Knock … Knock …

Prompt: Knock-Knock
869 Words

Kamu selalu beranggapan bahwa hidup tak perlu dipusingkan.

Bukan berarti bahwa kamu adalah tipe yang pasrah dalam setiap keadaan. Tidak. Pada awalnya, kamu akan berusaha terlebih dahulu dengan kemampuan sendiri, bersyukur bila semesta merestui, tapi kalau tidak pun tak apa, kamu tidak akan memaksakan diri. Mungkin itu sudah jalannya, katamu selalu.

Barangkali karena itulah, tidak pernah sekali pun kulihat wajahmu kusut. Seakan kamu tidak mengenal apa itu kesedihan, kecemasan, apalagi penyesalan. Setiap pukul sepuluh malam, bila tak ada aral melintang, cerita-ceritamu tentang hidup yang selalu positif akan datang padaku serutin jadwal ibuku minum obat.

Kamu akan berceloteh tentang orang-orang yang kau temani di rumah sakit. Tentang Pak Yusuf yang menderita demensia dan tiada yang sudi menjenguk, tetapi tetap tertawa gembira setiap kali kau bercanda. Tentang seorang anak bernama Rio yang menderita kanker namun tetap punya semangat hidup. Atau tentang teman-temanmu yang selalu saja punya kabar baru.

Waktu ayahmu meninggal dua tahun yang lalu, hanya kamu satu-satunya yang tidak mengucurkan air mata. Sementara sedu sedan melingkupi semua anggota keluargamu, kamu justru berdiri begitu tenang. Tak ada segurat pun dari wajahmu yang tampak sedih akan sebuah kehilangan. Orang-orang mulai bergunjing, berkata bahwa mungkin kamu sebenarnya gembira melihat ayahmu berkalang tanah. Kamu mendengarnya jelas, sangat jelas. Namun kamu tetap tenang. Diam. Tiada pertanda akan mengamuk, menangis, merintih, mengadu, atau menuntut.

“Siapa yang bilang aku nggak sedih?” katamu selepas acara doa selesai. Kala itu kita duduk berdua di depan serambi. Menatap bintang-bintang yang berkelipan di angkasa, menikmati embusan angin sehabis hujan tadi sore. Para pelayat sudah bubar, menyisakan beberapa keluarga dekat yang menghibur ibu dan adik-adikmu di dalam sana. “Aku pengin sedih. Tapi begitu kupikir bahwa Ayah sudah bahagia karena bisa lepas dari segala beban di dunia ini, kesedihanku lenyap.”

“Memangnya kamu nggak kangen?”

Kamu tertawa. Menatapku. “Tentu rindu. Akan rindu. Rindu itu sudah cukup kusampaikan lewat doa. Lantas, apalagi yang harus kucemasin?”

Kalau saja aku tidak melihat kesungguhan dalam binar matamu, aku akan berpikir kamu sedang menipu diri sendiri. Mana mungkin ada orang yang begitu positif sepertimu? Aku sangat takjub. Meski demikian, kupikir, aku perlu waspada.

“Kalau kamu butuh teman ngobrol, tentang apa pun, jangan sungkan hubungi aku. Ceritakan tentang apa pun yang terjadi dalam hidupmu. Aku akan dengerin. Selelah apa pun,” ucapku pasti. Tidak menyadari bahwa ada banyak kata apa pun dalam ujaranku barusan.

Kukira kamu akan tertawa karena menganggapku berlebihan. Alih-alih demikian, kamu malah berkata, “Setiap jam sepuluh malam, bagaimana?”

Itulah cerita yang menjadi permulaan telepon yang rutin tiba setiap pukul sepuluh malam. Kamu tidak pernah kehabisan bahan cerita, sekalipun kita baru saja berpisah beberapa jam silam. Dan aku tidak pernah merasa bosan. Entah mengapa.

Kebakaran rumah, kamu yang jatuh motor dan terkena luka ringan, semua kau ceritakan dengan gaya yang sama seperti ketika kamu berkisah soal menonton film bersama teman-temanmu, atau kamu yang mendapatkan nilai 4 pada IPK-mu. Mungkin itulah yang membuatku selalu menanti-nanti pukul sepuluh malam tiba. Untuk mendengarkan suaramu yang selalu positif dalam kondisi apa pun. Beberapa menit sebelum ponselku berdering, aku akan berharap-harap cemas. Begitu namamu tertampil di layar, hatiku berdebar-debar.

Dua tahun. Cukup dua tahun untuk menyadari bahwa kamu sudah bukan lagi sekadar temanku. Aku sudah jatuh hati padamu.

Hari itu seperti biasanya. Teleponmu datang dan aku akan kegirangan sendirian. Kukunci pintu kamar setelah berteriak, “Aku mau tidur. Jangan bangunin aku kecuali kalau ada gempa, tsunami atau kebakaran,” kepada seisi rumah, meski aku tahu bahwa rutinitasku ini sudah mereka hafalkan. Bagaimana pun, tidak akan kubiarkan siapa pun mengganggu prosesi telepon denganmu yang sangat sakral dan berharga.

Namun, apa yang terjadi malam itu, bukanlah apa yang terjadi pada malam-malam sebelumnya. Ceritamu yang sampai padaku bukan cerita tentang Pak Yusuf, Rio, atau teman-teman wanitamu yang lain.

“Aku dilamar.”

Aku membatu. Berikutnya, kamu mengatakan kalimat lain tapi aku tidak mendengarnya. Seperti terkena earworm, di telingaku hanya terngiang-ngiang dua kata itu saja.

“Daffa? Halo? Kamu denger nggak, sih?”

Mataku mengerjap beberapa kali. Aku terduduk di ranjang dengan lunglai. “Eh. Iya? Sorry. Kenapa tadi?”

“Ih, kamu tuh, ya! Katanya bakal selalu denger apa pun yang kukatakan. Mana janjimu?” kekehmu. “Oh, iya. Kemungkinan kami bakal tunangan dulu sebelum menikah.”

Kalimat-kalimatmu yang penuh buncahan bahagia meletup-letup di ponsel, namun aku hanya menimpali dengan gumaman singkat. Aku terlalu bisu untuk berkata-kata. Hingga kamu mengucapkan kata pamit sebab malam telah kian larut, benda itu masih menempeli telinga.

Sepertinya aku terlambat. Berarti semua kodeku selama ini tak kamu tangkap, ya?

Aku melangkah ke jendela yang kerainya terbuka. Menatap rinai hujan yang gemerlapan karena membiaskan cahaya lampu rumahku dan rumah tetangga. Kuukir pola acak di permukaan kaca yang berembun.

Bukan. Bukannya aku tak bernyali. Selama ini aku mengira, kamu adalah tipe yang tidak suka hal-hal romantis, hubungan atau keterikatan. Makanya selama ini aku memilih diam. Diam-diam mengirimkan sinyal dan berharap kamu peka.

Aku mendengus kala menyadari betapa aku terus melakukan pembelaan atas ketololanku. Padahal faktanya, aku memang pengecut. Aku takut kamu akan berubah bila aku mengaku. Aku takut, aku tidak akan menerima cerita-cerita positifmu yang tiba saban pukul sepuluh malam. Aku takut, aku akan kehilanganmu bila aku mengatakan bahwa aku menyukaimu.

Dan realita membentur semuanya. Ironisnya, dengan diamku, dengan nyali yang seujung kuku, aku malah kehilangan kamu.

Kamu lihat hujan malam ini? Aku adalah tetesan airnya yang jatuh tepat di atap rumahmu, berharap tempiasnya sampai ke hatimu. Namun, kamu memilih lelap di bawah selimutmu, dan mengabaikan aku yang sedang mengetuk jendela kamarmu untuk mengabarkan rindu.

2 respons untuk ‘Knock … Knock …

Tinggalkan komentar