Prompt: Krisan
Jumlah Kata: 450
ADIKNYA GEMAR MENAPAKKAN kaki di sepenjuru pelosok negeri, dalam penjelajahan dan perburuan berseri. Sementara Putri Chrysanthemum, lebih suka membunuh waktu dengan menyambangi rumah bunga sendirian. Membiarkan tubuhnya dikerubuti wangi aneka flora, bermandikan cahaya matahari yang menyusup lewat sela-sela dedaun rindang.
Benarlah kata pemerhati kerajaan. Kedua putri itu, meski kembar, memiliki sisi elemen tanah yang berbeda. Sisi elemen inilah yang dipercaya membentuk kepribadian yang saling bertolak: satunya kering juga keras, sisanya sejuk serta halus budi.
Keduanya sendiri tetap percaya bahwa diri mereka adalah sepaket pilinan jiwa. Ditakdirkan utuh untuk saling berbagi sayang. Maka, Chrys selalu suka momen kala ujung jarinya dikecup kelopak bunga Daisy, mengingat Daisy adalah nama adiknya. Sementara Putri Daisy, tak pernah kembali dari perburuan liarnya tanpa membawakan sang kakak akar bunga krisan yang dipikirnya langka.
“Sudah kumiliki varian warna ini, Daisy.”
Daisy menampakkan deret giginya yang bersih. Mau bagaimana lagi. Ia selalu terpesona melihat bunga krisan. Kecantikan sang bunga mengingatkan ia pada kakaknya.
Dalihnya, “Akar yang itu belum kau miliki, Kak. Sekalipun berasal dari spesies serupa, setiap kuntum bunga tetap berbeda. Yah, walau tiga aku pun kalau digabungkan, tak cukup untuk menandingi satu Kakak.”
Chrys hanya mampu mendesahkan napas geli setiap adiknya bicara demikian.
Andai saja tak ada ramalan itu. Andai saja tak pernah ada bakal penyerangan dari negeri seberang itu. Mungkin, persaudaraan dan kasih sayang kedua putri seabadi matahari. Mungkin, Chrys akan naik takhta dan Daisy bertindak sebagai putri yang melindungi kakaknya, sebagaimana yang sering dicita-citakan sang bungsu selama ini.
‘Jika bintang telah jatuh, salah satu dari dua bunga bintang haruslah dikorbankan.’
Ramalan itu memang telah terplakat sejak tahun seratus satu kerajaan Astravia berdiri, jauh sebelum kedua putri lahir. Hanya baru tiga abad kemudian, ia kembali diungkit oleh para penafsir nubuat kuno. Mereka yang melihat kondisi masa kini di mana bakal penguasa Astravia datang dalam wujud putri kembar dan bersaling silang dengan adanya ancaman penyerangan kerajaan seberang, menuntut Raja untuk memilih, siapa dari kedua putri, yang nyawanya harus dipulangkan.
“Biar kurobek mulut—”
Sentuhan Chrys pada pundak Daisy begitu halus, tapi mampu meredam kemurkaan si putri bungsu.
“Tidak apa-apa, Baginda. Biarkan saya, yang dikorbankan.” Suara Chrys tak tergoyahkan.
Daisy membantah. Tak ia terima kepatuhan kakaknya pada ramalan kuno yang dirasanya konyol itu. Akan tetapi, tekad Chrys tak bisa digugat lagi.
Kala sinar mentari kembali bertandang, bias-biasnya yang menembusi sela dedaunan menyirami jasad Putri Chrys seperti biasa. Namun, kali ini, putri sulung ditemukan telah menutup mata selamanya dalam dekapan damai di rumah bunga. Cangkir porselen berisi teh krisan yang dicampuri racun tergolek di bawah dipan. Sedang dalam peluknya, merebah bersama sang putri: tiga kuncup krisan putih dan sekuntum daisy.
Menjumpai sang kakak dalam kondisi demikian, citra kepribadian Putri Daisy yang kering dan panas pun tergusur; terguyur oleh basah air matanya.
Astereceae

Sedih banget akhir ceritanya 😿
SukaDisukai oleh 1 orang
Terima kasih sudah mampir, ya
SukaDisukai oleh 1 orang