Ada yang layu
dalam dua lingkar yang mendiami rongga matamu
ketika kita menunggang besi berkarat
yang tambah sekarat
melarat
dua potong roti tersajikan
dari keriput dan urat-urat tanganmu
dan kau bilang, “makan,”
sedang mulut kami sibuk mengunyah
kau malah asyik menenggak ludah
Mata itulah satu-satunya sumber air paling tabah
dalam kemarau panjang yang kita tapaki
dari sana ada hujan jatuh
kudengar tiap subuh
seiring asa yang kaulemparkan dalam temaram
bunyinya: “bahagiakan anak-anakku,”
sedang kami sibuk memintal lelap
kau malah asyik menambal harap…
[siapa
mengira
hujan subuh
memupuk subur
hijau dalam kami?]
… lalu tumbuh…
Kupikir aku takkan bisa
menerka kapasitas tampung telaga
yang bersemayam dalam raga wanita tua dengan takhta:
ibu
sebab kau mampu
sulap layu jadi haru
debu jadi biru
kerontang jadi pematang
lalu sekaratnya besi tunggangan
mewujud empuk permadani adnan
bahkan neraka pun barangkali padam
malu dan mengelu
pada surga yang kausiapkan
di bawah telapak kakimu

Kok, kena banget ya puisinya? Pasti sudah berpengalaman ini mah.
SukaDisukai oleh 1 orang
Halo, terima kasih sudah mampir. :’D
Belum berpengalaman kok. 😂
SukaSuka