Nggak Kuat

Prompt: Asthma

1k+ words

Awalnya gue berpikir, masa perkuliahan bakal menjadi masa terbaik dalam hidup gue. Makanya, meskipun orangtua gue nggak meminta atau menuntut gue harus berkuliah di universitas yang bergengsi punya, gue belajar mati-matian demi memperoleh nilai UN semaksimal mungkin, dan berusaha mempertahankan pengetahuan gue saat ujian masuk PTN. Hasilnya nggak mengecewakan. Gue berhasil masuk ke kampus incaran gue.

Namun apa yang gue temui saat udah menyandang status mahasiswa jauh dari ekspektasi. Seolah-olah, hidup sedang mempermainkan gue dan berkata dengan kalimat ala-ala meme yang sempet tenar belakangan ini: “Tidak semudah itu, Ferguso!” Nama gue memang bukan Ferguso, tapi gue merasa meme itu telak banget. Atau mungkin seperti meme lainnya: gue memburu IPK bagus, pacar cantik dan nggak o’on, berorganisasi dengan cemerlang, namun gue direngkuh oleh sesuatu bernama ‘pergaulan yang nggak sehat’.

Kalau lo semua pada bingung, kenapa gue bisa bergaul sama oknum-oknum yang hobi bolos kuliah dan nitip absen–karena habis ena-ena sama wanita-wanita mereka entah di kolong langit mana–sementara gue sendiri nggak pernah sekali pun menggunakan jatah bolos selama dua tahun berkuliah, sini gue jelasin. Jadi, gue punya utang yang parah banget sama manusia-manusia unfaedah itu. Meski gue bilang unfaedah, sejujurnya tanpa mereka gue nggak bakal bisa napas detik ini. Intinya gue pernah nyaris mati, dan empat mahasiswa berandalan plus playboy cap kadal itu membantu gue di saat orang lain menyingkir. Sejak saat itu, semua orang memandang sebelah mata pada gue karena merasa geli, namun mereka berempat tetap ada di sisi gue buat menopang agar gue nggak jatuh lagi.

Mungkin ini yang dimaksud orang-orang dengan kalimat, ‘Don’t judge a book by it’s cover’. Karena di balik otak penjahat kelamin ala mereka, mereka masih punya hati.

Orang-orang di sekeliling gue sudah memaksa agar gue menyingkir dari lingkaran yang menurut mereka adalah lingkaran setan ini. Gue nggak pernah ikut mereka bolos atau clubbing. Paling cuma nyicip nyebat sesekali kalau lagi ngumpul. Orang-orang itu bilang kalau gue dipengaruhi oleh mereka buat menjadi kacung mereka doang. Padahal gue nggak pernah merasa diperintah ini-itu. Mentok-mentok cuma nitip presensi, tuh. Dan yang paling gue suka dari mereka adalah mereka nggak pernah ngedeketin gue buat minta contekan tugas atau jawaban ujian. Hasilnya emang parah, mereka harus mengulang beberapa mata kuliah. Tapi hal ini bikin gue respek sama mereka. Gue pengin bilang ke lo-lo semua: See? Nggak seperti lo-lo yang sok suci ngatain mereka anu-anu tapi demen mencontek, ngemis jawaban, atau ngerpek.

Bagi gue, mereka jujur dan apa adanya. But people always judge, anyway.

Gue tetap bertahan dalam lingkungan ini, sekalipun gue harus ketiban sial. Karena beberapa kali ketahuan kalau gue yang lancang menyahut pas nama mereka dipanggil, atau menandatangani daftar kehadiran, beberapa dosen ikut memasukkan gue ke dalam blacklist. So, meskipun nilai-nilai gue tergolong bagus dan kehadiran gue selalu mulus, gue nggak bisa beroleh nilai A atau B dalam mata kuliah dosen-dosen itu.

Kalau urusan cewek, lain lagi. Gara-gara keseringan ngumpul sama geng goblok ini, gue jadi punya rasa kasihan sama kaum hawa dan ogah ngedeketin siapa pun. Di sisi lain, emang kelihatannya nggak ada seorang pun cewek yang bakal sudi dideketin sama gue, tuh. Separuh cewek di kampus ini lebih demen cowok baik-baik yang mukanya bersih dan rajin sembahyang di musala serta memilih jauh-jauh dari lingkaran pertemanan gue. Sementara yang separuhnya lagi, malah demen sama anggota geng goblok ini kecuali gue, karena menurut mereka, bad boy itu macho. Buat manusia amfibi alias nanggung alias setengah-setengah kayak gue, nggak ada tempat sama sekali.

“Lo kenapa nggak nyoba nyari cewek, sih?”

“Iyoi. Hidup tuh jangan terlalu lurus, Man! Gue bisa terima kalau lo nggak mau ikut kita, mungkin idiologi lo sama kita berbeda. Cieh, bahasa gue idiologi. Puih. Tapi kalau lo ngejomblo sampai lo menyandang sarjana, gue sungguh prihatin.” Pundak gue ditepuk.

“Atau jangan-jangan, lo homo?”

“Edan! Jangan bilang kalau lo naksir seseorang dari kita berempat?”

Gue keselek asap rokok gue, seketika merasa bengek dalam kumpulan ini. Gue memandang mereka dengan tatapan jijik. “Sori, gue masih normal. Kalaupun gue homo, ogah gue naksir sama lo berempat. Bukan selera gue.”

Bisa ditebak, mereka ngakak.

“Oh, Gan. Karena gue lihat lo ini cowok baik-baik, gimana kalo gue kenalin sama sepupu gue?” kata Joseph yang lebih demen dipanggil Yos.

“Lho? Lo punya sepupu cewek, Yos? ”Kali ini si Ray yang bersuara. “Sejak kap—“

“Punya, pokoknya.” Yos berdeham, dan seketika ketiga manusia lainnya langsung mengubah kelakuan mereka.

“Gue aja deh yang dikenalin.”

“Nggak, gue aja! Si Leo tuh jorok, sempaknya aja diganti tiga hari sekali!”

“Semprul lo pada. Mana sudi gue kenalin sepupu gue sama PK kayak lo? Mending gue kasihin ke anak baik-baik macam dia!”

Demi Dewa. Siapa yang mau menolak kalau ditawarin begini? Tangan gue dingin dan jantung gue berdebar-debar kencang tanpa gue tahu sebabnya. Gue lekas mengangguk. “Oke.”

Rejeki anak soleh, Man!

Satu keputusan yang fatal banget buat gue, sebenarnya. Gue nggak berkaca akan kemampuan diri sendiri. Gue, si cupu sok berandal yang nggak pernah sekali pun berduaan sama cewek, malam ini dibiarin nge-date pertama kali. Di hadapan gue, seorang cewek manis, putih, mulus duduk di dengan senyuman seindah hamparan bunga di taman Mekarsari.

“Hai. Gu-gue … Aman.”

“Halo, gue Yos—ephine. Panggil Fin aja.”

Suaranya halus banget, macam semilir angin. Menyejukkan batin gue yang menggelora oleh gebukan jantung sendiri. Tangan gue dingin dan gemetaran pas menyambut uluran tangannya. Alamak, pakai lotion merk apa sih ni cewek, kok halus banget tangannya.

“Lo mi-mirip banget sama si Yos. Ka-kalian sepupu deket banget?”

Fin mengangguk. “Ibuku sama ibunya saudara kembar,” katanya.

Buset. Gue merasa sangat beruntung bisa dikenalin sama si Fin. Sungguh, gue merasa kelakuan cupu gue salama ini berfaedah bener kalau dengan begitu gue bisa dipilih sama Yos untuk memiliki sepupunya yang super kece ini. Gue terkesiap kala tiba-tiba si Fin bangkit dari kursinya dan duduk di pangkuan gue, mepet banget sampai gue bisa menghirup bau parfumnya yang sangat tajam. Gue langsung pusing. Nggak kuat, entah oleh bau parfumnya, atau kelakuan dia ini. Jantung gue berasa mau meloncat dari tempat semestinya. Hal itu ngebuat napas gue sesak banget dan gue harus menghela napas dalem-dalem. Nggak perlu dijelasin lah ya kalau gue terserang bengek seketika. Dan gue merasa dunia ini berputar ketika wajahnya mendekati wajah gue. Lalu semuanya gelap.

Tapi ada yang gue tangkap sebelum kegelapan menyergap gue. Gue melihat di lehernya ada sebuah tonjolan yang nggak perlu gue jelasin ke lo semua kalau itu mirip punya gue atau punya semua kaum adam di dunia ini. Kemudian, sayup-sayup dalam kegelapan, gue mendengar: “Lho? Man? Man?”

Itu suara si Yos.

“Lo sih, Yos! Pake ide ngerjain si Aman segala! Kalau dia mati gimana?”

Tinggalkan komentar