“Di rumah ini tak ada cermin.”
Sudah diperingatkan sejak tapak kakinya perdana menginjak rerumputan tinggi di pekarangan. Alih-alih fokus mendengarkan, dia malah asik dengan gawai. Maka wanita tua dengan wajah berbekas luka bakar yang menjadi juru kunci rumah singgah itu meninggalkan tamunya usai melemparkan kata,
“Hati-hati.”
‘Di rumah ini tak ada cermin.’
Berhadapan dengan pintu utama yang mengkilap oleh pernis mahal, dia memutar bola matanya. Malas dan bosan akan peringatan tak penting yang berulang. Tak cukupkah wanita tua di sana membualkan kalimat serupa hingga ludahnya menggumpal di ujung bibir? Sampai-sampai kalimat itu juga yang harus diukir di pintu dengan jenis huruf hias yang mencolok mata. Seolah itulah nama rumah ini jika berada di zaman klasik saja.
Lagipula, apa pentingnya keberadaan benda itu di sini? Tak perlu pula dia cari. Sebab dia selalu menyediakan benda itu sendiri. Satu di dalam dompet berisi segepok uang dan berkeping-keping kartu, warnanya merah hati. Satu di dalam novel debutnya yang laris jual, dan selalu dia bawa ke mana pun pergi. Satu lagi favoritnya, cermin istimewa, punya gagang berwarna emas dan berukiran namanya dalam huruf estetik, cantik seperti dirinya sendiri. Kalau sudah mengantungi tiga, buat apa dia mencari lagi?
Namun, dia terdorong buat memastikannya sendiri. Di dalam kamar beraroma tua itu, memang tak ada sekeping pun benda yang mampu memantulkan refleksi diri. Dia tahu sekian banyak cerita horor atau fantasi yang menyebutkan cermin sebagai salah satu benda penting dalam adegan menegangkan. Konon, hantu akan memunculkan dirinya di belakang tubuhmu kalau kau bercermin. Mungkin pemilik rumah atau justru wanita tua tadi memercayai hal itu.
Ironisnya, profesinya sebagai penulis cerita horor justru menanamkan keimanan bahwa apa pun yang berlangsung dalam kisah-kisah itu jelas rekaan atau imajinasi semata.
‘Di rumah ini, tidak ada cermin.’
Oh, astaga. Dia sudah hampir menyobek plakat kertas di pintu lemari berwarna burgundy itu, kalau saja tiada ketukan pada pintu kamarnya. Wanita tua itu datang lagi.
Menelisiknya lewat tudung hitam yang kali ini menutup separuh wajahnya sehingga tidak terkesan begitu menjijikkan.
“Makan malam akan siap lima menit lagi.”
Dia mengangguk cepat-cepat, pertanda paham juga pengusiran.
Sepeninggal punggung bungkuk wanita itu, isi kandung kemihnya meronta minta dikeluarkan. Lekas dia lesakkan kembali kaki pada sandal bulu merah kehitaman yang terasa agak keras pada bagian tumitnya, lalu masuk kamar mandi. Dia ingat untuk turun makan usai menuntaskan hajat, tapi sebelum itu, dia jelas ingin memastikan penampilannya tetap sempurna. Sambil duduk di atas kasurnya, dia rogoh cermin bergagang emas favoritnya.
Akan tetapi, begitu menelisik refleksinya pada permukaan cermin, bukan wajahnya yang muncul, melainkan wajah wanita tua si penjaga. Dari luka bakar di wajahnya menggeliat berekor-ekor belatung, yang membuatnya menjerit manakala dia sadar, bahwa belatung itu sungguhan jatuh ke pangkuannya.
“Di rumah ini, tidak ada cermin.”
Masih sempat dia dengar kalimat itu lagi. Diucapkan penuh dengan suara serak penuh penekanan. Masih sempat pula dia memberi sugesti pada kewarasannya sendiri bahwa ini hanya halusinasi, sebelum sesuatu yang keras dan panas menghantam wajahnya, kemudian lelap yang panjang mengambil alih tubuhnya.
