Candra
Putih.
Itulah impresi pertamanya atas gadis pindahan yang memperkenalkan diri sebagai Tiara, enam bulan lalu. Seiring waktu berlalu, Candra mendapatkan kesan tambahan: gadis berkulit putih itu pendiam dan tidak punya banyak teman. Akhirnya terbitlah semacam prakonklusi dalam benak cowok itu. Kulit putih Tiara, sepertinya bukan cuma dipengaruhi faktor gen. Melainkan juga akibat jarang dikecupi matahari.
Tadinya Candra tidak mau ambil pusing. Di luar dari keanehannya, Tiara cuma satu dari sekian siswa di luar empat teman terdekatnya. Latar belakang yang memburam setiap kali canda tawa lima sekawan menggelegar memenuhi kelas. Itu sebelum ia menjumpai kenyataan, bahwa Tiara bukan cuma mencuri perhatiannya, tapi juga empat sahabat yang telah menemaninya sejak awal masuk SMA.
“Eh, si Tiara tuh, rada aneh, ya?” celetuk Lana suatu hari, sesaat setelah kelompok Biologi yang dipilih berdasarkan hitungan satu sampai empat, membubarkan diri, dan lima sekawan kembali merapat.
“Aneh gimana?”
“Dia nggak banyak ngomong, tapi cekatan banget tangannya. Belum ada setengah jam aku sama yang lain bercanda, terus kita mau diskusi, dia udah bilang kalau dia udah ngerjain sampai soal nomor enam. Gimana aku nggak kaget?”
Petra tertawa. “Whoa. Tipe talk less do more, ya?”
“Tapi bukan cuma itu doang,” Ratih menambahkan. “Kalian pada sadar nggak sih, kalau Tiara suka curi-curi pandang ke Candra?”
Saat itu, air yang ditenggak Candra dari botol minum Lana, tumpah membasahi seragam. “Woi, mengadi-nga—”
“Heh? Kamu nyadar juga? Kupikir cuma aku yang lihat!” Lana berbisik histeris. Sikutnya mulai usil menyentuh pinggang Candra. “Ciyeee… A’a Candra punya penggemar.”
Candra menampik. “Ngaco. Masa ngeliatin doang jadi penggemar. Kali aja mukaku aneh.”
“Aku kasih tahu, ya. Cewek cuma melihat muka cowok karena dua hal.” Ratih menghitung dengan jari. “Satu, ada sesuatu di mukamu. Dua, dia naksir kamu.”
Sejak obrolan sepulang sekolah itu, Candra jadi sering mempertanyakan. Masa, sih, Tiara menyukainya? Rasa penasarannya menerbitkan keinginan untuk membuktikan.
Jawabannya datang sendiri seiring Candra keseringan mengamati. Benar. Tiara memang suka mencuri pandang ke arahnya. Dan, ketika tatapan mereka berserobok, gadis itu berpaling dengan muka bersemu yang kelewat kentara di kulit putihnya.
Akhirnya, Lana dan Ratih jadi seperti punya obsesi baru: menarik Tiara masuk dalam kawanan mereka. Walau begitu, intensitas gabungnya Tiara ikut kumpul-kumpul memang tidak banyak. Terlalu sedikit dibandingkan lontaran permintaan maaf karena tidak bisa hadir darinya. Alasannya selalu sama: ibunya tidak mengizinkan.
Saking jarangnya bergabung, penyertaan Tiara bersama mereka malam itu adalah hal yang antik bagi Candra. Tanpa Candra sadari, hanya dengan melihat senyum dan tawa gadis itu merekah lebar dengan mata memantulkan sinar dari api yang membakar jagung, senyumnya juga ikut terkembang.
Ada banyak hal yang ingin Candra umbar. Seperti bagaimana ia senang melihat wajah yang selalu tampak digumuli sepi itu merona dalam pancaran kebahagiaan bersama teman-temannya. Kulit putih yang cenderung pucat seperti dialiri kehidupan, energi, dan vitalitas yang lebih sering absen dari sana. Gadis pucat itu hidup ….
Dan, kehidupan dalam rona Tiara, seakan terpancar dan menulari Candra. Memberi kehangatan ke dalam dadanya. Candra tahu persis. Rasa hangat itu sama sekali bukan radiasi api unggun yang membara.
Terbitlah pertanyaan dalam benaknya: sudah berapa lama ia tidak merasa energinya terisi?
Entah. Candra hanya tahu, ada dorongan untuk mengucapkan kalimat yang terlahir tulus:
“Aku senang kamu bisa ikutan hari ini. Sering-sering, ya. Biar aku bisa sering lihat kamu.”
Perubahan rona itu tidak sejelas biasanya karena mengandalkan pencahayaan pada api yang pendarannya turut menyemburatkan kulit. Namun, ekspresi Tiara mampu dengan jelas Candra tangkap. Gadis itu salah tingkah. Tersipu. Malu.
Respons sealami itu, malah membuat Candra resah. Membangkitkan rasa bersalah. Maka Candra membuang muka, sambil kembali bertanya-tanya dalam hati: bagaimana caranya menampakkan ketulusan akan rasa sayangnya, tapi tanpa membuat Tiara kecewa?
***
Bubarnya enam sekawan akhirnya membebaskan Candra. Berbanding terbalik dengan Tiara yang pendiam tapi berenergi selagi bersama orang lain, Candra mengidentifikasikan diri sendiri sebagai orang yang kendati lancar berbicara dan memiliki banyak tempat untuk dikunjungi, justru butuh menyendiri. Pengisi dayanya adalah kesendirian. Keheningan. Tempat dan saat di mana ia bisa berkontemplasi.
Ia baru saja hendak kembali ke pantai demi menjemput kesendirian dan keheningan itu, ketika menangkap kehadiran Tiara di beranda penginapan mereka yang lengang. Sendirian. Memandangi angkasa malam dengan saksama.
Selama beberapa detik, Candra tertegun. Wajah gadis itu … mengandung kegundahan yang sarat. Betapa Candra tidak menyukainya.
Maka dorongan impulsif untuk memecahkan selubung kelabu itu datang sebelum Candra sempat memroses baik-baik.
“Tiara?”
Kesadaran baru mengguyur kepalanya sewaktu kepala si gadis terpaling ke arahnya. Candra merutuki diri sendiri dalam hati. Niat hati ingin menyendiri, malah harus terbungkam dengan keinginan yang baru saja terbit. Menemani Tiara. Mengajaknya bicara. Apa pun topiknya. Agar tiada lagi kegamangan yang menyita kulit pucat Tiara.
“Ngapain di sini?”
Rokoknya baru dinyalakan. Namun, tidak masalah kembali ia padamkan. Panas yang masih mampu ditolerir kulitnya yang tebal terasa bagai setruman kecil begitu bersentuhan dengan bara di puncak rokok itu. Menggilas api biar mati.
“Nontonin bintang.”
Ia mendaratkan tubuh pada spasi yang disediakan Tiara untuknya. Ikut mendongak. Ikut menengok hal yang ‘ditonton’ gadis itu. Mencari tahu apa yang menarik sampai bisa ‘ditonton’ seserius itu.
“Emang mereka ngapain? Stand up comedy?”
Tiara tertawa. Akhirnya. Sebagian kegundahan di wajah gadis itu terhalau sudah. “Mana ada?”
“Ya lagian kamu nontonin benda mati.” Akan Candra jaga agar selaput kesedihan itu tidak kembali lagi.
“Siapa bilang mereka benda mati? Mereka hidup, tauk. Lebih hidup dari kita malah.”
“Mana nih, Tiara Anindhita Si Juara Kelas? Kok, kayaknya kagak lulus pelajaran Biologi.” Candra berdecak demi menegaskan. “Nih, ya. Ciri-ciri makhluk hidup. Bernapas. Membutuhkan makanan. Tumbuh dan berkembang. Berkembang biak. Mengeluarkan zat sisa. Bintang emang berak keluar apa?”
“Mana nih, Candra Prayudha Putra Perwakilan Olimpiade Matematika? Kok, kayaknya enggak lulus Fisika. Meski nggak masuk semua syarat makhluk hidup, bintang tetap hidup. Mereka lahir dari awan gas dan debu. Untuk mempertahankan hidup, mereka juga butuh energi. Kelak, mereka mati dengan menyusut jadi katai putih, atau meledak lalu jadi bintang neutron dan black hole. Artinya, mereka punya batas masa hidup. Dengan kata lain, mereka hidup.”
Candra tidak mau menyia-nyiakan topik menarik yang membuat Tiara mengenyampingkan kesedihannya dan membalasnya panjang lebar. Ia ikut menariknya sampai melar.
“Meminjam logikamu, kalau begitu, berarti batu juga hidup.”
“Di mataku, batu memang hidup. Mereka nggak langsung ada, tapi melewati fase tertentu untuk jadi ada.”
“Kalau begitu, baju hidup? Sandalmu hidup? Mereka nggak langsung ada, tapi diadakan, ‘kan? Mayat hidup juga dong?”
Sebelum sempat Candra menyadari kalimatnya, segalanya lesap. Pendaran di mata Tiara. Rona di wajah Tiara. Terhalau mendung yang muncul tiba-tiba. Membuat Candra tertegun, lalu merutuki diri sendiri dalam hati.
Ketiadaan jawaban memaksanya memberanikan diri untuk bersuara. “Ra?”
“Kamu benar.” Kepala gadis di sampingnya terangguk samar. Senyumnya terulas pula. Namun, Candra tahu, semua itu kegetiran. “Bintang itu mati. Mayat juga mati. Karena mereka nggak diberi nyawa. Yang satu sejak lahir, satunya lagi sudah diambil kembali.”
Candra tidak terima. Ia memang benar secara perdebatan, tetapi ia salah dengan caranya. Penyesalan menggebuki dada Candra ketika melihat gadis di sampingnya memaksakan senyum. Ia merasa harus minta maaf.
“Ra, aku—”
Seolah tahu lanjutannya, Tiara menyela, “Nggak perlu minta maaf. Aku jadi mengerti berkat kalimatmu tadi.” Kepalanya yang mendongak memberi Candra pemahaman: Tiara enggan melanjutkan topik ini.
Maka, cowok itu mendesah. Menyerah. Memilih membahas hal lain, sambil mendongak dan menumpukan tubuhnya pada kedua tangan di belakang punggung. “Kenapa belum tidur?”
“Belum mengantuk.” Jawaban klasik.” Kamu?”
Candra membalas sama klasik, “Biasalah. Insomnia.” Walau demikian, ia tidak berdusta. Kesulitan tidur memang langganannya sejak lama.
“Oh.”
Candra membiarkan keheningan menyelimuti mereka. Meresapi kerik jangkrik yang hinggap entah di mana sebagai satu-satunya sumber suara. Sebelum kesadaran menghantamnya lagi. Ini sudah kelewat larut. Ia mungkin kebal tidak tidur seharian, tapi Tiara seharusnya pergi tidur di waktu seperti ini.
Ia pun mengultimatum, “Sudah lewat tengah malam.”
Gadis itu menurunkan kepala dan mengecek ponsel. Selama beberapa waktu, ia tampak tercenung. Kesedihan kembali timbul di wajahnya. Awalnya samar, lalu perlahan menguat, dan lama-lama lisannya ikut bergerak. Suara awalnya juga samar, perlahan menguat, dan lama-lama beberapa di antaranya tertangkap rungu Candra: ” … seandainya aku bisa … menjadi bintang …”
Mengira Tiara sedang mengajaknya bicara kembali, tapi dengan topik yang sama sekali tidak Candra mengerti, lelaki itu mengonfirmasi. “Hah?”
Sekerjap. Dua kerjap. Mata Tiara yang mengedip seolah membawakannya kesadaran. “Apa?”
Kerut di kening Candra belum hilang. Kebingungannya juga belum mau hengkang. “Itu tadi kamu bilang seandainya jadi bintang.”
Helaan napas terdengar. “Oh. Dulu, waktu aku masih kecil banget, setiap kali ada pemadaman, ayahku selalu bawa aku ke teras depan. Duduk berdua ngelihatin bintang. Ayah bilang, kalau orang meninggal, orang itu sudah terbang ke langit. Jadi bintang.”
Firasatnya, cerita ini masih akan berlanjut. Maka Candra hanya diam dan menyimak ke mana Tiara akan membawanya dengan intro dongeng kanak-kanak yang dikisahkan ayahnya.
“Aku percaya. Sampai suatu hari, waktu Ayah dibopong orang masuk rumah dalam keadaan nggak sadar. Ibuku menangis dan bilang, Ayah sudah meninggal. Aku malah nanya, ‘Jadi, Ayah sudah jadi bintang?'”
Ada suara tawa yang terdengar. Namun, Candra menahan napasnya. Itu bukan tawa tulus. Itu tawa getir. Sebagian besar dari tawa yang tercetus dari gadis yang sama. Wajah pucat Tiara meriakkan kesedihan. Kesedihan yang menggelegakkan dorongan impulsif lain dalam diri Candra.
“Bahkan saat orang-orang datang buat ngedoain Ayah dan menangis bareng ibuku, aku nggak menangis. Kupikir, aku toh masih bisa lihat Ayah tiap malam. Jadi, malam itu, aku keluar. Duduk di teras. Mencoba ngobrol sama Ayah. Awalnya menyenangkan. Tapi, lama-lama, rasanya kesepian. Nggak ada suara Ayah yang membalas semua kalimatku seperti bia—”
Hingga tanpa sadar, gadis itu sudah direngkuhnya erat. Aroma parfum yang lembut dan berbaur dengan sedikit wangi lotion yang sama lembutnya, menggoda penciumannya.
“Sori, Ra… ” bisik Candra parau. Ia merasa bertanggung jawab karena telah menghadirkan kesedihan yang tidak disukainya kembali ke permukaan. Ia merasa bertanggung jawab karena tidak mengerti bertapa berharganya bintang bagi Tiara, dan malah mematahkan romantisme gadis itu dengan bintang yang mengingatkannya akan sosok yang tiada, dengan argumentasi logis yang tidak tepat waktu.
Tiada jawaban yang terbit dari pita suara gadis dalam rengkuhannya. Candra ikut diam. Membiarkan gadis itu merasakan bahwa ia tulus mentransfer pengertian dan dukungan.
Namun, waktu terus berjalan. Seperti pasir yang perlahan jatuh dari genggaman. Detik demi detik ia hitung.
Dan tibalah ia pada saat di mana seberkas kesadaran menubruki tingkahnya.
‘Tiara suka sama kamu, Candra …’
‘Tiara suka sama kamu, Candra …’
‘Tiara suka sama kamu, Candra …’
‘Tiara suka sama kamu, Candra …’
Candra menggeleng samar. Mencoba menghalau bisikan-bisikan itu, sekaligus merenggut kembali keberaniannya untuk memisahkan diri. Semakin lama ia memeluk Tiara, semakin besar peluangnya untuk menyakiti gadis itu.
Pelukan itu pun terlerai.
Selama beberapa detik, matanya dan mata Tiara bertatapan. Apakah baik-baik saja, ia memeluk Tiara? Candra mencoba menyelami mata itu; hal paling jujur dari sana, dan tertegun kala menemukan apa yang ia takutkan.
Tiara menyukainya. Tiara mengharapkannya. Candra sudah membawa gadis itu ke dalam hal yang paling tidak ingin Candra tawarkan pada Tiara.
Bergegas, ia memutuskan kontak mata mereka dengan membuang pandangannya ke udara. Apa pun. Asal bukan mata itu. Asal bukan wajah itu. Sebab ia tahu, kali ini, kesedihan di sana timbul karenanya.
“Udah malam. Ayo masuk. Besok harus pulang pagi-pagi.” Candra berdiri dan memunggungi Tiara. Memejamkan mata. Merutuki diri sendiri. Tidak bisa. Tidak bisa. Kasih sayangnya pada Tiara hanya sebatas itu saja. Sebab posisi yang Tiara inginkan, sudah diisi oleh gadis lain.
Sambil melangkah mendahului Tiara, benak Candra sibuk bertanya-tanya. Bagaimana caranya memberikan dukungan dan kasih sayang yang tulus kepada seorang teman tanpa disalahpahami sebagai keinginan untuk memiliki?
