Prompt: Run, Run, Run
906 kata
“Tok-tok! Selamat siang!”
Bunyi bel dan suara asing membuat saya menghentikan aktivitas di dalam ruang kos yang gelap dan pengap. Ruang itu akan benar-benar gulita tanpa pancaran cahaya dari laptop usang. Sedangkan kepengapannya disebabkan oleh aroma kertas-kertas tua dan lapuk kayu yang lembab karena jarang diterpa mentari, serta ketiadaan sirkulasi udara yang keluar dan masuk. Ventilasi tersegel rapat. Jendela terkatup erat dengan kerainya yang berwarna kelabu tua yang selalu terurai. Satu-satunya piranti pemberi kesejukan hanyalah sebuah kipas angin meja yang senantiasa berputar kecuali bila sedang terjadi pemadaman listrik.
Kalau saja tidak ingat pesan masuk yang mengabarkan akan kedatangan benda-benda pesanan, pasti saya akan mengabaikan suara asing itu.
“Tok-tok! Permisi!” Suara itu terdengar lagi dan saya bertanya-tanya mengapa semua kurir yang saya temui—atau menemui saya—selalu setidaksabaran ini. Mestinya mereka mengerti bahwa untuk bangkit dari duduk setelah berjam-jam berada dalam posisi yang sama itu memerlukan waktu yang cukup lama.
Saya membuka pintu sebelum petugas pengantaran kembali berseru-seru dan membuat ibu kos mengomel seperti kejadian yang sudah-sudah. Lelaki berhelm itu terlihat sedikit kaget begitu saya mencuatkan muka sedikit dari pintu yang nyaris tertutup. Barangkali dia baru sekali ini pernah melihat manusia gua versi abad 21.
“Iya, Mas?” sahut saya, serak. Saya berdeham untuk menjernihkan tenggorokan. Suara saya memang sudah tak dipakai sejak lima belas jam silam. Mestinya sebelum menyambut tamu, saya menenggak segelas air terlebih dahulu. Tapi …, memangnya penting? Toh, saya hanya perlu menemuinya selama waktu yang tidak sampai sepuluh menit.
“Mbak Tisya? Ada kiriman buat Mbak. Silakan tanda tangan di sini.”
Saya mengeluarkan tangan dari celah pintu, lalu menandatangani tanda terima sebelum mengembalikannya lagi.
“Terima kasih,” katanya. “Ng …, kardusnya mau saya bawa ke—“
“Taruh di situ saja,” sergah saya cepat. “Nanti saya bawa masuk sendiri.”
Saya bisa melihat sorot sangsi dalam matanya. Mungkin dia ragu tangan kurus-kering yang dilihatnya tadi bisa memikul kardus TV dua puluh satu inchi berisi tumpukan buku pesanan. Namun akhirnya laki-laki itu menyerah. Dia pergi seusai mengucapkan ‘terima kasih’ sekali lagi dan ‘saya permisi’.
Saya menengok ke sekeliling, memastikan tiada seorang pun yang mengamati, lalu membuka pintu lebih lebar, dan memasukkan kardus yang saya pikul ke dalam kamar dengan enteng.
Saya membenci manusia. Atau lebih tepatnya, saya benci berinteraksi dengan manusia secara langsung. Saling tatap, saling bicara, saling sentuh, adalah aktivitas yang paling terakhir akan saya lakukan di dunia ini. Saya hanya bisa berada dalam lingkaran kecil. Mengobrol dengan satu atau dua orang, dengan durasi tak lebih dari satu jam. Selebihnya, saya akan merasa gelisah dan ingin …, menghancurkan diri saya sendiri.
Saya membenci manusia. Kerumunan adalah apa yang saya jauhi. Saya mencari uang, berinteraksi, dan mendapatkan semua kebutuhan melalui jaringan. Tanpa internet, saya mati.
Saya membuka dus setelah menyalakan lampu yang tidak lebih terang dari pendar pelita. Duduk bersila, menyusun novel-novel yang sebentar lagi akan saya lahap isinya. Semuanya novel lama, beberapa di antaranya bahkan sudah tak lagi bersampul depan. Meski demikian, benda-benda itu tentu sangat berarti bagi saya.
Ponsel di dalam saku saya berdenting, dan detik itu juga saya menyesal mengapa tidak mematikannya saja tadi. Begitu melihat layarnya, keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuh. Saya baru saja diundang masuk ke sebuah grup alumni sekolah. Yang membuat saya bertanya-tanya, dari mana mereka beroleh nomor kontak saya? Demi menghalau penasaran, saya menengok chat yang terus berdatangan dalam grup itu seperti siraman hujan. Deras. Memutuskan menjadi silent reader, saya menyimak apa yang mereka bincangkan. Oh, rupanya sebuah acara reuni.
Saya baru saja mau membisukan notifikasi ketika menangkap nama saya tercetak di dalamnya.
‘Tisya ngelihatin doang masa’
‘Oy, @Nomor Saya say halo kek’
‘eh halo Sya, long time no see hehe kerja dmn skrg? Kok ilang kabar?’
‘Tisyaaa aaa makin misterius aja nih wkwkwk’
‘tisy, udah nikah ya? Punya bontot berapa?’
Saya menghela napas. Sempat bingung sejenak ingin mengetik atau tidak. Pada akhirnya, saya ketikkan sederet kalimat: ‘Dapat nomor saya dari mana?’
Balasannya muncul tak kalah cepat. ‘Ih Tisya, sekalinya nongol begitu doang huhu’ ‘dari mana-mana wqwq … eh kita mau reuni ini, ayo bahas!’
Emosi memuncak di ubun-ubun. Tangan saya dingin karena gugup, namun saya paksakan memberi balasan sebelum keluar dari grup chat itu.
‘Saya tidak akan ikut reuninya, jadi mohon izin untuk leave chat, ya.’
Selanjutnya, saya matikan layanan data dan melesakkan semua buku ke dalam dus. Berkat satu grup alumni, lenyap kegembiraan saya, digantikan oleh ketakutan dan kecemasan yang luar biasa.
Layar laptop padam dengan sendirinya karena sudah dua puluh menit tak saya gunakan. Sedangkan saya berbaring di atas kasur yang membentang di lantai, menatap langit-langit yang digelantungi sarang laba laba.
Bisa-bisanya, orang-orang yang saya kenali menemukan saya.
Internet bisa menghalau jiwa dari keterasingan akan perkembangan dunia ini. Saya akan sepakat dengan pendapat ini. Namun demikian, lama-kelamaan ia akan berbalik membunuh saya. Kenyamanan yang ia tawarkan membuat saya betah berlama-lama di hadapan layar, menjauh dari dunia sekitar, ikut arus dalam jiwa-jiwa serba selular. Ia membentuk dan menumbuhkan autisme dalam tubuh seorang gadis berusia akhir remaja hingga mendewasa.
Kelamaan bergaul dengan orang-orang dalam layar membuat saya tak menyadari perkembangan di sekitar. Ketika saya tersadar, dunia sekitar sudah berlalu lebih jauh dari apa yang saya pikirkan. Teman-teman sibuk mengejar karir dan kesejahteraan hidup di kala saya masih berasyik ria. Orangtua saya menjauh. Dan membuat saya kabur dari realita dengan menciptakan hidup saya sendiri di kota yang jauh.
Tak ada satu pun orang dari masa lalu yang boleh mengetahui tentang di mana saya berada atau bagaimana kondisi saya. Biarlah mereka menganggap saya telah tiada. Toh, saya yang dahulu memang sudah saya kubur sejak lama.
