Nyala

#MyWords14 • Nyala
dalam 449 kata

Prompt: Api Unggun



Ini salah Bara, pikir Agni. Mereka tidak akan tersesat, andaikata cowok itu tidak menerbitkan ajakan berkemah di gunung. Walhasil, malam menjebak mereka dalam ketidakpastiannya.

Ini salah Agni, pikir Bara. Kalau saja Agni sedikit becus menavigasi, mobil takkan berputar-putar dalam ketidakjelasan sampai kehabisan bahan bakar. Akibatnya, sekarang mereka terkungkung dalam belantara.

Auman serigala dari kejauhan adalah satu-satunya bahana selain suara keduanya. Absennya nyanyian jangkrik justru membuat situasi semakin mencekam karena anomali.

Agni mengeluh, “Bateraiku hampir habis.”

“Bagus. Bertambah lagi masalahmu,” Bara menggeram.

Jelas emosi Agni tersulut. Amukannya sudah menggelantungi ujung lidah, tapi ditelannya kembali bersama saliva. Sesuatu telah menghela pandangannya dan menjadi prioritasnya segera. Telunjuk dan senter dari ponsel yang sekarat menuding ke arah yang sama.

“Bar! Ada gua! Kita bisa istirahat bentar di sana.”

Bara sangsi. “Kamu …, yakin?”

Mengabaikan keraguan kekasihnya, Agni melangkah mantap. Menurutnya, dalam udara malam di gunung yang semakin dingin, menginap dalam gua adalah opsi yang lebih baik dibanding berkitaran di tengah rimba.

Dari mulut liang itu, tampak cahaya yang membangkitkan harapan. Keduanya mendekat. Cahayanya datang dari nyala api unggun. Lidahnya menjilat-jilat udara. Beberapa barang bawaan orang tergeletak rapi di tepian.

“Ada orang sebelum kita,” Bara menebak. “Permisi?”

Akan tetapi, yang menyahut hanyalah gema suaranya sendiri yang terpantul dinding gua.

“Setidaknya kita tahu tempat ini aman karena ada orang lain.” Agni meletakkan ransel. Akhirnya, beban yang memeluk punggung bisa ditanggalkannya.

Terduduklah mereka. Panas yang meradiasi telapak-telapak tangan setidaknya cukup menghibur diri. Namun, bukan berarti kekesalan itu mereda.

“Semua ini salahmu. Kalau nggak ngajak kamping ke tempat aneh ini, kita nggak bakal tersesat,” Agni memulai.

“Salahku? Justru ini karena kamu payah! Kalau nggak salah baca peta, kita sudah sampai di tujuan sekarang,” balas Bara tak kalah marah.

Agni mendengkus, tapi memilih tidak membalas. Bara ada benarnya. Dia membalikkan badan, membuka ransel guna mengeluarkan perbekalan.

Tiba-tiba Bara menceletuk, “Tunggu—sebentar—”

Suaranya terdengar serius. Kalimatnya menggelantung. Agni menunggu, tapi tidak kunjung ada lanjutan. Saat ia kembali menoleh, Bara tak ada di mana-mana. Hanya derik api yang tenang sedang bermain-main: goyah sebentar, lalu kembali stabil.

“Bar?”

Sunyi.

Kepanikannya seketika kumat. Agni bangkit, mengecek ke mulut gua. Diserukannya nama Bara berulang kali. Tetap tak ada jawaban. Apa Bara meninggalkannya?

Air mata yang lahir dari rasa sesal dan kesal langsung meluap. “Pengecut! Kamu tinggalin aku sendirian!”

Matanya meratap pada nyala api unggun. Seketika, tangisannya terjeda.

Di dalam nyala api, dilihatnya bayangan bergerak samar-samar. Mereka tampak bagai siluet manusia-manusia yang dikerdilkan. Bayangan itu semakin jelas, kian jelas, seakan-akan mendekatinya.

Bola matanya membesar. Sosok mirip Bara pun ada di ….

“Tunggu—sebentar—”

Kata-kata itu tidak pernah menjumpai kekomplitan. Api sudah telanjur melalap pandangannya.

Kemudian, gua itu kosong. Tak ada siapa-siapa. Tak ada suara-suara. Hanya derik api yang tenang sedang bermain-main: goyah sebentar, lalu kembali stabil.

Tinggalkan komentar