose lotus.
Entah bagaimana caranya. Namun, saran Guru ketika kami dititahkannya duduk sepertinya, memejamkan mata, dan tidak memikirkan apa-apa, tetap saya praktekkan juga. Gerakan mereka hanya saya mimikri sebagaimana orang baru biasanya.
Hingga, ketiadaan apa-apa yang tertangkap penglihatan selain kegelapan, suara guru yang seperti embusan angin, bau dupa yang mengkhidmatkan diri, serta keheningan di dalam ruangan lengang itu, entah mengapa memperjumpakan saya pada serakan kepingan diri yang terlontar.
Dhyana
