Snow in Your Eyes

Prompt: Winter in You

Length: 949 words

“Aku bisa melihat kepingan salju dalam bola matamu.”

Kalimat itu sudah sering Seul Ah dengar, meluncur begitu mulus dari lisan pemuda jahil bernama Yoon Gi. Alih-alih gembira atau tersipu, pernyataan itu malah membuat Seul jengkel setengah mati. Laki-laki yang kerap menjadi tersangka utama dalam kasus keributan antarmurid itu selalu membubuhi seringai setiap kali dia memanggil Seul dengan julukan ‘Gadis Mata Salju’, dan itu membuat Seul tahu bahwa kalimat itu bukanlah suatu pujian yang harus ditimpali dengan ucapan syukur atau terimakasih, melainkan sebuah hinaan tidak langsung.

Sebab Min Seul Ah berbeda. Warna irisnya tak sama seperti warna iris masyarakat Asia kebanyakan. Miliknya berwarna abu-abu cerah yang condong keperakan, bukannya hitam atau cokelat tua. Padahal wajahnya jelas wajah oriental, dan kedua orangtuanya orang Korea asli.

Dahulu, ketika ia masih SMP, Seul akan merespons dengan lemparan buku atau kotak pensil sebagai ganjaran akan tuturan biadab seorang Yoon Gi. Namun, sejak anak laki-laki itu menjalankan ide usil lainnya dengan memungut atau menangkap objek yang terlontar ke arahnya dan enggan mengembalikannya sampai berhari-hari, Seul mulai mengganti senjata dengan gulungan kertas bekas yang jelas tidak akan ia pusingkan sekalipun dibawa Yoon Gi bertahun-tahun lamanya. Malah syukur, Seul jadi tidak punya kewajiban untuk menjejalkan benda-benda itu ke kotak sampah.

Semua anak sekelas sudah tahu bahwa paduan antara Seul dan Yoon Gi akan menciptakan perang lokal. Kalaupun tiada aksi lempar-lemparan sampah karena Seul terlalu malas menanggapi, Yoon Gi akan terus mengusik gadis itu sampai amarah menyulutnya, dan yang terjadi adalah aksi saling lontar makian. Hal ini sudah menjadi rutinitas. Maka, bila ada anak kelas lain yang bertanya tentang Seul Ah, mereka akan memastikan, “Oh, Seul-nya Yoon Gi?” atau sebaliknya. Sampai beredar keputusan baru yang seolah ditetapkan di luaran sana tanpa diketahui oleh dua anak itu sendiri. Min Seul Ah adalah milik Kang Yoon Gi, dan Kang Yoon Gi adalah milik Min Seul Ah.

Mereka semua tidak tahu betapa Seul kesal setengah mati pada si bungsu Kang yang gemar mencari perhatian publik dengan tingkah urakannya. Maka, tak bisa digambarkan betapa bahagianya gadis itu begitu tahu bahwa Yoon Gi tidak akan melanjutkan SMA-nya di Seoul, sebab kedua orang tuanya dipindahtugaskan ke Jepang. Itu artinya, peluang untuk belajar bersama dalam satu atap, apalagi satu kelas, adalah nihil sama sekali. Seul yakin, dia bisa menjalankan masa SMA dengan indah tanpa kehadiran sang dewa bencana.

Namun, mimpi dan angan-angannya musnah seketika kala ia menemukan bocah itu ada dalam gerombolan anak sekelas dalam upacara penerimaan. Yang lebih mengesalkan bagi Seul, dia sudah susah-payah menyusun strategi agar tak terendus oleh Yoon Gi, namun cowok itu malah meneriakkan namanya keras-keras. Seul pura-pura tuli, tentu saja. Tetapi Yoon Gi bukan Yoon Gi jika tak berhasil membuat Seul jengkel. Laki-laki itu berteriak dengan kalimat yang paling Seul benci seumur hidupnya:

“Hei, Gadis Mata Salju!”

Saekki-ya!1′ maki Seul dalam hati. Tangannya mengepal di sisi tubuh. Dia harus menahan diri agar tidak tersulut emosi dan membuat namanya tercoreng di hari pertama bersekolah. Barulah ketika seorang guru membentak Yoon Gi dan menyuruhnya diam karena upacara akan segera dimulai, Seul baru bisa mengenal kembali yang namanya bernapas dengan leluasa. Meski tak permanen, pastinya. Sebab kehidupan SMA Seul yang buruk sudah menantinya di hari-hari berikutnya.

Julukan ‘Gadis Mata Salju’ selalu digunakan oleh Yoon Gi seberapa kali pun dia menegaskan bahwa dia punya nama, dan namanya Min Seul Ah. Namun kebebalan makhluk yang di mata Seul bukan lagi manusia melainkan seonggok sampah hidup, membuatnya menyerah. Dia lelah. Maka, Seul biarkan laki-laki itu memanggil sesuka hatinya, sampai ia terbiasa walaupun pada akhirnya ketabahannya akan luluh juga dan bermuara pada lontaran sampah ke kepala Yoon Gi.

Segalanya akan sama apabila Seul tidak mempelajari tentang genetika pada pelajaran Sains. Penurunan sifat menjadi materi yang menguras keingintahuan gadis itu tanpa habis.

“Apakah warna mata juga termasuk sesuatu yang diwariskan dari kedua orang tua?”

“Pada dasarnya, warna mata adalah karakter fenotipik poligenik2 yang ditentukan oleh dua faktor berbeda. Yang pertama adalah pigmentasi iris mata, dan yang kedua adalah frekuensi hamburan cahaya pada stroma3 iris,” jelas gurunya. “Pada manusia, pigmentasi iris bervariasi dari coklat muda sampai hitam, tergantung pada konsentrasi melanin pada epitel4 pigmen iris, kandungan melanin di dalam stroma iris dan kepadatan seluler stroma.”

Salah satu teman mengacungkan tangan. “Kenapa orang Eropa rata-rata memiiki warna mata biru atau hijau? Apakah itu juga disebabkan karena pigmen?”

“Pigmen biru dan hijau tidak ada dalam iris cairan mata manusia. Genetika warna mata itu sangat rumit dan ditentukan oleh banyak gen. jumlah gen yang berkontribusi terhadap warna mata belum diketahui. Tapi gen dalam bentuk varian, bisa menyebabkan warna mata merah muda dan hipopigmentasi5 umum pada albinisme6.”

Seisi kelas hening.

Min Seul Ah jelas bisa merasa puas akan jawaban dari sang guru terkait warna matanya, kalau saja pertanyaan berikut yang dia ajukan tidak pernah dia peroleh jawabannya.

“Apakah mungkin dua orang tua bergolongan darah 0 menurunkan anak bergolongan darah B?”

“Tidak.”

Satu kata itu sudah cukup bagi Seul untuk menyadari posisinya saat ini. Sepanjang hari dilalui gadis itu dengan membisu. Perubahan ini nampak mencolok bagi Yoon Gi yang duduk di kursi paling belakang. Diam-diam, dia mengamati Min Seul Ah sampai pulang dan mengekori jalannya. Firasatnya buruk.

Seul yang tak fokus tidak menyadari kalau dirinya dibuntuti. Dia terus melangkah, tanpa mengetahui bahwa Kang Yoon Gi mengawasinya dari belakang dengan tampang cemas. Gadis itu masih berpikir akan golongan darahnya yang berbeda dengan kedua orangtuanya, kala kakinya menyeberangi jalan dengan langkah lesu, dan tak sadar bahwa lampu jalanan sudah beralih warna. Yang dia tahu, ketika itu ada seruan dari arah punggung yang terdengar seperti suara Yoon Gi, lalu tubuhnya disambar sesuatu sebelum kesadarannya disergap kegelapan.


“Gadis Mata Salju. Aku bisa melihat kepingan salju dalam bola matamu. Cantik. Indah. Menawan. Aku menyukainya.”

Kalimat itu terbang terbawa angin ke atas langit, bersama jiwa yang tak sempat mengucapkannya penuh-penuh.

[FIN]

Catatan Kaki:

1 Saekki-ya: anjing (umpatan)

2 Fenotipik poligenik: sifat yg dapat diamati dan dipengaruhi oleh faktor genotipe dan lingkungan. Dalam hal ini dipengaruhi oleh suatu seri gen ganda yang menentukan sifat secara kuantitatif.

3 Stroma: lapisan tengah paling tebal dari sebuah kornea dan tersusun atas air dan protein sehingga berbentuk padat dan elastis.

4 Epitel: lapisan terluar pada kornea mata berfungsi mencegah benda-benda asing dari luar tubuh tidak masuk ke mata. Lapisan ini juga berfungsi menyerap oksigen dan nutrisi dari air mata.

5 Hipopigmentasi: Hipopigmentasi merupakan suatu kondisi di mana kulit tampak lebih terang atau putih karena kekurangan pigmen melanin yaitu zat alami pemberi warna kulit.

6 Albinisme: suatu kelainan pada produksi melanin yang menyebabkan penderitanya kekurangan melanin atau sama sekali tidak memiliki pigmen tersebut

2 respons untuk ‘Snow in Your Eyes

Tinggalkan komentar