#MyWords19 • Mimpi
dalam 450 kata
Prompt: Ditto
Maya berpijak sendirian lagi di sini. Tempat tinggalnya telah hampa. Rumah disulap menjadi puing-puing. Langit yang semula biru digumuli kelabu.
“Ayah …, Ibu ….”
Tiada jawaban. Ia terseok-seok di antara reruntuhan. Di balik batu serpihan tembok dapur, kepala Ibu menyembul bersimbah darah dan lumpur.
Wajahnya terpaling ke arah yang berbeda. Ditemukannya lengan Ayah, yang ditandai dengan cincin batu akik hitam, tergolek tanpa tubuh.
“Ayah …, Ibu ….”
Tetap tidak ada sahutan, selain angin yang kini bukan hanya menggigilkannya, tapi juga membekukan.
Air dari dalam mata membawakan keterjagaan. Mata basahnya terbuka. Langit-langit kamarnya yang akrab dan mulai terang menyapa. Sudah subuh. Namun, ditariknya selimut menutup tubuh hingga kepala, dari dingin yang tak datang dari suhu udara.
Sampai pintu terjeblak. “ANAK GADIS! SEKOLAHMU JAUH!” Selimut tersibak kasar. “MAYA! BANG—”
Kata-kata Ibu berhenti saat menemukan Maya mengelap air mata sambil sesenggukan.
Ekspresi wanita paruh baya itu berubah datar. “Apa lagi kali ini? Mimpi buruk lagi? Yang sama lagi? Sudah Ibu bilang, berhenti baca dan nonton soal kiamat-kiamat itu! Nggak sehat, kamu akan kepikiran terus! Otakmu harusnya dipakai belajar dan bermain! Bukan disiksa adegan menyeramkan!”
Ibu pasti sudah bosan dengan cerita mimpinya. Yang selalu sama setiap bulan. Belakangan intensitasnya jadi lebih sering. Maya menandai kalender meja; sudah tiga kali ia bermimpi sepanjang Juni.
Makanya Maya memutuskan untuk tidak berkisah lagi. Sekalipun kengerian itu masih terasa. Sekalipun mungkin akan memengaruhi konsentrasinya belajar seperti sebelumnya. Maya hanya perlu melatih imun dan melupakannya, agar anime dan manga favoritnya tidak dimusnahkan.
Hari ini langit cerah. Waktu yang cocok untuk berolahraga di lapangan sekolah, tapi suasana hatinya yang jelek membuat Maya bolos. Alasannya sakit, tapi alih-alih ke UKS, Maya bertahan di kelas yang lengang. Kepalanya rebah di meja, kupingnya disumpal penyuara telinga.
Tiupan pengatur suhu membalun. Mata Maya memberat tanpa ampun. Entah berapa lama ia bertahan dan terlelap. Yang jelas, tidurnya kali ini nyenyak. Amat nyenyak. Meluputkannya dari getaran-getaran. Dari teriakan-teriakan. Dari kehebohan-kehebohan.
Ia baru membuka mata saat tubuhnya diguncang hebat dan telinganya disambar suara berdesibel tinggi: “Maya! Bangun! Gempa!”
Panik, anak itu ikut berlindung di bawah meja, sebagaimana teman-temannya yang kini sudah masuk ke kelas. Gemetar tubuhnya bukan hanya karena guncangan ini, tapi juga karena kecemasan. Apakah tempat tinggalnya aman? Apakah Ibu dan Ayah baik-baik saja?
Ada tekanan yang naik ke dadanya. Rasa panik telah mencuri napasnya. Hingga akhirnya guncangan mereda. Tidak ada kerusakan, tapi anak-anak sekolah dipulangkan lebih awal. Maya segera mencangklong tas, memaksa pulang. Namun, tidak ada kendaraan yang beroperasi ke tempat tinggalnya. Guru-guru ikut menahannya.
“Desa Angin Timur pusat gempanya, Nak. Di sana semuanya hancur dan banyak korban jiwa.”
Maya menggigil. Teringat saat ia berpijak sendirian di sana. Tempat tinggalnya telah hampa. Rumah disulap menjadi puing-puing. Langit yang semula biru digumuli kelabu.
Kaki Maya terasa seperti agar-agar. “Ayah …, Ibu ….”
