Meniti

Prompt: Tangga
Jumlah Kata: 372

DI TIKUNGAN KEENAM, aku akan menemui anak tangga pertama.

Demikian kata orang-orang yang lebih tua. Jadi, aku rutin belajar menghitung angka satu sampai enam. Seolah ketumpahan adrenalin, aku memelesati jalanan. Kencangnya derap yang kukayuh membuat orang lain seakan tertinggal. Keberhasilanku meniti tangga lebih duluan dibanding yang lain menuai tumpahan tepuk tangan.

Di tikungan kedua belas, akan aku jumpai anak tangga kedua.

Aku menghitung lebih tinggi dan berlari lebih kencang lagi. Mengejar waktu dibekali idealisme yang makin menggebu-gebu disepuh ambisi. Di sanalah aku kemudian. Berpijak jemawa bercampur bangga. Beberapa selebaran mencelat keluar dari mulut massa: promosi yang menjadikanku role model kesuksesan para ananda. Di samping dadah-dadah, tanganku pun sibuk menengadah dan menangkup di dada; mengumpulkan berkat dari tebaran senyum, tepukan tangan, dan puja-puji yang membuat perut penuh dan hati riuh.

Di tikungan kelima belas, akan kutemui anak tangga ketiga.

Hitunganku terjeda. Lariku mulai lebih lambat karena tiba-tiba perutku merintih. Makanan yang terlahap terlalu banyak untuk ditampung perut labil. Mereka menjelma duri dalam daging, menusuk dari dalam sebagai ekspektasi. ‘Aku harus jadi lebih baik daripada yang dulu’, ujarnya selalu, yang tanpa kuketahui merenggut jatah bermain, huru-hara, serta kartu-kartu sukacita. Namun, satu demi satu, teman-teman yang semula ada di balik punggung mulai menyusul. Aku tidak terima langkahku terkejar.

Di tikungan kedelapan belas, katanya akan kutemui anak tangga keempat.

Akan tetapi, anak tanggaku tidak bercokol di sana. Tidak ada apa-apa di titik semestinya dia ada.

Aku berhenti menghitung. Berhenti memburu dan menjelma penonton perburuan. Lambat-laun, duri yang menusuk dalam dagingku mulai kembali berdenyut samar dan menghasilkan sebentuk prakiraan: sepertinya aku memang sengaja dimuluskan di awal biar di belakang bisa disendatkan. Aku memang sengaja dimajukan lebih awal agar bisa lebih jauh dimundurkan. Sengaja diangkat tinggi, biar lebih sakit sewaktu diempaskan.

Masa melaju, dunia menggebu, dan orang-orang terus berlari meniti anak tangga, tapi aku malah berbaur bersama sampah-sampah dunia. Dalam semesta di mana kestagnanan serta ketertinggalan adalah noda, kemunduran di tengah roda dunia yang terus melaju adalah dosa. Maka izinkan aku meleburkan diri bersama semesta rekaan yang tak seorang pun bisa menerka, tak seorang pun mampu memburuku hanya untuk mencela, sebab sebelum mereka tiba, telah kulontarkan senjata agar mereka tewas seketika.

Tempat itu ada di kepalaku, dunia yang datar dan hitam putih, tanpa ada hitungan atau anak-anak tangga.

Tinggalkan komentar