Day 2 – Sabitah

“Ibu, aku pamit.”

AKU TAHU, ANANDA, konstelasimu tak terbilang jumlahnya. Maka kendati engkau terlahir dari bias sinarku sendiri, bukanlah hakku menuntutmu setia di sini, selalu. Selamanya. Sampai nanti. Sampai mati. 

Dunia ini terlampau luas, Ananda. Jadi, kujahit di punggungmu: sepasang sayap bersulamkan cinta dan kasihku. Bentangkan ia seluas yang engkau bisa. Dan dengannya, arungi semua benua dan samudera, sabana dan sahara. Jelajahi setiap inci perputaran dunia, lapisan-lapisan semesta. Kenali setiap titik dan garis, petik dan baris. Selalu. Selamanya. Sampai nanti. Sampai mati.

Kini yang bisa kulakukan hanya memelukmu. Jangan ikut menangis, Ananda. Air mata ini air mata bahagia. Memoriku lancang memutar kilas pendek tumbuh kembangmu dalam dekapanku, hingga aku merasa waktu terlampau cepat. ‘Kemarin jejak ompolmu masih kuseka, tapi kini kau telah mendewasa.’ Hanya itu. Tidak apa jika kau tinggalkanku sendirian. Sejatinya aku tak pernah ‘sendirian’. Aku ada di dekatmu, selalu. Selamanya. Sampai nanti. Sampai mati.

Mengembaralah. Bergembiralah. Carilah segala rasa dan makna hingga palung terdalam dan puncak tertinggi. Kutahu engkau haus, dan pelipur dahagamu hanyalah dengan berjumpa dengan miliaran genangan oase pengetahuan. Pergi dan puaskan dirimu sendiri. Jangan khawatirkan aku. Melihatmu terbang ke mana-mana, adalah kebahagiaanku yang sempurna. Selalu. Selamanya. Sampai nanti. Sampai mati.

Namun, Ananda, ada satu hal yang pasti. Andaikan seisi dunia menentang dan memusuhimu karena salah dan silapmu, hingga penerbanganmu oleng, sayapmu koyak, dan kau nyaris terjatuh diisap gravitasi, jangan takut. Aku ada. Selalu ada. Satu-satunya pribadi yang selalu berdiri di sisimu. Mengikutimu dalam pengawasan dan doa hingga basah selalu lidah dan mataku, mengharap kebaikan atasmu. Akan kupeluk engkau dengan sinar pudarku, yang kuharap mampu menahan dan beri secuil petunjuk bagimu. Selalu. Selamanya. 

Sampai nanti. Sampai mati.

“Ya. Pergilah.”

Dari sekian banyak kalimat yang ingin kuutarakan, mengapa hanya dua kata yang sanggup tersampaikan lisan?


Diikutsertakan dalam Gerimis 30 Hari dari Ellunar Publishing

Tinggalkan komentar