Menuliskan Siklus Mala

Bebunyian merebak. Ledakan, lalu jeritan, dan tangisan. Erangan-erangan berkepanjangan. Berkelanjutan. Tiada penghabisan.

Derap kaki telanjang menyusul kemudian. Menjauhkan diri dari tumpahan kedukaan. Menjatuhkan diri ke dalam tumpahan kedukaan. Kaki itu tak luput dilahap genangan. Kemudian lenyap dan kehilangan. Menciptakan lebih banyak bebunyian. Ledakan, lalu jeritan, dan tangisan. Erangan-erangan berkepanjangan. Bekelanjutan. Tanpa ada penghabisan.

Bau darah menyeruak. Bau basah. Bau pasrah. Bau muntah. Muntahan gelisah, resah, apa pun yang masih bisa diperah. Termasuk pula kepercayaan yang menjumpai lelah. Inilah titik batas untuk menyerah. Tapi, tiada yang mengaku kalah. Hanya ada basah. Pasrah. Bau muntah. Melahirkan muntahan gelisah, resah, apa pun yang masih bisa diperah. Termasuk kepercayaan yang menjumpai lelah.

Banyak zombi yang bergelimpangan. Orang-orang hidup, tapi mati. Berkeriap serempak, dengan dengus memburu bagai sapi. Separuh menemui ajal dalam gengsi. Yang lain sibuk memintal dengki. Sisanya mati; diinjak-injak kaum sendiri. Dari yang mati, bangkit lagi jadi zombi. Orang-orang hidup, tapi mati. Berkeriap serempak, dengan dengus memburu bagai sapi. Menuliskan kematian pada kaki-kaki sendiri.

Awal adalah akhir. Akhir adalah awal dari akhir yang lebih mutakhir. Jika dunia adalah perputaran, manakah yang sungguhan awal, dan sungguhan akhir?

Tinggalkan komentar