Diamond

Prompt: Idol + Tantangan: Genre Thriller
Jumlah Kata: 450

TERKUTUKLAH FANS SEUMURAN jagung! Sudah terkuras emosiku memerangi pembenci yang menuduh Chouzou sebagai grup musik pemuja setan. Haruskah kuperangi pula kubu sendiri, lantaran muntahan pendapat mereka bahwa para Chaosis—penggemar Chouzou—lama, didominasi hikkikomori?

Baik fans norak yang baru menggilai Chouzou, atau para pembenci, di mataku sama saja busuknya.

Kututup komputer setelah membalaskan murka lewat ketikan yang terkesan tak beradab. Padamnya sinar sempat membuat mataku kesulitan berakomodasi. Untunglah ada lelampu hias yang meliliti foto-foto Chouzou di dinding.

Media seluncuranku berpindah pada ponsel yang masih mengalunkan lagu-lagu lama Chouzou. Pose dan lokasi fangirling-anku tak lagi duduk di kursi, melainkan menengkurapi ranjang nan dingin. Hari libur di mana tak ada segunung nama obat yang kupelototi, harus kupuas-puasi dengan memanjakan minat sendiri.

Suatu anomali, bel flatku berdenting. Para tetangga selalu tahu aku tak pernah suka terima tamu. Walau kesal, kubuka pintu sedikit. Mataku menyipit lantaran siluet di sana tampak kontras dengan cahaya matahari di balik punggungnya.

“Halo, aku Liem, penghuni baru kamar tiga. Kebetulan aku membuat pancake. Anggap saja salam perkenalan.”

Kamar kosong itu ternyata sudah berpenghuni. Gaya SKSD begini tidak pernah kusukai. Kubalas tak acuh, “Salam kenal,” sambil menutup pintu tanpa sudi melirik kue yang dibawanya.

Tetangga baruku mencegah dengan menjejalkan kakinya pada bukaan pintu. Sepertinya ia mendengar selusup lagu dari ponselku. “Bukankah itu lagu Chouzou?” Dengan tidak sopan, ia melongok, mengintipi dinding kamarku yang dipenuhi foto juga poster. “Wah! Foto Chouzou!”

Aku berada di antara keinginan mengumpat tapi juga senang dengan kehadiran Chaosis di lingkunganku. Ternyata opsi kedualah yang mendominasi. Genggaman pintuku merenggang. “Suka Chouzou juga?”

Kemudian, kami berakhir di dalam apartemenku yang jarang terbuka untuk orang asing. Pancake-nya terpaksa kuterima. Ia sibuk meneliti pernak-pernik Chaosis-ku saat kusiapkan minum.

“Lagu favoritmu apa?” Suaranya terdengar.

Tanpa berpikir, kusahuti, “The Rock. Lagu debut mereka. Aku sudah menyukai mereka sejak masih berwujud band Indie.”

“Wah, senior! Aku sukanya Diamond. Diamond yang membuatku menyukai Chouzou.”

Gerakanku terhenti.

Meski aku Chaosis, Diamond bukanlah cangkir tehku. Dan, meski lagu itulah yang menjadikan Chouzou terkenal karena dinaungi agensi besar sekelas Megaloma, Diamond bukan identitas Chouzou. Dalam Diamond, lirik lagu Chouzou yang khas menyuarakan kebebasan dan pemberontakan, malah bertransformasi menjadi, ‘tangan kakiku terpasung, dikikir dan digergaji agar lebih berharga. Ini sakit tapi aku akan jadi lebih istimewa’.

Tidak kuterima orang yang menyukai Chouzou karena Diamond, apalagi mengaku sebagai Chaosis. Orang ini salah satu gerombolan fans seumur jagung yang kubenci.

Saat aku kembali membawa nampan minuman beserta pancake buatannya, teman baruku sedang merabai foto Chouji-ku yang berharga. Kuundang ia minum sebelum aku makin tersulut emosi.

“Lagu Diam—” kata-katanya berhenti, tangannya merayapi leher. Sianida yang kususup dari klinik tempatku bekerja, dan semula kuniatkan untuk bunuh diri, sepertinya sudah mulai beroperasi.

Kuangkat pisauku. Bersiap ‘mengikir dan menggergaji’nya sebagaimana lagu yang ia sukai.

Tinggalkan komentar