R(s)akit

Prompt: Kapal
Jumlah Kata: 315 kata (pemenuhan tantangan)



JARUM-JARUM AIR MENGHUJANIMU dengan rasa sakit.

Saat terjaga, angin dan hujan tengah berkawinan. Lekas kau eratkan pegangan pada dasar hidupmu; rakit rumpang tanpa awak, nihil kubah pun dinding pelindung.

Satu-satunya yang bisa kau perjuangkan hanyalah mengapung di samudera lepas. Selebihnya, kau pasrahkan pada pusaran mata angin, hendak dibawa ke mana dirimu pergi.

Kita memang tak diperkenankan memilih akan dihidupkan sebagai siapa. Namun, begitu badai akhirnya reda, dan kau diperjumpakan pada dunia yang lebih luas, timbullah kesumatmu pada Semesta.

Sebab kini kau saksikan berbagai macam kapal mengaduk lautan. Kini kau saksikan benar betapa dirimu hanya sesosok pecundang di mata Kehidupan.

Pertanyaan meloncat dari benakmu dan mengacaukan kewarasan: “Mengapa saat kau berpontang-panting agar tidak karam, seseorang lain malah diberi kesempatan menikmati jus di atas kapal pesiar nan indah?”

Mereka pasti tidak pernah merasakan bagaimana kulit mereka dirobek jejarum badai. Atau dipaksa menua lebih cepat lantaran diterpa terik mentari juga asinnya percik air laut. Di sana, mereka bebas melakukan apa saja, sementara kau dipecut, diharuskan berusaha keras menjaga keseimbangan, agar tak jatuh dalam lautan kepayahan.

Lidah kemarahan membisikimu agar lupa. Lupakan semangat untuk sampai pada dermaga dengan selamat. Lupakan niat mulia memperjuangkan pelayaran.

Satu-satunya yang tayang di pelupukmu kini adalah menenggelamkan diri dalam lautan dalam. Selebihnya, kau pasrahkan pada pusaran air yang mencuri napasmu, hendak ke mana kau dibawa pergi.

Biar runtuhlah segenap sakit. Biar musnahlah penderitaan ini.

Angin kembali membawamu melaju, menjauh, makin jauh dari orang-orang berkapal yang kau temui. Dalam kesendirian di tengah lautan, kau kumpulkan tekad dari sepenjuru mata angin untuk meloncat.

Akan tetapi, berikutnya kau jatuh terduduk dan larut dalam isak tangis. Bukan karena rasa takut akan kegelapan dan lidah ombak yang bersiap menelanmu ke dasar yang tak terjamah, melainkan tarian lumba-lumba.

Dua ekor lumba-lumba tampak di kejauhan, meloncat dan meliukkan badan. Udara dan permukaan air beriak bersamaan, membuatmu tergugu.

Bisakah kau menyaksikan keindahan ini lagi di kemudian hari, jika menenggelamkan dirimu hari ini?

Tinggalkan komentar