Kuburan, Zombie, dan Hantu

{ Bagi Luey Hilman • Kuburan, Zombie, dan Hantu • 0 (Ma-H) Celestilla }

Prompt: Crowd Lu – Dream Like Me
Jumlah Kata: 624




AKU MENYIBAK SELIMUT dan yang kudapati adalah gigil yang ganjil.

Padahal ada bau pembakaran dari sisa asap tembakau yang terjebak dalam kamar semalaman.

Siraman mentari musim panas pukul tujuh pagi tidak punya cukup intensitas untuk turut memberiku kehangatan. Siraman air hangat yang kuharap mampu membangkitkan semangat terpendam, justru ikutan mendingin. Sebelum ia luruh dari permukaan kulitku, dan mencium lantai atau menjelma tempiasan.

Mungkin ini disebabkan oleh sepi yang kautinggalkan di belakang bayang-bayang kepergianmu. Ranjangku, tepat di sisi sebelah kiri, yang sampai sepekan lalu masih dijejali hangat kehadiranmu, serta tumpahan panas yang kita habiskan saban malam berlalu, kini menjelma makam tanpa jenazah.

Atau barangkali akulah mayatnya, yang kini harus bangkit lagi dari kuburan yang kaugali, dan menjalani hidup kembali seperti sesosok zombie.

Lihat, kantung mataku yang meski berkali-kali kugosok dengan busa sabun muka, tetap saja tak bisa lenyap dari sana. Atau bibirku yang kupaksa merekahkan perahu untuk membawaku berlayar melewati masa-masa ini dengan baik, tapi kembali mendesak untuk terbalik dan menenggelamkanku dalam kubangan duka.

“Kamu terlihat seperti kotoran.”

Kata-kata Louise, teman kerjaku, untuk kesekian kalinya terdengar. Seperti sebuah ucapan rutin berbunyi ‘selamat pagi’ setiap ritual membereskan barang-barang di etalase yang diberantaki pengunjung pada jadwal jaga petugas sebelumnya. Saking terbiasanya aku pada kalimat demikian sepekan belakangan, kali ini pun hanya kutimpali sekenanya dengan gumaman.

Aku tahu, aku memang kotoran. Untuk hari ini, aku adalah kotorannya kotoran.

Suara desahan Louise menyahut setelahnya. Mungkin karena ledekannya yang selalu dianggap sebagai tanda kedekatan kami, tidak menuai respons yang diinginkan. Akan tetapi, sebelum dia mengeluarkan khotbah—yang tidak pernah kubutuhkan, tentang laki-laki yang seharusnya menyakiti dan bukannya tersakiti, atau menceramahiku untuk lekas bangkit mencari penggantimu usai kamu mencampakkanku—mulutnya lekas kubekap dengan satu kalimat:

“Mereka akan menikah besok.”

Bola mata Louise melebar. “Apa? Wah, perempuan kurang ajar—”

Kupindahkan beberapa kemasan mi gelas dari keranjang ke atas rak, sambil berkata tanpa intonasi, “Dia sudah hamil. Anak laki-laki itu.”

Jelas saja Louise semakin syok. Bola matanya terasa hendak menggelinding keluar dari kedua rongganya.

Berita ini pula yang membuatku kembali—dan malah semakin—terpuruk dalam kegamangan. Padahal, kemarin sore sudah mulai kuterbitkan hilal untuk mendapatkan kembali hidupku sendiri tanpa bayang-bayangmu.

Kamu baru memutuskanku seminggu yang lalu, dengan alasan sudah memiliki gandengan baru yang lebih realistis daripada diriku yang cuma bisa menawarimu mimpi-mimpi. Lalu kemarin, kuterima kabar bahwa kamu sudah mengandung, dan minggu depan akan langsung melangsungkan pemberkatan.

Kabar itu membuat imajinasiku liar berkelana dan menciptakan sejuta apakah beserta tanda tanya.

Apakah itu artinya, selama kamu membersamaiku, kamu juga menemaninya tanpa pernah kutahu? Melakukan hal-hal yang tidak pernah kelepasan kulakukan padamu, yang kuniatkan karena aku menghormatimu?

Apakah itu artinya, selama kamu dan aku meracaukan mimpi-mimpi kita, kamu sudah berniat untuk terbangun dari mimpi dan menjemput realita bersamanya?

Kamu yang sering berkata, “Akan kutemani kamu sampai kuliahmu selesai, dan kita pindah ke kota yang lebih baik setelah kamu mendapatkan pekerjaan yang lebih laik daripada hanya sekadar petugas minimarket.”

Kamu yang kerap bertanya, “Akankah kamu mengecat angkasa dengan warna ungu, setelah kamu tahu bahwa aku ini penyuka ungu garis keras?”

Kamu yang rajin menyeru, “Mari kita berdua bersemangat! Tidak apa-apa mengawang ke angkasa saat ini sebelum membeli tiket pesawat!”

Kamu juga yang memutuskan tali ini, dengan alasan sudah lelah diberi makan mimpi-mimpi.

Mimpi-mimpi kita retak bahkan sebelum sempat kubingkai. Serpihannya mencelat dan menembusi rusukku, tertancap pada daging yang mendenyutkan kehidupan. Nyeri itu menular, mengaliri seluruh indra dan sudut-sudut tubuhku.

Hari ini aku melewati satu hari lagi dalam keadaan terombang-ambing melayang tanpa arah, sebab balon udara yang membuatku terbang telah berangkat ke antah-berantah. Aku tidak ingat apa saja yang kulakukan setelah Louise menepuk pundakku pelan, mengajakku minum—yang kutolak—lalu matahari kembali surut, hingga aku kembali pulang ke rumah.

Dan, yang kutemukan di sini, lagi-lagi kuburan, beserta hantumu, hantu-hantu mimpiku, yang menyambutku kembali dengan tidak ramah.

Tinggalkan komentar