kulihat ia:
lanskap yang pias
perkawinan pilu dan sendu dan rindu
dan ratapan aspal yang risau
mereka mendamba matahari
ini musim kesekian hujan tak bertepi
dan jingga memburam jadi keping nostalgia
sebab malam membebat cerah
di sudut cakrawala yang entah
kudengar ia:
langit pun bergolak: panggilan
berisiknya musik: orkestra bising dan bahasa asing
dari perut anak-anak kota
dan darah yang menggelegakkan doa
terbang terabaikan bersama
sekumpulan bangkai anai-anai
berdatanganlah sahutan:
seberkas titik di ujung
dibawanya cahaya dan lega dan nyala
dari bara yang tercetus tetiba
kurasakan ia:
mata telinga terhempap tuli buta
yang tersisa tinggal rasa
dalam dekap jeda sang kala
kemudian timbul tenggelam bebunyian
serupa: tarik lepas kesiap;
debar dada terbakar
walau bibirku dikecupi cahaya laknat,
lidahku mengecap pahit nan pekat
kakiku menghentak sekarat
oh! inti api semesta telah berkhianat
ia membentangkan sayap
yang silau dan kilap
mengawali lenyap
dan kami lesap
dan hirap
