PEREMPUAN DI BALIK JENDELA punya hobi tahunan: menambatkan atensi pada angkasa, menggumamkan sepatah doa yang selalu melibatkan langit.
Dua tahun yang lalu, dengan langkah tersaruk pada bentangan kering di sekeliling, ia pandang angkasa yang kelewat terik dengan gamang. Diam-diam melayangkan satu harapan sederhana:
“Langit, bisakah kauturunkan hujan? Biar padi Ayah tumbuh subur, dan tahun ini kami bisa panen.”
Sebab paceklik belum kelihatan akan hengkang, hingga para petani diancam kerugian. Apa yang bisa dimakan jika tiada yang bisa dijual? Apa yang bisa dijual bila lumbung-lumbung kosong melompong? Apa yang bisa mengisi lumbung, jika tiada yang bisa dipanen?
Tapi hujan selalu gagal jatuh. Saat doa itu terkabul, segalanya terlambat. Ayahnya sudah mati dibunuh orang karena jeratan utang. Lalu menarik serta kaki perempuan itu dalam lingkaran setan: tuntutan untuk melayani manusia-manusia haus selangkangan.
Peristiwa itu tak mengubah kebiasaannya. Memandang langit dan menggumamkan doa adalah rutinitas yang merambah urusan eksistensial. Hanya detail isi asanya yang diubah. Setiap menghadang angkasa yang kini selalu kelabu seperti hati dan harinya, ia gumamkan secarik doa:
“Langit, bisakah kau turunkan hujan uang? Biar bisa kulepaskan diriku dari rumah sekelam ini.”
Ia tahu, doa itu mustahil. Semustahil melipat masa lalu ke masa kini. Namun, kendati dirinya berselubung dosa, ia masih memutuskan percaya. Sebab Penguasa Langit selalu disebut Sosok Yang Bisa Segala. Sebagaimana ia percaya bahwa akan ada kesempatan kesekian baginya untuk bersihkan noda.
Hujan uang memang tak pernah muncrat dari langit. Namun, rekeningnya kemudian dikucuri berdigit bilangan sebagai bayaran dari performanya yang memuaskan. Kondisi keuangan perempuan itu berangsur membaik, hingga ia bisa keluar dari rumah bordil yang menahun dikutuknya itu.
Sayang, semuanya terlambat. Sebab saat itu, uang yang menahun ia timbun harus dihamburkan lagi hanya demi sembuhkan sakitnya.
Maka tahun ini, kala mata cekung itu terpancang pada angkasa, si perempuan mengganti doa:
“Langit, bisakah kau jatuhkan dirimu? Biar dunia ini musnah dan tiada lagi penderitaan.”
Diikutsertakan dalam Gerimis 30 Hari dari Ellunar Publishing
