#MyWords20 • Sabda Samudra
dalam 448 kata
Prompt: New Orleans
Kehidupan di Dermaga Asa memang abadi. Kapal-kapal bertengger, datang dan singgah, bergantian dipecut mentari, ditudungi rembulan, dibuai angin laut, dibelai ketenangan lautan …
Namun, di pagi nan rekah itu, ketenangan nihil dalam pribadi Arjuna. Petualang mungil itu terombang-ambing labil. Kapal-kapal pesiar megah mengapitnya bagai barikade. Membuatnya merasa mini dan tak berarti.
“Lihatlah dirimu, Arjuna.” Dipandangnya bayangannya yang terpantul di air laut. “Hanya perahu nelayan lusuh.”
Kapal pesiar megah bernama Maharaja di sebelahnya menyalakan peluit kapalnya dengan angkuh, mengumumkan superioritas. Jelas saja, Maharaja penuh akan dek-dek luas, ornamen berkilauan, dan tiang-tiang menjulang.
“Hei, Kecil. Dermaga ini bukan tempat perahu murah sepertimu.”
Arjuna menundukkan layar mungilnya, mencoba menyembunyikan rasa malu. “Aku hanya perlu tempat berlindung sebentar. Tidak akan lama.”
Kapal pesiar lain, Permaisuri, yang berada tak jauh dari Maharaja, ikut mengejek. “Kau bahkan tidak sebanding dengan bayanganku di air. Berlabuh di tepi pantai! Dermaga ini hanya untuk kapal-kapal megah.”
Arjuna merasa lebih kecil daripada sebelumnya. Betapa kerasnya ia bekerja setiap hari, menghadapi ombak dan badai, untuk mencari ikan, kini tampak tidak berarti.
Jarum jam berpindah kuadran. Dermaga mulai sepi. Kapal-kapal pesiar yang megah lambat-laun tertidur, dininabobokan gelombang malam yang halus. Hanya Arjuna yang nyalang memandangi kelap-kelip Dewa di angkasa.
“Tidak seharusnya aku di sini.”
Tiba-tiba, suara lembut sekaligus tegas menyapa dari arah tak terduga. “Mengapa meragukan dirimu sendiri?”
Itu suara Samudra! Lautan luas yang menyimpan sejuta misteri. Arjuna ternganga takjub pada fakta bahwa ia akan mendengarkan sabda Samudra; tuturan kebijaksanaan legendaris bagi pengelana lautan.
“Setiap kapal memiliki tujuan dan nilai masing-masing. Jangan biarkan kemegahan luar mengaburkan penilaianmu tentang dirimu sendiri.”
“Tapi aku tidak pantas ada di antara mereka.”
“Ukuran dan kemegahan bukanlah parameter sejati, Nak,” balas Samudra. “Cobalah melihat mereka lebih dekat. Mungkin akan kautemukan sesuatu yang berbeda.”
Didorong petuah Samudra, Arjuna mendekati Maharaja yang terlelap. Perlahan, dengan angin malam yang membantunya bergerak, diintipnya dek-dek mewah Maharaja. Seketika, ia terkejut. Kapal pesiar itu rupanya melompong. Tiada penumpang, tiada kehidupan. Hanya ruangan-ruangan besar yang penuh hiasan, tetapi tidak memiliki makna.
“Mustahil ….” bisik Arjuna. Ia melanjutkan penjelajahannya ke Permaisuri dan kapal-kapal pesiar lain di dermaga itu. Hasilnya sama: kapal-kapal megah itu hanyalah kulit kosong tanpa isi, tanpa jiwa, tanpa pemahaman akan pencarian kehidupan.
Ketika matahari mulai kembali merengkuh dunia dalam kehangatannya, Maharaja dan Permaisuri kembali mengejek Arjuna. “Bagaimana tidurmu, Kecil? Mengejutkan sekali kau belum karam juga.”
Arjuna tersenyum. Kali ini, tanpa rasa malu atau inferioritas. “Tidurku nyenyak, Tuan dan Puan. Dan, aku mempelajari sesuatu semalam.”
Permaisuri mengernyitkan dahi. “Apa itu?”
Arjuna menatap ke horizon yang memaut dan menaut angkasa dengan lautan. “Bahwa tidak masalah menjadi kecil dan sederhana, yang penting penuh dengan cerita, petualangan, dan tujuan. Nilai kita tidak diukur dari meter atau kilogram, tetapi dari sejauh mana memahami pengarungan kehidupan.”
