Keloid

Prompt: Stoking
Jumlah Kata: 449



BEKAS LUKA MENONJOL YANG kudapatkan akibat terserempet motor asing dua bulan lalu, masih saja bersisa. Dan kelihatannya, ia tetap akan bercokol di sana dalam waktu lama. Mungkin diperlukan masa bertahun-tahun untuk memudarkannya.

Padahal telah kucoba berbagai macam solusi: konsultasi dokter kulit, mengolesi salep nan mahal secara teratur, bahkan pengobatan alternatif lain. Akan tetapi, hasilnya tidak seberapa signifikan.

Kalau seperti ini terus sampai pengumuman kelulusan sekolah tiba, dengan berat hati harus kubatalkan rencana jangka panjang untuk mendaftar akademi kepolisian tahun ini. Ibu telah kubuat berdecak kecewa karena tak bisa meneruskan jejak mendiang Ayah. Apakah ada cita-cita yang bisa kutarik sebagai substituennya dalam waktu dekat?

Lamunan beserta langkah gontaiku malam itu lantas dihentikan oleh sebuah pekikan lemah. Baru saja seorang pengendara motor nyaris menyerempeti seorang nenek yang hendak menyeberang jalanan. Aku menyeru, memaki pengendara idiot itu, mendoakannya agar jatuh mencium aspal. Tumpah sudah emosi dan kesumatku pada setan-setan bermotor dengan kelakuan serupa. Sumpah, deh, ada apa sih, dengan orang-orang berkendaraan di masa kini? Kalau aku bisa jadi polisi lalu lintas, akan kutilang motornya tanpa sedikit pun toleransi.

Kuhampiri si nenek, bertanya apa ia baik-baik saja. Pertanyaanku dibalas anggukan dan senyuman lemah. Sebagai gantinya, aku menawarkan bantuan penyeberangan. Ini memang bukan jalan raya yang memerlukan jalur khusus untuk menyeberang. Begitu kendaraan tak tertangkap mata, saatnya bagi pejalan kaki untuk melanggari sisi jalan ini.

Ia melafalkan terima kasih begitu kami tiba di seberang jalanan dengan aman. Tatapannya jatuh pada keloid yang menyembul dari balik rok plisket yang kukenakan. Refleks kurapatkan dan kumundurkan kaki. Kepercayaan diriku menciut, insekuritasku mencuat. Kendati kuragu si nenek bisa melihatnya di tengah remang lampu jalan.

Tahu-tahu, ia sodorkan sekantung kresek dari bawaannya untukku. “Ini tanda terima kasihku untukmu, Nak.”

Tadinya aku menolak, tapi ia memaksa serta buru-buru beranjak. Curiga bahwa yang kuterima ini benda aneh, langsung kuperiksa di tempat. Rupanya benda itu sepasang stoking berwarna kulit. Hendak kukembalikan pada sang nenek karena berpikir benda ini tak akan kugunakan, tapi yang menyapaku di balik punggung hanyalah kelengangan.

Untuk ukuran orang tua yang kesulitan berjalan, nenek itu cepat sekali menghilangnya.

Aku pun memutuskan pulang. Esok hari, selepas mandi, terbitlah keinginanku mencobai benda pemberian si nenek asing. Kukenakan sepasang stoking itu. Tepat saat mulut stoking melahap kaki kiriku dengan mantap, sesuatu yang aneh tiba-tiba terjadi. Aku terlihat tak mengenakan stoking sama sekali—benda itu menyatu dengan kulitku sendiri!

Kucubit paha dan betisku yang mendadak tak diselaputi apa-apa. Kukucek mata guna memastikan. Kutepuk pipi berkali-kali dengan dugaan ini hanya sisa-sisa mimpi.

Berdetik-detik waktu berlalu, hingga aku menjerit kesenangan. Dengan benda ajaib tadi, keloidku yang menyebalkan telah benar-benar musnah.

Mendengar jeritanku, Ibu sampai terbirit ke kamar. Kuumumkan padanya kabar baik ini, tapi Ibu malah mengerutkan kening.

“Bekas luka? Sejak kapan kau punya bekas luka?”

Tinggalkan komentar