Prompt: Winter Memory
964 kata
QIANG JIE kecil menyukai musim dingin, sebab aromanya seperti aroma Ibu.
Ibu yang selalu flu saat musim dingin tiba, akan membawa serta sebotol minyak obat dari negara asalnya di area khatulistiwa. Ibu memang bukan orang asli Cina. Meski ia berdarah Tionghoa, ia lahir dan besar di Indonesia.
Nama obatnya adalah minyak kayu putih. Aromanya menentramkan jiwa dan menghangatkan tubuh. Sama seperti suara dan sentuhan tangan Ibu.
Sejak kecil, Ibu selalu mengoleskan tetes-tetes minyak obat itu ke permukaan kulit Qiang Jie sebelum melapisi tubuhnya dengan sweater rajut dari wol yang tebal, sarung tangan berbahan sama, serta syal dan topi. Ibu bilang, itu dilakukan untuk menjaga tubuh putri satu-satunya tetap hangat di suhu yang kurang dari nol derajat Celsius.
Sejak saat itu, musim dingin selalu berbau seperti wangi minyak kayu putih, dan minyak kayu putih adalah wangi Ibu.
Dan sejak saat itu pula, Qiang Jie menyukai ketiganya.
Ia juga suka momen ketika Ibu memasakkan sup berbahan jahe dan ginseng. Rasanya enak dan menghangatkan. Ibu tidak pernah mengomel ketika Qiang Jie pergi bermain di luar bersama teman-temannya, membentuk boneka salju, saling lempar bola salju, atau bermain seluncuran sampai jatuh tertidur di atas permukaan salju yang semakin menebal. Asalkan Qiang Jie selalu menurut mengoleskan minyak kayu putih di sekujur tubuh dan mau menghabiskan semangkuk supnya, Ibu akan tersenyum. Meski dia tidak bisa menjemput Qiang Jie keluar dan hanya bisa menatap Qiang Jie dari balik jendela kaca. Qiang Jie selalu melampaui ekspektasi Ibu. Ia selalu mengoleskan minyak kayu putih ke sekujur tubuh sendiri tanpa perlu diperintah, dan selalu menambah lagi semangkuk sup yang berbau jahe dan ginseng, menghabiskannya tanpa sisa setetes pun.
Qiang Jie sering bertanya, “Kenapa kita tidak tinggal di Indonesia saja? Bukankah Ibu tidak tahan musim dingin? Di Indonesia, kan, tidak ada musim dingin?”
Dan Ibu akan selalu menjawab, “Karena kamu menyukai musim dingin,” sambil mencubit hidung Qiang Jie.
Ia percaya pada jawaban Ibu sebelum dia cukup dewasa untuk tahu bahwa itu jawaban yang kelewat dimanis-maniskan. Alasan sesungguhnya adalah karena Ayah bekerja di sini sehingga Ibu tidak bisa berpisah dengan Ayah untuk tinggal di negara kelahirannya. Qiang Jie selalu lupa akan eksistensi ayahnya. Ayah jarang ada di rumah. Ia selalu bekerja dan hanya pulang di penghujung pekan. Berbeda dengan Ibu yang selalu berbau minyak kayu putih, kemunculan Ayah senantiasa menguarkan aroma alkohol. Berbeda dengan Ibu yang selalu tersenyum sehangat mentari, ayah selalu ketus dan jarang mengobrol. Berbeda dengan Ibu yang bisa Qiang Jie lihat begitu mencintainya, Qiang Jie berpendapat bahwa ayah membencinya. Berbeda dengan Ibu yang selalu ada, Ayah lebih sering berada di luar sana. Tetapi Ibu tidak pernah sedih karena selalu tersenyum ketika bersama Qiang Jie.
Ibu pernah menangis sekali. Kelak Qiang Jie akan tahu bahwa Ibu bukan hanya menangis sekali, tapi berkali-kali, hanya saja Ibu pandai bersembunyi. Kali pertama dan terakhir Qiang Jie mendapati Ibu menangis di kamarnya adalah ketika Ayah pulang setelah dua minggu tidak memunculkan diri.
“Mengapa kau tidak datang akhir pekan kemarin?” Itu suara Ibu ketika Ayah tiba.
“Tidak perlu bertanya. Tentu saja aku sibuk!”
“Bohong! Aku tahu kau lebih suka menemui wanita itu, ‘kan? Bukankah perjanjiannya setiap akhir pekan kau akan datang kemari dan bukannya pergi ke sana?”
Qiang Jie bisa melihat wajah Ayah memerah saat itu. Lalu lelaki itu berderap maju, menampar pipi Ibu sampai Ibu terperosok ke atas ranjang. “Jangan banyak bicara! Aku lelah mondar-mandir! Kau mau uang, kan?” Ayah merogoh tasnya, mengeluarkan sebuah amplop tebal dan membantingnya ke atas tempat tidur, membentur kepala Ibu. “Itu uang! Ambil! Dan jangan banyak protes. Kaulah yang membuat semua ini jadi susah. Kaulah yang menolak aborsi dan malah memilih melahirkan dan membesarkan anak hasil kecelakaan itu. Kaulah yang memutuskan untuk ikut denganku meski aku sudah bilang kalau aku sudah berkeluarga. Kaulah yang tolol, suruh siapa mau menentang keluargamu dan malah ikut denganku?”
Ibu masih menyembunyikan wajahnya dalam posisi telungkup, namun bahunya bergetar. Saat itulah Qiang Jie tahu bahwa ibu menangis. Qiang Jie ingin pergi ke sana untuk memeluk Ibu dan menenangkannya seperti yang biasa wanita lakukan ketika Qiang Jie menangis, tetapi gadis itu takut pada ayahnya. Alam bawah sadarnya berkata agar dia tidak mendekati ayahnya dulu.
Barulah ketika laki-laki itu keluar dari rumah dengan membawa koper berisi helai-helai pakaian dan beberapa berkas lalu memacu limusinnya keluar dari pelataran, ia berani menghampiri Ibu, membawa serta sebotol minyak kayu putih. Tangan kecilnya menepuk-nepuk kepala Ibu dengan lembut. Mengelus-elus rambutnya yang lurus, dan menyanyikan lagu dengan lirih. Sama seperti yang biasa Ibu lakukan padanya.
Tak diduga, Ibu malah menangis semakin keras. Lalu terdengar suara Ibu yang sengau dan serak. “Qiang Jie pergi bermain, ya. Ibu mau mandi dulu.”
Qiang Jie bertanya-tanya, bukankah Ibu tidak biasa sering mandi saat musim dingin? Ibu baru mandi kemarin siang, kalau Qiang Jie tak salah ingat. Tetapi Qiang Jie tidak menyuarakannya, cukup dalam hati saja. Gadis itu menurut. Tanpa perlu disuruh lagi, Qiang Jie membalurkan minyak kayu putih ke perut dan dada, lalu pergi ke luar, memanggil dua temannya untuk bermain salju bersama. Ia akan kembali ketika Ibu memanggilnya.
Namun sampai warna angkasa beralih jingga, panggilan Ibu tak kunjung tiba. Akhirnya Qiang Jie pulang sendiri untuk membantu Ibu menyiapkan makan malam. Ibu tidak ada di dapur, tidak juga di dalam kamar. Qiang Jie baru mendapati Ibu ketika ia masuk ke kamar mandi. Ibu sedang mandi, namun tertidur di dalam bathtub berisi air panas yang sudah mendingin. Qiang Jie memanggil-manggil Ibu, tetapi wanita itu tak kunjung membuka mata.
Sejak saat itu, Qiang Jie membenci musim dingin, minyak kayu putih, dan sup jahe campur ginseng. Semua itu mengingatkannya akan peristiwa kala kedua orang tuanya meninggalkan dia sendirian. Ayah pergi, Ibu pergi, dan keduanya tak kembali lagi. Meninggalkan Qiang Jie yang menangis tanpa ada yang akan menepuk kepalanya, mengelus rambutnya, atau menyanyikannya lagu. Ibunya menyalahi perjanjian. Padahal, wanita sudah berjanji akan selalu ada untuknya dan memasakkan sup jahe plus ginseng yang Qiang Jie sukai.
