Halusinasi

Prompt: Blackmail
Jumlah Kata: 450

“SESEORANG MENGANCAMKU. Apa yang harus aku lakukan?”

Setelah diteror telepon tak terlacak, aku menuang keluhan dalam postingan anonim di hari kedua.

Telepon itu mampir tengah malam. Akan kuanggap itu hanya panggilan iseng atau orang haus perhatian semata, yang bertekad menjadi pengusik lelap orang random.

Namun, saat bunyi suaranya tertangkap rungu sebagai, ‘Aku tahu kejelekanmu, meski tak ada yang tahu’, kuyakin ini ancaman.

Cerita ini tidak bisa kutahan sendirian. Aku jadi khawatir tidur, tidak fokus bekerja, dan malah berkeinginan mematikan ponselku selamanya. Kuperlukan setidaknya secuil saran untuk menanggulangi ini agar bisa tidur dan terjaga dalam ketenangan seperti hari-hari biasanya.

Akan tetapi, saran yang mereka berikan membuatku mengerutkan kening. Melapor polisi bukan solusi yang bisa kuandalkan. Tidak, mengingat peristiwa 13 Juni bukanlah sesuatu yang bisa diadukan. Maka kuputuskan saran dari dunia maya yang dipenuhi orang-orang asing, tak seharusnya kudengarkan.

Di hari ketiga, teror hidupku naik tingkatan. Aku merasa seolah-olah dibuntuti sepulang kerja. Sepasang mata mengawasi punggungku saat melewati gang pada malam hari. Langkah kakinya mengikuti langkahku, gerakannya mengikuti segenap pergerakanku. Derap langkahnya seirama dengan milikku.

Kulemparkan kaleng kopiku sembarangan ke balik punggung. Aku lari terbirit, sampai tidak mendengar suara kelontangan kalengku sendiri.

Pada akhirnya, aku mengganti password pintuku. Itu keputusanku di hari keempat. Sebab kutemukan secarik kertas, surat kaleng yang sesungguhnya, di atas mejaku begitu bangun tidur. Tulisannya: “Pembunuh!”

Kubakar surat itu hingga menjelma abu.

“Kenapa tidak kau laporkan pada polisi?”

Pertanyaan Bina saat aku mengadu paginya tanpa mengungkap isi surat, kusambut gelengan jengah. “Tak pernah ada bukti. Aku langsung memghapus begitu menemukannya.”

Bina menatapku lewat bulu matanya yang tebal, kemudian mendesah. Sekalinya kembali bersuara, ia menyarankan, “Malam ini biarkan aku menginap di tempatmu. Mungkin kalau punya teman, kamu akan merasa aman.”

Tawaran itu kuterima. Bina menemaniku pulang. Berkatnya, aku tidak merasakan dibuntuti. Password flat-ku tidak perlu kuulangi berkali-kali sampai ngadat hingga harus kuatur ulang. Kami masuk, ia membersamaiku sampai kami terlelap.

Paginya, ia terbangun saat aku menjerit. Terbata dari rasa kantuknya, dihampirinya aku yang begitu bernafsu menyobek lembaran plastik bertulisan tinta spidol permanen. Tentu lembaran itu tidak sobek, hanya lecek, sedang aku menangis tersedu memohon ampun.

Bina membelalak saat melihat tulisan itu. “Tanggal 13 Juni, kau membunuh Lin. Mendorongnya jatuh dari gedung itu.”

“Bukannya Lin bunuh diri? Dan saat itu, kamu ada bersama kami di lantai dasar.” Bina memelukku, menenangkanku. “Tenang, aku sudah menyiapkan ini.”

Ketika Bina mengulurkan tangan, ia menurunkan kamera yang ternyata dipajangnya semalaman.

Yang mengejutkanku kemudian adalah: tidak ada siapa pun yang datang berkunjung atau menyusup ke dalam kamarku. Hanya ada Bina yang terlelap, beserta diriku sendiri yang terbangun dalam temaram, dan menuliskan ancaman itu pada diriku sendiri sebelum kembali tidur.

Mungkin aku terbebani oleh kata-kataku pada Lin yang menyuruhnya mati saja, sebelum ia memutuskan benar-benar mengakhiri hidupnya.

Tinggalkan komentar