#MyWords16 • Rak Rahasia
dalam 280 kata (tantangan jumlah kata)
Elara pindah dua hari lalu, tapi sudah tiga kali mengunjungi perpustakaan belakang rumah. Berkat didikan Ibu yang kini di Surga, membaca lebur bersama jiwanya.
Saat pertama Elara tiba, wanita penjaganya memuji ramah. “Tidak biasanya kami kedatangan anak remaja yang betah. Teruslah membaca, Nak.”
Jadi, Elara tidak percaya kata-kata Dwipa, teman sekelasnya.
“Wanita itu penyihir. Dia punya rak rahasia yang menakutkan.”
“Bohong. Aku ke sana biasa-biasa saja!”
“Tanya saja dia penyihir apa bukan!” tantang Dwipa. “Abangku pernah ke rak itu dan pulangnya terkencing-kencing.”
Pada kali keempat kunjungannya, akhirnya Elara bertanya, “Benarkah Tante seorang penyihir?”
Pustakawati itu menyeringai. “Dari mana kamu mendengarnya? Apa kamu mau melihat ‘rak rahasia’?”
Elara penasaran sekaligus takut. Namun, Ibu pernah bilang, tak pengetahuan yang salah ataupun buruk.
Maka, Elara mengangguk. Ia diberikan sepotong kunci emas. “Ada lubang kunci di antara rak 7 dan 8.”
Setengah cemas setengah antusias, Elara melangkah. Pada lubang kunci berdebu ia memasukkan kunci. Tiba-tiba ada pintu terbuka. Rupanya itu rak berlabel 7B.
Buku-bukunya tampak lama seperti datang dari masa lalu. Diambilnya satu buku. Dibukanya hati-hati.
Seketika, pandangannya dipenuhi cahaya. Pelukan semesta. Kedipan bintang-bintang. Tarian meteor.
Energi mengalir dalam dirinya. Buku ini tidak hanya mengisahkan keindahan alam semesta, tetapi juga membawa perasaan kedamaian dan kebahagiaan yang mendalam. Dia merasa seperti terhubung dengan semesta itu.
Kemudian, kilasan memori almarhum Ibu muncul. Ibu yang membacakan dongeng-dongeng buatannya tengang galaksi, tentang atau kisah-kisah mengenai petualangan di luar angkasa.
Saat buku itu ditutupnya, dan Elara kembali ke sang pustakawati, ia pun tak mampu menahan diri bertanya.
“Apa yang membuat kakak temanku takut datang lagi?”
Tak diduga, Pustakawati itu tertawa. “Ruang itu menyimpan rahasiamu sendiri. Kebetulan jelek, kakak temanmu membuka buku berisikan aib-aibnya. Makanya, perbanyaklah kenangan yang baik-baik saja.”
Rak Rahasia
