Katai

Tiara

Menjadi satu di antara suara tawa adalah favorit Tiara di dunia ini. Gelaknya bisa dibiarkan lepas, dan tidak akan ada yang sadar atau bertanya, apakah yang barusan meledak itu tawa bahagia atau kamuflase dari tangis. Dengan debur ombak yang melatari kicau obrolan enam sekawan, pun alunan gitar yang dipetik sembarangan oleh jari-jari Candra, suara Tiara membaur dan tenggelam, tidak terdeteksi.

“Eh, aku minta jagungnya, dong!”

Sebagai orang dengan posisi paling dekat dengan perapian, Tiara mengulurkan tangan yang dibebat kain, sekadar mengisolir panas yang bakal mengecupi permukaan kulitnya ketika memungut ujung salah satu jagung bakar yang sudah matang.

“Nih. Olesin sendiri ya, sambalnya.”

Thank you.” Lana berkedip sebelum mengoles permukaan jagungnya sepintas, kemudian mendekati sisi para lelaki, menyelipkan diri di sana, menggusur duduk Petra dengan pinggulnya. Umpatan cowok itu terbit kemudian selagi ia—mau tidak mau—bergeser sekian senti.

Gumaman Tiara kembali redup, tertelan koor lantang tiga laki-laki dan dua perempuan lain. Candra yang sudah tidak lagi memeluk gitar usai menghibahkannya pada Rama yang lebih lihai, kini mendekati Tiara.

“Bu, jagung bakarnya siji, yo.”

Tawa Tiara terlepas kembali. Kali ini bukan bahagia atau kamuflase, melainkan betulan terlahir tulus dari rasa geli.

Injih, Ndoro.”

Begitu menerima jagungnya, Candra tidak langsung kembali ke tempatnya semula, di atas batang pohon cemara laut yang telah tumbang dan daun-daunnya disingkirkan kemudian dibiarkan melintangi pepasir pantai. Tempat di mana kini didarati dua bokong laki-laki lain dan satu perempuan yang meneriakkan Sebelum Cahaya Letto dengan sumbang, menjadikan lagu itu lebih mirip alunan perasaan psikopat ketimbang rayuan puitis.

“Gini dong, Ra,” Candra menceletuk selagi mengunyah, “gabung sesekali sama kita. Ngajak kamu ikut ngumpul-ngumpul kok, susah amat. Udah kayak Putri keraton aja.”

Kini suara tawa yang berkumandang dari Tiara ganti tipe. Tawa sumbang. Ia bahkan tidak menjawab dengan kata-kata. Tangannya meraih sebonggol jagung bakar dan mengolesinya dengan mentega yang layu dan meleleh sewaktu mengecupi biji-biji kuning kecoklatan, untuk memberinya alasan atas ketiadaan jawaban.

Jelas saja Tiara tidak bisa bercerita, kalau ibunya bukan tipe wanita yang bakal membiarkan anak gadis berkeliaran tanpa guna. Kehadirannya di sini hari ini adalah bonus, berhubung ibunya harus pergi ke luar kota karena acara keluarga. Teman-temannya yang hidup bebas tidak harus tahu bahwa Tiara sampai menyembunyikan alasan pamit berpiknik ria di malam minggu di balik kedok belajar kelompok di rumah Lana. Alibi klasik yang biasanya dipakai anak SD, masih saja ia gunakan di usianya yang ketujuh belas tahun.

“Aku senang kamu bisa ikutan hari ini. Sering-sering, ya. Biar aku bisa sering lihat kamu.”

Suara Candra juga hanya sekian persen dari keributan di sana. Diucapkan rendah, dengan mata cokelat tua yang memantulkan binaran api unggun di bawah alis tebal menatap Tiara lekat. Lekat, tapi sepintas. Sepintas, tapi efeknya sadis.

Semburat panas yang Tiara yakini tidak datang dari api unggun yang mematangkan jagung-jagung, tiba-tiba saja merayapi pipi, juga dadanya. Membangkitkan gelenyar seperti bubuk-bubuk halus yang ditaburkan ke hati. Sedangkan Candra malah sudah kembali sibuk menyisihkan rambut-rambut jagung yang terselip di antara butir biji, seakan tidak sadar kalimatnya barusan telah mengakibatkan kerusuhan di  hati seorang anak gadis.

***

Keriuhan itu digusur sepi bersama waktu yang beranjak menua. Api unggun juga sudah padam, bahkan sisa kepulan asapnya pun tiada. Hanya ada debur ombak pasang yang tidak kunjung berhenti, bersama sisa arang tipis dengan warna lebih gelap dan batu-batu bersepuhkan jelaga yang tersebar.

Mereka sudah tak ada lagi di sana. Hijrah ke tempat yang lebih hangat dan lebih tenang demi mengistirahatkan diri.

Lana dan Gita sudah terlelap lama di sebelah Tiara. Dengkuran mereka samar-samar terdengar di antara derit kipas angin penginapan murah yang mereka sewa dengan patungan uang mingguan.

Namun, mata Tiara masih nyalang menatap langit-langit kamar yang redup. Jarinya memainkan keliman selimut yang menutupi tubuhnya dan tubuh dua gadis lain di atas ranjang yang sama. Ada sebagian dari batinnya yang menolak hari berganti.

Resah, ia menyibak selimut perlahan. Enggan mengusik dua temannya yang dibuai lelap. Lalu, ia lesakkan kakinya pada sandal jepit. Tanpa membungkus diri dengan jaket, kaki jenjang yang hanya dibaluti celana jins selutut bertolak keluar dari kamar itu.

Pintu ditutupnya dengan hati-hati. Memeluk tubuh sendiri, Tiara keluar dari lobi. Angin dingin langsung menampar wajah. Mengebitkan beberapa helai rambut sebahunya, selagi ia duduk di beranda. Satpam di pos kecil pada arah jam sebelas melongok, hanya ditanggapi Tiara dengan anggukan sapa, yang dibalas serupa, sebelum petugas keamanan itu kembali sibuk dengan ponselnya.

Tiara mendongak. Memandang angkasa yang ditaburi titik-titik bersinar. Tidak banyak yang bisa matanya tangkap. Luminositas mereka di sana kalah saing dengan cahaya buatan manusia dari sudut pandang makhluk bumi.

Benaknya memuntahkan tanya. Bagaimana rasanya jadi bintang?

“Tiara?”

Gadis itu terhenyak. Kepalanya memutar cepat, demi sewujud Candra dengan asap tembakau mengembus dari hidung dan mulut. Benda panjang itu sendiri terjepit di antara telunjuk dan jari tengah sang adam berambut ikal gondrong yang diikat sekadarnya dengan karet gelang.

“Ngapain di sini?” Tanya Candra terbit lagi. Ia tampak ragu sejenak. Mau menghampiri atau permisi. Opsi pertama lah yang akhirnya ia pilih. Bara di puncak batang rokoknya digilas apitan jempol dan telunjuk sebelum terlontar ke dalam tempat sampah. Tiara mendesis sejenak. Rupanya Candra punya bakat jadi debus.

“Nontonin bintang.” Tiara bergeser sejenak demi memberi spasi bagi dudukan Candra. Hangat tubuh cowok itu teradiasi ke lengan Tiara yang telanjang, meski ada sekian senti yang memautkan mereka.

Candra ikut mendongak. “Emang mereka ngapain? Stand up comedy?”

Tawa Tiara terhela. “Mana ada.”

“Ya lagian kamu nontonin benda mati.”

Tiara membantah, “Siapa bilang mereka benda mati? Mereka hidup, tauk. Lebih hidup dari kita malah.”

“Mana nih, Tiara Anindhita Si Juara Kelas, kok, kayaknya kagak lulus pelajaran Biologi.” Candra berdecak. “Nih, ya. Ciri-ciri makhluk hidup.” Ia menghitung dengan jari. “Bernapas. Membutuhkan makanan. Tumbuh dan berkembang. Berkembang biak. Mengeluarkan zat sisa. Bintang emang berak keluar apa?”

Tiara mencibir gemas. “Mana nih, Candra Prayudha Putra Perwakilan Olimpiade Matematika, kok, kayaknya enggak lulus Fisika. Meski nggak masuk semua syarat makhluk hidup, bintang tetap hidup. Mereka lahir dari awan gas dan debu. Untuk mempertahankan hidup, mereka juga butuh energi Kelak, mereka mati dengan menyusut jadi katai putih, atau meledak lalu jadi bintang neutron dan black hole. Artinya, mereka punya batas masa hidup. Dengan kata lain, mereka hidup.”

Candra geleng-geleng. “Meminjam logikamu, kalau begitu, berarti batu juga hidup.”

“Di mataku, batu memang hidup. Mereka nggak langsung ada, tapi melewati fase tertentu untuk jadi ada.”

“Kalau begitu, baju hidup? Sandalmu hidup? Mereka nggak langsung ada, tapi diadakan, ‘kan? Mayat hidup juga dong?”

Kalimat itu malah melesapkan semringah dari wajah Tiara. Seperti guyuran air yang memadamkan kobaran api, kesadaran juga menyirami kobaran imajinasinya.

“Ra?”

“Kamu benar.” Ia memaksakan senyum. “Bintang itu mati. Mayat juga mati. Karena mereka enggak diberi nyawa. Yang satu sejak lahir, satunya lagi sudah diambil kembali.”

“Ra, aku—”

“Nggak perlu minta maaf. Aku jadi mengerti berkat kalimatmu tadi.” Kepala sang hawa kembali mendongak.

Barangkali, karena masih merasa kurang enak karena timpalannya yang menyurutkan keseruan, Candra memilih ganti topik. “Kenapa belum tidur?”

“Belum mengantuk.” Ia menoleh pada Candra yang rupanya juga sedang mendongak dengan kedua tangan menyangga tubuh di belakang punggung. “Kamu?”

“Biasalah. Insomnia.”

“Oh.”

Tiara tidak tahu apa yang harus ia katakan lagi. Terkadang, berada bersama Candra membawanya pada kecanggungan yang tidak ia pahami. Cowok di sampingnya seakan punya kekuatan magis yang menghangatkannya pada suatu waktu, dan membekukannya pada waktu yang lain.

“Sudah lewat tengah malam.”

Celetukan Candra membuat Tiara kembali mengendurkan leher yang menengadah demi memastikan ponsel di pangkuan. Semburan cahayanya menusuk mata yang terbata berakomodasi dari angkasa yang miskin kecerahan.

Candra benar. Sudah pukul satu dini hari.

Mendadak, perasaan tidak nyaman melingkupi gadis itu kembali. Hari sudah berganti dan jarum jam akan terus merayap sampai pagi. Tidak lama lagi, mereka akan menyambut kemunculan mentari. Begitu hari terang, ia harus pulang, berhadapan lagi dengan sepi yang menahun ia akrabi.

Ia tidak mau. Seandainya saja ia bisa mengulang hari. Seandainya saja ia bisa selamanya berada dalam lingkaran teman-temannya. Seandainya saja ia bisa berada di sisi Candra lebih lama lagi. Seandainya saja ia bisa…

“… menjadi bintang …”

“Hah?”

Tiara mengerjap begitu menyadari rentetan pemikirannya turut ia lisankan. Sejak kapan ia mengatakannya?

“Apa?” tanyanya gugup. Mencoba mengorek sejauh mana Candra mendengarkan.

“Itu tadi kamu bilang seandainya jadi bintang.”

“Oh.” Tiara menyemburkan napas, separuh pemahaman, separuh kelegaan. “Dulu, waktu aku masih kecil banget, setiap kali ada pemadaman, ayahku selalu bawa aku ke teras depan. Duduk berdua ngelihatin bintang.” Tanpa sadar, bibirnya menukikkan seulas senyum tipis. “Ayah bilang, kalau orang meninggal, orang itu sudah terbang ke langit. Jadi bintang.”

Candra tidak bersuara, seolah memberi perkenan bagi Tiara untuk berkisah lebih banyak.

“Aku percaya. Sampai suatu hari, waktu Ayah dibopong orang masuk rumah dalam keadaan nggak sadar. Ibuku menangis dan bilang, Ayah sudah meninggal. Aku malah nanya, ‘Jadi, Ayah sudah jadi bintang?'” Ia tertawa kecil. Menghela napas lagi, menenangkan hatinya yang berhujan. “Bahkan saat orang-orang datang buat ngedoain Ayah dan menangis bareng ibuku, aku nggak menangis. Kupikir, aku toh masih bisa lihat Ayah tiap malam. Jadi, malam itu, aku keluar. Duduk di teras. Mencoba ngobrol sama Ayah. Awalnya menyenangkan. Tapi, lama-lama, rasanya kesepian. Nggak ada suara Ayah yang membalas semua kalimatku seperti bia—”

Kalimatnya itu terhenti oleh hentakan napasnya sendiri. Tiba-tiba saja, udara terasa hangat. Hangat yang menenangkan. Hangat yang menyenangkan. Menguar dari tubuh Candra yang memeluk tubuhnya erat.

“Sori, Ra… ” bisik Candra parau di telinganya. Embus napas cowok itu menggelitik tengkuk dan rambut-rambut halus di sana. “Aku nggak tahu kalau bintang sebegitu berharganya buatmu.”

Tiara menarik napas dalam-dalam. Mencoba menyerap kehangatan yang melingkupi mereka lebih dalam. Menghirup aroma tubuh Candra yang mirip paduan cendana dan wangi maskulin dari parfum yang tak ia tahu merknya apa. Mengkristalkan momen ini lebih lama.

Namun, waktu terus berjalan. Seperti pasir yang perlahan jatuh dari genggaman.

Dan tibalah ia pada saat di mana pelukan itu harus terlerai.

Selama beberapa detik, matanya dan mata Candra bertatapan. Ada sesuatu yang berbeda yang Tiara tangkap dari sklera yang tidak sejernih semestinya akibat kontaminasi asap dan efek keseringan bergadang. Rasanya Tiara ingin menggantungkan harapan di sana, sekecil apa pun peluang untuknya.

Akan tetapi, si pemilik mata bergegas memutuskan kontak mereka dengan membuang pandangannya ke udara.

“Udah malam. Ayo masuk. Besok harus pulang pagi-pagi.”

Tiara dihadapkan pada punggung yang menunggunya berdiri. Ia mendesah. Bergerak bangkit dan menjejeri Candra yang tidak mengucapkan apa-apa lagi. Benak Tiara sibuk bertanya-tanya: kenapa Candra selalu menggunting kail yang sudah nyaris Tiara tangkap?

Tinggalkan komentar