#MyWords09 • Halo, Duk(un)
449 kata
(Tantangan: Genre Komedi)
Prompt: Kesatria dan Penyihir
Di tengah sorak-sorai perayaan tuntasnya misi setelah empat bulan bergerilya, Jaya tiba-tiba mewek. Rekan-rekannya sontak berpandangan.
“Kenapa lu?”
“Hatiku … patah.” Jaya sesenggukan. “Bukan … patah lagi … remuk … serusuk-rusukku.”
Niatnya, misi ini jadi penempa nyali. Kalau berhasil pulang tanpa kurang apa pun, dia akan ‘nembak’ Ayu, adik kelasnya yang didekati dengan metode ‘Halo, Dek’ ajaran seniornya.
Tanda-tanda gayung bersambut sudah ada. Sayangnya, Jaya masih maju-mundur-maju-mundur jelek karena kurang pede.
Ayu begitu indah. Kulitnya putih bersih, senyumnya semanis gula. Sementara dirinya hitam legam layaknya kopi. Tampangnya kaku. Kalau disuruh senyum, yang disenyumi malah bergidik saking horornya.
Kini, asanya pupus. Saat membuka akun Nistagram, unggahan Ayu lewat paling atas. Foto mesra dengan cowok tampan yang tidak dikenalnya. Pakai tagar #HappyFirstMonthversary, pula.
“Andai … aku segera menembakmu, Yu. Andai … aku bisa lebih pede … kau takkan bersama … dia ….”
Teman-temannya serempak memalingkan muka. Tidak tahu harus prihatin atau ketawa. Meski ucapan Jaya macam pujangga; meski air mata yang mengaliri pipi sudah mengajak ingusnya turut serta, ekspresinya masih sama seperti biasanya.
Hanya Rama yang benar-benar bersimpati. Senior berpangkat Sersan Kepala itu menepuk-nepuk pundaknya. “I feel you, Dik. Nanti saat pulang, saya kirim bantuan.”
***
Jaya melongo memandangi layar ponselnya. Tidak menyangka bantuan yang dikatakan Rama adalah sebaris alamat surel dan nomor telepon.
“Apa ini, Serka?” balasnya.
“Email dan nomor WhatsApp Dukun, Dik. Senyamanmu mau dihubungi lewat mana. Cinta ditolak, saatnya dukun bertindak.”
Otaknya nge-load. Buat apa dukun? Dan, dukun mana yang beroperasi pakai email?
Baru semenit kemudian, Jaya akhirnya paham. Matanya membola, mulutnya menganga, tangannya mengelus dada. Buru-buru dia mengucap istigfar.
“Tapi, ini musrik, Serka.”
“Mau jadi pacarnya, tidak?”
Jakun Jaya naik-turun-naik. Sungguh dia tergiur dengan bayang-bayang menjadi pendamping Ayu. Agar rupa indah Ayu bisa dilihatnya tiap mau tidur dan bangun tidur, bukan hanya dalam tidur.
***
“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, apakah benar ini dengan Dukun Mawar?”
Selang satu menit, Jaya menepuk jidatnya sendiri. Manusia mana yang menghubungi dukun pakai assalamualaikum segala? Komplit pula.
Jempolnya sudah bersiap mau menekan tombol batal kirim, tapi tiba-tiba centangnya menjadi biru.
“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Benar, Saudara/i. Ada yang bisa Mawar bantu, Saudara/i?”
Jaya mendadak gugup, segugup saat pertama kali memegang senapan. Berkali-kali ia salah mengetik karena keringat membanjiri telapak walau bolak-balik meremas sapu tangan.
“Perkenalkan, saya Naya. Saya infin berkonsultasi karena kebetulan sedang payah hati.”
Sehabis mengirim, Jaya menolak melihat balasan. Ponselnya dibalik. Jantungnya berdebar kencang. Bola matanya terangkat ke langit-langit. Tertumbuklah pandangannya pada kaligrafi nama Tuhan. Tiba-tiba ia takut. Tubuhnya menggigil. Berkali-kali beristigfar.
Lalu denting itu berbunyi. Tubuh Jaya terlonjak. Saat meraih ponsel kembali, dia terlambat menyadari kesalahan ketiknya. Sang dukun sudah telanjur membalas.
“Saya turut prihatin, Sdri Naya. Apakah Sdri Naya ingin saya membantu membuat cowok yang Sdri Naya taksir jatuh cinta pada Sdri Naya? Siapakah nama cowok ini, Sdri Naya?”
