#MyWords12 • Sabiru
449 kata
Prompt: Golden Week*
𝟐𝟗 𝑨𝒑𝒓𝒊𝒍
Sabiru, kabar itu datang bagai sambaran petir di jantungku. Melemahkannya, hingga aku tergolek tanpa daya.
Penyesalan menyulap Bumi menjadi selapis es membekukan.
Kepergianmu sepenuhnya kebodohanku. Andai kutahu maut telah menantimu di perempatan, alih-alih memintamu angkat kaki karena emosi, biarlah kupeluk engkau semalam suntuk. Takkan kuizinkan ke mana pun. Takkan kulepaskan engkau dari dekap hangatku.
𝟑𝟎 𝑨𝒑𝒓𝒊𝒍
Sabiru, hari ini kelabu tanpamu. Sirna langkahmu, sirna pula denyut hidupku. Matahariku terbenam terlalu cepat, begitu cepat. Dan siang takkan datang lagi.
Segenap kami kehilanganmu hingga tiada lagi genap itu. Segalanya terasa ganjil dalam duka, karena suaka yang bertahun-tahun mendatangkan sukacita; dirimu, telah alpa.
𝟏 𝑴𝒆𝒊
Sabiru, aku membanjir. Tergenang dalam kenangan yang semakin lama semakin menenggelamkan dan melayangkanku dari tempatku berpijak. Potretmu pun tak sanggup kupandang sama sekali tanpa tumpahan hujan dari mataku.
Adakah yang bisa kulakukan untuk memperbaiki?
Kujanjikan absennya mulutku memperbandingkanmu dengan siapa pun. Kujanjikan senantiasa memuja-mujimu, menyokong segala pilihan hidupmu, termasuk bila apa dan siapa yang kaupilih bukanlah seleraku. Kujanjikan berbahagia selama engkau bahagia.
Asaku hanya tinggal satu: kau bisa hidup lebih lama dariku.
𝟐 𝑴𝒆𝒊
Sabiru, aku mulai mengerontang. Segala hujanku telah dikuras. Kini, yang ada hanya kehampaan.
Hidupku mulai dikacaukan ruang dan waktu. Kenangan-kenangan hadir di pelupuk mata seperti adegan film rusak.
Kadang-kadang kulihat kau di sembarang arah yang bisa kupandang di rumah. Kautenggak air dari dalam botol minum. Kautinggalkan kulkas tanpa ditutup kembali. Kaulemparkan handuk tanpa dijemur. Kauletakkan gelas kotor tanpa membilas ….
Hal-hal yang biasanya membuatku mengomelimu, kini membuatku tak sanggup bersuara selain terisak.
𝟑 𝑴𝒆𝒊
Sabiru, ayahmu menyingkirkan unsur hidupmu dari hadapanku. Dikuncinya kamarmu, hingga tak bisa lagi kumasuki hanya untuk mengasihani diri.
Alasannya, agar aku tidak lagi bersikap selayaknya zombi.
Namun, aku murka. Aku terlalu murka, sampai tidak bisa menyemburkan kemurkaanku dengan jalur apa pun, selain bergelung dalam selimut seharian penuh. Permintaan maafnya tak kugubris.
Sebagaimana kehilangan selera makanku, aku pun kehilangan selera hidup. Sembilan belas tahun hidupku hanya kudedikasikan atas hidupmu semata. Semua orang memanggilku “Mama Sabiru” bertahun-tahun. Bagaimana Mama Sabiru hidup tanpa seorang Sabiru?
𝟒 𝑴𝒆𝒊
Sabiru, anakku. Tunggalku yang pernah membersamaiku dalam satu ketunggalan raga yang suci.
Mataku kembali membuka walau jiwa ini masih terluka. Melihat ayahmu turut teronggok di pojokan dalam kepiluan yang kutularkan, hatiku terketuk.
Tiada gunanya kusesali segala; kau takkan kembali seperti sediakala. Kita takkan lagi utuh sebagai keluarga. Tapi, aku masih punya cinta yang tersisa.
Kupeluk ayahmu. Kami menangis bersama. Menangisimu, menangisi kami, menangisi kita.
Kerontang itu terbasahi. Kami harus terus melangkah sekalipun tanpa arah. Kami harus menambal cita sekalipun tak ada lagi kita.
Asaku berubah. Kau, temukanlah kedamaian di sana. Tak kuharap bisa beroleh pengampunan, karena penyesalan adalah hukuman terbaik bagiku.
Doa dan cintaku untukmu, Sayangku, selalu. Selamanya. Sampai nanti. Sampai kumati.
📝 Berbeda dengan Golden Week seharusnya, saya memaknai hari libur sebagai hari ketiadaan sesuatu. Golden Week berakhir dengan perayaan Hari Anak, jadi saya ambil ketiadaan anak. Sementara tanggal lainnya saya imbuhkan sebagai tanggal berduka, dengan catatan tanggal 4, hari Hijau, saya letakkan bagaimana akhirnya keinginan untuk bangkit itu tumbuh dalam hati si Aku
