Prompt: Survivor
Jumlah Kata: 449
BU, TITIKMU ADALAH TITIKKU. Dua dekade aku bangun dan tidur bersamamu. Pagi-petang, malam-siang, gelap-terang, kusaksikan rautmu, tubuh kurusmu, tanpa menghitung, berapa guratan usia yang bertambah di sana. Hingga hari ini, aku hampa sebab kau tak kutemui di sudut yang biasanya, kecuali jejak aromamu, yang bersisa di udara.
Bu, kupikir, matahari tengah mengantarmu sejenak. Kupikir bisa kuhalau dingin ini sementara, dengan bergelung di bawah selimutmu. Nyatanya, saat pagi datang, pandanganku masih saja gulita. Orang-orang lain telah beranjak, sementara aku masih dipeluk hampa. Matahari bukannya sedang mengiringimu ke sana, Bu. Mungkin kaulah matahari itu sendiri dalam hidupku.
Bu, kehampaan ini semakin menggigit. Aku seolah berada di ruang vakum begitu disodori banyak sekali hal-hal baru yang harus kulalui tanpamu. Bagaimana caranya menawar tukang sayur? Bagaimana caranya menegur tetangga? Bagaimana caranya mencuci selimut? Bagaimana caranya menanak nasi jika listrik padam?
Bu, bagaimana? Selama ini, kita hidup sambil berbagi tugas tanpa menyatakannya secara gamblang. Kau dan urusan kehidupan, akulah yang mencari uang. Semenjak kau pergi, segala-galanya harus kupikul seorang diri. Sebentar lagi, mungkin aku terjatuh di tengah jalanku tanpa seorang pun peduli. Sebab kau; satu-satunya yang memedulikanku, justru telah mendahuluiku lebih dini.
Bu, kupikir aku tak sanggup. Dunia menjelma lorong gulita yang sempit dan pengap. Bumiku tanpamu adalah Pluto: kerdil, dingin, dijauhkan dari sang bintang, dan terbuang dari sorotan. Semua orang berkumpul sementara aku teronggok di tepi kehidupan. Kini aku kesulitan berjalan normal, tidur nyaman, bahkan bernapas seperti manusia pada umumnya. Apa kususul saja engkau, Bu? Biar aku bisa menemanimu, dan kautemani aku, seperti kita yang biasa; sebelum titikmu datang?
Bu, kaukah itu? Kaukah yang datang dari balik kabut, meletakkan lentera di tanganku?
“Bu?”
“Nak, jalanilah hidup dan yakinilah kau sanggup. Percayalah pada Kehidupan sebelum Kematian mengambil alih.”
“Bu?”
Mengapa tak kau katakan seuntai kalimat lebih panjang? Mengapa tak kau dekap aku erat-erat? Mengapa kau lantas pergi tanpa bisa kutatap lekat-lekat? Mengapa kau pergi lagi begitu cepat?
“Bu?”
Aku membuka mata. Di sisiku, dua orang asing memandangku dengan sorot lega. Lentera di tanganku hilang, yang tersisa hanyalah perban yang meliliti nadi. Bu, bisakah aku kembali terlelap, menjalani hidup di alam mimpi semata, di mana engkau bisa kembali kuhadirkan di depan mata, sekalipun maya?
“Apa yang kaulakukan, Nak? Kau sudah gila?”
Mataku kembali terpaksa dibuka. Kupikir itu kau, Bu. Nyatanya itu Tante; adikmu, yang ada di sana. Adikmu yang mirip engkau, hanya saja kini telah menjalani hidup yang berbeda dengan kita.
“Apa yang kaupikirkan? Kenapa kau meminum obat sebanyak itu? Kenapa kau mengiris nadimu?”
Bu, aku membuat adikmu menangis. Apakah kau akan ikut menangis?
“Sudah cukup aku ditinggal Ibumu, jangan kau ikutan pergi juga.”
Bu, Tante menggenggam tanganku, sama seperti caramu menggenggam tanganku dalam mimpi sebelumnya. Apakah ia, lentera yang kau titipkan dalam genggamanku semalam itu?
