Ketuk palu kiamat yang perempuan itu terima untuk pertama kali sudah kedaluwarsa bertahun-tahun silam. Kala ibunya dikhianati dan mengkhianati, dan dirinya dicaci maki tanpa ada yang peduli.
Ketuk palu kiamat keduanya adalah bagaimana tajamnya omongan-omongan manusia kemudian membunuh ibunya lahir dan batin, saat usia perempuan itu baru masuk dua digit.
Jadi desas-desus sekitar tentang kelakuannya yang minus dari standar mereka saat ini hanya seperti ketukan hujan yang ricuh pada genteng. Cukup dia tanggapi dengan tawa keras sembari melepaskan asap berkandungan nikotin ke udara bebas.
“Memang mereka tahu apa?”
Omongan-omongan yang mentah dan mental. Sudah dia terka apa yang mereka sebar di luaran, begitu istri sah dari lelaki sampingnya berkoar-koar soal identitas wanita asing yang menyusup ke dalam rumahnya seperti hantu. Label yang mirip dengan apa yang pernah mereka sematkan pada ibunya. Kemudian menempatkannya dalam isu soal ‘dosa warisan’ atau ‘penyakit genetik’.
Pertanyaan tadi membuat si laki-laki mendesah. “Mereka memang tidak tahu apa-apa. Tapi, apa kamu oke?”
“Kenapa tidak?” Suara perempuan itu ringan saja. Memang seperti itulah yang tengah dia rasakan sekarang, dan bahkan dia yakin, selamanya. “Memang aku harus apa? Meyakinkan mereka bahwa apa yang mereka katakan tentangku itu salah? Percuma. Manusia hanya mau mendengar apa yang mau mereka dengar.”
“Ada jalan lain, kalau kamu mau kita tetap bersama …”
Kepada sang laki-laki, perempuan itu lemparkan pandangan lelah, bosan, dan kasihan sekaligus. Dia tahu apa yang mau lelaki itu sampaikan, sebab telinganya sudah berkali-kali mendengar hal yang sama, bahkan sejak laki-laki itu belum terkonversi menjadi suami seseorang. “Tidak lagi, Sayang. Aku justru lebih bosan mendengar ucapanmu itu dibanding menertawakan penghakiman mereka.”
Laki-lakinya mengacak surai sendiri sebagai pelampiasan frustrasi. “Kamu itu perempuan ironi. Kamu bilang benci penghakiman, tapi tidak mau menjauhinya. Kamu bilang benci ibumu, tapi kamu ikuti jejaknya. Kamu bilang cinta aku, tapi selalu menolak setiap kuajak meni—”
“Karena yang kamu tawarkan bukan solusi.” Sambil menggilas puncak bara rokoknya, perempuan itu akhirnya memuntahkan isi kepalanya sendiri. “Tapi gerbang untuk menghadapi masalah baru. Kamu pikir dengan satu kata itu, semua masalah akan segera diselesaikan? Aku hanya akan semakin dicaci-maki. Lagipula …,”
Dia bangkit dari ranjang yang didudukinya, membuat tubuh polos itu terekspos seutuh-seutuhnya di bawah sorot lampu yang temaram. Laki-laki di sampingnya menenggak ludah, berusaha menjaga fokus sendiri.
“Cinta yang sempurna adalah perasaan yang membebaskan. Bukan yang melibatkan ambisi untuk mengikat diri demi kesahihan di mata manusia lain. Sebab besok lusa, kamu akan semakin terobsesi menyetarakan statusmu dengan cara yang sama. Harus menikah, harus punya anak. Tuntutan-tuntutan itukah yang kau bilang cinta?”
Perempuan itu menggeleng-gelengkan kepalanya, lalu membungkus diri dengan pakaiannya yang tersampir di bahu kursi.
“Tapi kita tidak bisa selamanya seperti ini.”
“Kenapa tidak?” tanya perempuan itu heran. “Karena sudah ketahuan? Kalau kamu tidak mau melanjutkan, tidak masalah. Kamu bisa pergi, bebas, dan aku tidak akan menuntut apa pun seperti istrimu yang meminta harta gono-gini.”
Setelah itu, dia keluar dengan pintu yang menutup di balik punggungnya. Sebab tiada yang bisa mengikat kakinya pada satu titik tertentu. Tidak pula laki-laki yang dicintainya itu.
