#MyWords15 • Kota Memoriam
dalam 449 kata
Prompt: Mati Sajroning Urip, Urip Sajroning Pati
“Selamat datang di Kota Memoriam, wahai Jiwa Baru. Siapakah namamu sebelum mati?”
Aku mengerjap bingung. Makhluk berseragam di depanku balas mengerjap-ngerjap. Namun, ia berakhir tidak sabar. “Hello? Nona? Dengan siapa ini?”
“Pi.”
“Pi—?”
“Pi saja.”
“Baiklah. Pi. Sebelumnya, apa pekerjaanmu?”
“Aku—em—penulis. Sebentar, sebenarnya ini di mana?”
Tuturnya galak, “Sudah kubilang, ini Kota Memoriam. Tempat jiwa-jiwa dikekalkan memori orang-orang yang masih hidup!”
“Dengan kata lain, ini surga?”
“Bukan surga!” Ia membentakku. “Ini kota yang mengekalkan kenangan! Kenanganmu menjadi hidupmu!”
“Ah,” aku menggumam. “Baiklah.”
Seketika ia kembali bersikap manis. “Kau penulis? Kalau begitu, pasti, kau cukup kaya, bukan? Penulis selalu punya karya yang kekal. Sebentar, kucari di mana alamatmu—baris penulis, kolom perempuan, nama Pi—ah, ini dia! Tempatmu di Distrik Abu-abu. Apakah kau mau langsung pergi, atau mau kuajak berjalan-jalan dulu?”
Mulutku sudah mau membuka. Tapi dia segera memutuskan sendiri, “Baiklah, ide yang paling bagus untuk Penulis Pi yang sedang bingung adalah berjalan-jalan. Mari, silakan naik ke atas karpetku!”
Tiba-tiba saja, selembar karpet ungu melayang mendekat. Sebelum sempat kukuasai diri, aku sudah menungganginya bersama si pemilik karpet. Kami memelesat di udara.
Atap-atap rumah yang bervariasi menyapa pandangan. Ada besar, ada kecil. Dalam hati, aku bertanya-tanya apakah di sini pun ada sistem kasta.
“Tentu saja ada! Semua bergantung pada seberapa besar kau memberi kesan pada orang lain!” sahut sosok di sebelahku, membuatku terlonjak.
“Kau bisa membaca pikiran?”
Dia tertawa. “Membaca pikiran! Konyol sekali. Apa yang kaubatinkan akan terlihat sejelas kau menyatakannya. Jadi percuma saja membatin. Omong-omong, biar kuperkenalkan kau.”
Ditunjuknya rumah paling mewah di distrik putih. “Kau pasti mengenalnya, itu rumah seorang artis yang punya banyak bisnis jasa. Rumah sakit atas namanya, sekolah atas namanya, galeri seninya, album-albumnya …,.hebat sekali, bukan? Yah, begitulah kalau kau bekerja di industri kreatif sekaligus banyak kontribusi pada kehidupan. Akan ada banyak yang mengenangmu dan menjadi hartamu di sini.”
Berikutnya, dia menunjuk lagi yang lain. Rumah paling mewah di distrik hitam dimiliki seorang pembunuh berantai. “Dia jahat, merugikan lingkungan, tapi banyak orang mengenangnya karena kenangan-kenangan akan hidupnya membekas.”
Lalu kusimpulkan hitam dan putih adalah dikotomi moralitas, yang diangguki oleh pemanduku. Tidak heran distrik abu-abu yang paling ramai penduduknya. Ada banyak sekali rumah-rumah mewah di sana. Presiden yang kukenal. Musisi legendaris yang dikabarkan bunuh diri. Dan lebih banyak lagi orang ternama.
“Terus, mereka?” Telunjukku terarah pada sosok-sosok tunawisma di emperan.
“Oh, abaikan saja. Mereka adalah orang-orang yang tidak punya kenangan dan kontribusi apa pun dalam hidup sama sekali. Hidup dan mati mereka sama saja. Omong-omong kita sudah sampai—sebentar, ini betul rumahmu? Katanya kau penulis?” dia memprotes.
Rumah sepetak beratap rompal adalah kediamanku. “Yah, aku penulis yang tidak tenar. Hidupku kuper. Banyak juga karyaku yang diakui karya orang lain. Kenangan orang tentangku jelas hanya seuprit.”
