Invasi

Prompt: Generalissimo
Jumlah Kata: 450

JIKA MEMUNDURKAN INGATAN dan menggunakan pengetahuannya, Regina merasa bisa menduga masa depan.

Lusinan dongeng pengantar tidur yang sering dibacakan Bunda, serta cerita modern dan opera sabun murahan yang ia curi lihat tiap Bunda memirsanya, telah menyatakan simulasi dan pesan moral serupa.

Bunyinya: jangan pernah memercayakan takhta keratuan rumah tangga pada sosok baru, kecuali kau ingin mendatangkan apokalips bagi penghuni rumah.

Teman-teman sekolah pun menyarankan Regs untuk menolak. Kata mereka, yang namanya ibu tiri, sudah pasti jahat dan keji.

Bunda memang sudah tiada. Ia menutup mata selamanya setahun lalu. Meleburkan diri bersama nyala lilin, tepat saat malam Paskah yang tak dihadiri Dad, karena kesibukannya di benua seberang.

Akan tetapi, Regs takkan pernah merelakan singgasana Bunda diduduki orang lain. Sampai kapan pun.

Ketika Dad mencetuskan rencana makan malam bersama wanita lain, Regs tahu telah tiba waktunya mengklaim kekuasaan. Karena lebih banyak menghabiskan waktu di luar untuk mendulang uang, Dad takkan pernah menyadari apa-apa yang berlangsung di dalam rumahnya. Sasaran dan saksi dari perubahan rumahnya hanya Regs seorang. Adalah haknya pula untuk turut campur dalam urusan kepenguasaan rumah.

Kepala kecilnya sibuk menyusun siasat. Mulai dari mengajak perang si orang asing, sampai meraung seperti bayi. Sekalipun itu memalukan bagi usia Regs yang sudah memakan semua jari tangannya.

Pukul delapan malam berdentang. Wanita itu datang.

“Regs, ini Lily. Lily, ini Regs. Putriku satu-satunya.”

Regs menggumamkan kata-kata yang didengarnya lewat pertengkaran tetangga, “Pelakor.”

“Jaga mulutmu, Regs,” Dad menggeram.

Teguran Dad sempat membuat Regina mengkerut kecewa. Rupanya, Dad telah terjerumus dalam ketersesatan tak terkira. Namun, bola mata cokelat muda anak itu tidak turut menciut. Meski bibirnya begemeletuk, ia paksakan pelototannya berlari, pada Dad dan sosok penyusup di rumahnya kini.

Wanita asing bernama Lily sepintas tadi tak kalah terkejut. Akan tetapi, bibirnya dengan sigap mengulas senyum aneh. “Halo, Regs.”

Regina mencebik. Daripada memaksakan senyum yang terlihat tak ikhlas, kenapa tak segera saja wanita itu melancarkan hasratnya; hasrat untuk membelah diri Regs menjadi dua belas.

Dad pamit ke belakang demi mendiamkan teleponnya yang menjerit. Regina tahu inilah momen di mana ia harus memainkan bagian tersulit: mematok singgasananya di depan sang penyusup. Menegaskan bahwa, takkan ada celah untuk diisi orang asing.

“Aku tidak menyukaimu. Kalau Dad memintamu menikah, kau bisa menolaknya, karena aku tidak suka punya ibu tiri.”

Dalam pandangan Regs, mendadak mendung melenyapkan cahaya. Langit terasa menggelap. Mata petir memainkan genderang.

Dalam pandangan Regs, Lily, yang rambutnya, bibirnya, bajunya, sepatunya, semerah kobaran api, perlahan menyembulkan tanduk dan taring. Mata hitamnya berangsur ikut memerah. Ekornya terlahir, meliuk-liuk dari balik bokong, mengibas udara bagaikan cambuk.

Dalam pandangan Regs, kejahatan hanya bisa ditaklukkan dengan kebaikan. Ia pun mengubah visualisasi dirinya menjadi bidadari, dilengkapi sayap seputih kapas dan lingkaran halo. Tongkat sihirnya adalah pisau makan yang teracung tegas.

“Menyingkirlah dari hidup Dad-ku, Pelakor!”

Tinggalkan komentar