Mirakayla.
Dua nama dalam satu kata. Tanpa nama belakang. Kata orang tuanya, namanya memiliki arti keajaiban, sebagaimana kemiripannya dengan kata ‘Miracle.’ Sayang, di mata si pemilik sendiri, nama yang disandangnya begitu memuakkan.
“Dipanggilnya gimana? Mira? Kayla?”
Belum sempat mulutnya membuka demi melontarkan jawaban, sahutan dari arah punggung sudah kadung menyambar,
“Raka, kali.”
Tawa anak-anak menyambut kemudian. Mirakayla memutar bola mata. Mendadak merasa jijik.
“Terserah,” desisnya. Kakinya lanjut melangkah. Membawa diri duduk di bangku pada barisan paling belakang. yang usai menghabiskan negosiasi dua jam pelajaran dengan guru telah jadi miliknya, untuk satu semester ke depan. Lalu menyumpal telinga dengan penyuara jemala, untuk entah berapa lama nantinya. Tergantung pada kemunculan guru yang akan mengajar pada pelajaran terakhir ini.
Sontak, tingkahnya mengundang bisik-bisik. Mirakayla tidak peduli. Ia sudah keki kemarin-kemarin. Sejak keputusannya pindah jurusan ditentang keras orang tuanya. Bahkan jauh sebelum itu. Sejak ia melihat apa yang semestinya tak ia saksikan.
‘Bahasa? Mau jadi apa kamu nanti?! Sudah untung masuk IPA!’
Tentu ayahnya kaget dan murka. Mirakayla bukan siswi miskin intelinjensi. Kecerdasan matematisnya tinggi. Prestasi selama ini juga melibatkan pengetahuan eksakta. Dalam dunia serbahitungan, kans IPA di ladang penerimaan mahasiswa lebih tinggi ketimbang bahasa dan ketidakjelasannya. Apalagi bahasa yang dipakai sehari-hari. Di mata ayahnya, Mirakayla seperti menukar intan dengan batu arang.
‘Jadi sampah saja sana kamu!’
Mirakayla membantah, ‘Orang IPA juga banyak yang nggak kuliah dan kerja di bidang mereka, kok. Sama kayak orang nikah yang nggak akur sama istri mereka.’
Pembelaan dirinya menuai tamparan di pipi dan delikan akhir sebagai pertanda, ayahnya tidak mau lagi terlibat dalam kehidupannya. Sebabnya jelas. Ayahnya sendiri lulusan Kimia Murni yang kini berakhir jadi pegawai keuangan. Ayahnya kini pisah rumah dengan ibunya.
Lorong waktu kembali mengerucut. Menempatkan Mirakayla pada saat ini, tepat pada saat pintu terbuka dan menampakkan kemunculan laki-laki jangkung bercelana abu-abu yang langsung diserbu pertanyaan teman-teman lain.
“Gimana, Lang?”
Galang mengibaskan tangan kanan yang bebas dari tumpukan kertas. Tak menyahut. Malah terus melangkah dan berdiri di depan kelas. Tumpukan kertas dalam kuasanya hijrah ke meja guru dengan gelebap tumpul, tapi mencuri perhatian seisi ruangan. Termasuk Mirakayla yang diam-diam menanggalkan penyuara jemala.
Ketukan nyaring terdengar begitu dasar penghapus papan mengecup meja beberapa kali. “Guys! Pak Bromo nggak masuk. Tapi sebagai gantinya, beliau ngasih kita tugas. Terserah mau lo semua kerjakan di mana, tapi sebelum pulang udah harus gue kumpulin. Sini, ambil satu-satu. Males bener harus gue yang bagi-bagiin.”
Anak-anak menghambur ke depan. Merebut satu per satu kertas dari tangan ketua kelas mereka sekaligus penanggung jawab mata pelajaran ini. Mirakayla menunggu sampai keriuhan itu separuh bubar, baru maju menyelipkan diri di tengah-tengah.
Ketika tangannya menjemput satu dari lembar-lembar yang tersisa, ia bisa mendengar bisikan rendah Galang Mahendra.
“Habis nugas jangan pulang dulu. Aku mau bicara.”
***
Galang Mahendra. Laki-laki itu duduk santai di kursi guru, menyambut satu-satu lembar jawaban berdatangan. Mirakayla sudah selesai, tapi sengaja berniat mengumpulkan paling akhir. Sesuatu yang sejatinya tidak ia sukai.
“Yo, Lang! Kuy, balik!” Suara salah satu anak yang tidak gadis itu tahu namanya, terdengar. Mirakayla melirik sepintas. Itu orang terakhir sebelum ia dan Galang berdua.
“Duluan aja, Bro. Masih ada yang belom ngumpulin.”
Terburu, Mirakayla menggerakkan pena demi ilusi ada sesuatu yang ia kerjakan, begitu tahu dua anak laki-laki sedang menoleh ke arahnya.
“Aish. Mau langsung lo anterin ke rumah Pak Bromo, tuh tugas?”
“Ho’oh.”
“Ya udah, gue duluan, Bro.” Tubuh anak itu tertelan tikungan. Galang menegaskannya dengan menutup pintu. Kini mereka tinggal berdua.
Suara-suara anak lain di koridor terdengar samar. Sebelum kemudian suara bariton Galang menginvasi sunyinya ruangan itu. “Dah. Kumpulin sini. Aku tahu kamu sudah selesai dari tadi.”
Mirakayla mengangkat muka, hanya demi menemukan Galang memunggunginya sambil berkacak pinggang. Gadis itu mendesah. Berdiri, mengantarkan lembaran tugasnya ke meja guru. Menyelipkannya di tengah-tengah tumpukan.
Dengusan kecil terlahir dari Galang Mahendra. “Masih belum berubah juga?”
“Apanya?”
“Anti banget kayaknya sama deret paling atas.”
Mirakayla terdiam. Kata-kata Galang membangkitkan gelombang dejavu. Ia ingat tiga tahun lalu, pernah membahas hal serupa.
‘Buru-buru banget ngumpulinnya?’ tanya Galang dalam balutan celana biru tua yang membungkus kakinya.
‘Oh, jelas. Biar punyaku nggak diperiksa paling awal.’
‘Kenapa?’
‘Aku nggak suka jadi paling awal dan paling akhir.’
Berikutnya, Galang Mahendra yang sama geleng-geleng kepala dan mencibirinya waktu nama Mirakayla dipanggil jadi peraih peringkat tertinggi seangkatan. Berkali-kali. Bahkan saat mereka lulus dengan Mirakayla yang keluar jadi perenggut NEM terbaik pun, cibiran yang sama datang menghampiri:
‘Katanya nggak suka jadi yang paling awal dan paling akhir?’
Biasanya Mirakayla balas sambil mengedikkan bahu tak peduli yang sebetulnya buat menutupi malu.
Kali ini pun jawaban yang sama ia berikan untuk ucapan Galang tadi. Mengangkat bahu, baru bilang, “Jadi, mau ngomong apa?”
Gerakan Galang memasukkan kertas-kertas ke dalam map plastik, terjeda. Hanya sebentar. Ia menggulung tali map itu dan melesakkannya ke dalam ransel.
“Kamu sudah siapkan jawaban baru?”
Selintas ada nyeri yang merayap di rongga dada. Mirakayla menggeleng. “Nggak. Jawabanku masih sama kayak setahun lalu.”
Galang mendesah. “Terus, kenapa kamu ada di sini?”
“Aku ada di sini karena aku pengin ada di sini. Kenapa emang?”
“Bukan karena aku?”
Kedua bola mata cowok itu meringkus atensi cokelat Mirakayla. Membuatnya tertegun beberapa detik, sebelum membuang pandangannya pada tiang bendera di samping meja guru. “Kamu nggak sepenting itu,” lirihnya.
Galang terdiam. Hening. Ketiadaan jawaban lawan bicaranya memaksa Mirakayla melirik. Galang tengah mengamatinya. Mirakayla buang muka lagi. Kali ini bonus dengkusan.
Kepala Galang terangguk-angguk. “Begitu, ya… “
Mirakayla berusaha menghalau kecanggungan yang ada. “Sebenernya kamu mau ngomong apa, sih?”
Galang mencangklong ranselnya tanpa melihat Mirakayla lagi. “Nggak ada. Tadinya kupikir kehadiranmu di sini pertanda kalau kita punya sesuatu buat dibahas. Ternyata nggak ada.” Ia berbalik. “Sori sudah menahan kamu lebih lama untuk hal yang sia-sia.”
Susah-payah, Mirakayla menahan kakinya biar tidak mengejar punggung yang menjauh dan memeluknya. Susah-payah, ia menggulung lidahnya untuk mengatakan sesuatu yang berbeda dari yang ia katakan tadi. Ia ingin bilang kalau ia berubah pikiran. Itulah pengakuan yang sesungguhnya. Itulah alasan terkuat kenapa ia ada di jurusan bobrok ini.
Namun, semua itu harus ia tahan di ujung lidah hanya karena alasan sekunder atas keputusannya untuk pindah.
Di pelupuk matanya, tergambar adegan di mana ayahnya dan seorang wanita saling mengecup. Mirakayla mengenali wanita itu sebagai ibu Galang Mahendra. Kepindahan Mirakayla ke kelas ini adalah pemberontakan pertama gadis itu untuk membuat ayahnya sadar. Ia ingin melanjutkannya dengan menerima Galang, dengan rencana yang bisa menampar muka ayahnya. Akan tetapi, Mirakayla tidak tega. Itu sama saja dengan mempermainkan cowok yang ia suka.
Sebab ia bukan Mirakayla si Pembawa Keajaiban. Ia cuma gabungan Raka dan Ayla, nama ayah dan ibunya, yang dibuat-buat untuk menyatukan sesuatu yang sebenarnya terberai.
Pada akhirnya, sampai punggung Galang menjauh pun, gadis itu tidak mengejarnya. Kakinya memaku untuk beberapa detik, lalu merosot. Mirakayla terduduk di lantai kelasnya yang dingin. Yang sunyi.
