Agresi

#MyWords13 • Agresi
dalam 300 kata
Prompt: 1947


“Pergi! Kenapa Anda datang kembali dan menyakiti saya lagi?!”

“Sebab kalau tidak saya sakiti, sayalah yang akan Anda sakiti!”

“Adalah hak saya untuk mempertahankan diri saya sendiri!”

“Saya datang dengan maksud baik. Mari berdamai. Mari hidup bersama-sama lagi seperti dahulu.”

“Maaf, tapi tawaran Anda saya tolak mentah-mentah. Saya sudah memutuskan hidup mandiri sejak dua tahun lalu. Kedatangan Anda hanya akan menuai kesia-siaan.”

“Tidak. Anda memutuskan hidup mandiri dari hubungan Anda dengan Beliau. Bukan hubungan Anda dengan saya. Secara teknis, kita masih terikat sekarang.”

“Lihat siapa yang berbicara sekarang! Bukankah Anda sudah dilengserkan oleh Beliau? Saya pun berhasil melengserkan Beliau. Artinya, saya juga sudah melengserkan Anda.”

“Premis itu tidak berlaku di sini. Beliau tidak Anda lengserkan. Andaikata Beliau tidak punya masalah dengan Mereka, Anda tidak akan terlepas dari cengkraman Beliau!”

“Tutup mulut! Jangan sekali-kali Anda meremehkan saya dan perjuangan saya.”

“Tunggu, sebentar! Jangan sakiti saya. Saya pun tidak ingin menyakiti Anda. Kita buat perjanjian saja. Bagaimana?”

“Perjanjian soal apa?”

“Semacam kontrak, err—perdamaian. Saya akan membagi apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh kita berdua.”

“Lho? Kok, lucu? Kenapa saya harus memiliki perizinan melakukan sesuatu atas tubuh saya sendiri?”

“Ini agar kita sama-sama adil!”

“Adil? Memang punya hak apa Anda atas diri saya?”

“Saya juga berkontribusi membuat Anda berkembang hingga saat ini! Kita tumbuh bersama-sama! Anda tidak akan menjadi seperti Anda yang sekarang tanpa saya!”

“Oh, itu masa lalu. Lagi pun, itu bukan apa yang saya minta. Anda datang dan menawarkan semua itu sendiri, demi bisa memiliki tubuh saya!”

“Karena saya menyayangi Anda. Dan, saya ingin kembali menjalani hari-hari ke depan bersama Anda sebagaimana saat itu.”

“Itu bukanlah rasa sayang. Anda hanya terobsesi memiliki tubuh saya. Anda bukanlah pemilik saya dan takkan pernah. Sayalah pemilik sejati atas diri saya sendiri! Sayalah yang berhak menentukan, ke mana saya harus melangkahkan kaki!”

Tinggalkan komentar