Prompt: Femme Fatale
Jumlah Kata: 444
HARI-HARI PRATIWI SEPANJANG hari kerja tak pernah absen dari kericuhan.
Aurelia, anak pertama. Selalu pusing mencari sepatu sekolah. Benicia, anak kedua. Harus diceboki karena selalu buang air sebelum berangkat ke taman kanak-kanak. Cicilia, anak ketiga. Didandani bersih dan wangi untuk dititipkan ke penitipan anak. Herman, suaminya, tidak bisa memasang dasi.
Pratiwi sendiri sudah bangun sebelum matahari memunculkan diri. Memasak, membereskan rumah, tahu-tahu langit telah benderang dan ia harus membangunkan empat jiwa dari lelap yang melenakan. Sudah begitu, pukul delapan pagi dirinya mestilah rapi. Perjalanan menuju kantor tempatnya bekerja akan ditempuhi sejam lamanya jika mengalkulasi kemungkinan terjeda kemacetan. Kadang-kadang baru bisa memoles wajah dan menyisir rambut di perjalanan. Di momen yang lebih jarang, Pratiwi baru bisa berdandan saat sudah duduk di kubikel kerjanya. Itu pun diiringi lirikan sinis dari bosnya yang agak kolot dan misoginis.
Pekerjaannya di sebuah kantor cabang bank swasta diusahakan kelar sebelum azan magrib berkumandang. Di sela-selanya, Pratiwi menjemput putri-putrinya dari sekolah ke rumah saat makan siang. Ia ingin punya asisten rumah tangga, tapi Herman selalu menolak dengan alasan pengiritan.
“Kamu kan masih bisa melakukannya sendiri, kenapa harus pakai orang lain?”
Padahal Pratiwi tidak berkeberatan jika gajinya yang dipakai membayar asisten rumah tangga, asalkan kehidupannya tidak ngos-ngosan.
Makanya Pratiwi selalu suka akhir pekan. Momen di mana ia bisa me time-an. Anak-anaknya akan diajak Herman berjalan-jalan, dan Pratiwi bisa mencuci pakaian, membuang tumpukan sampah, menyingkirkan debu dan laba-laba, mengkinclongkan lantai, dan tidur beberapa jam sebelum dibebani keharusan memesan makan siang.
“Aku bosan lho, makan siangku nggak ada bedanya sama weekdays.”
Pratiwi hanya bisa membuang napas saat Herman mengeluh. Padahal segini saja ia sudah lelah. Namun, istri berbakti tidak boleh membaah. Maka Pratiwi usahakan memasak dengan memundurkan jam tidurnya.
Dengan merelakan kehidupan sosial selain lingkungan kerja dan keluarga, dipikirnya, segala hal bakalan baik-baik saja. Hingga ketika Herman ketahuan selingkuh dan membawa selingkuhannya ke depan matanya, Pratiwi pikir ia masih bermimpi. Ia juga tak menyangka, ‘jalan-jalan’ yang dilakukan suami dan anak-anaknya adalah jalan Herman mendekatkan mereka pada sang calon ibu baru.
Herman memberi pilihan. Merelakan dimadu, atau keluar dan berpisah dari anak-anak. Pratiwi mencebik. Di usia tiga puluh empat, ia memutuskan jadi janda. Ia memilih keluar dari rumah tanpa membawa apa-apa selain harta pribadinya, daripada harus diduakan dengan orang lain.
“Semoga ibu baru kalian—istri barumu, bisa mencari sepatu sekolah, mencebokimu, mendandanimu, mencarikan letak dasimu,” ucapnya dingin, sebelum melangkahkan kaki dan tak kembali lagi.
Beberapa bulan setelah perceraian, ia mendapat telepon. Suaminya menangis dan mengeluh hingga mengajak rujuk. Anak-anaknya rindu masakannya dan mengadu bahwa mereka disiksa. Seharusnya Pratiwi punya rasa iba dan keibuan, tapi, ia telah menyingkirkannya bersamaan dengan momen keluar dari rumah mereka. Tiada yang lebih laik untuk membalaskan pengkhianatan, selain pengabaian dan ketidakpedulian.
Pratiwi
