Masih segar dalam ingatanku, malam itu, kauseduh rembulan dalam air laut dan kausuguhkan padaku mesra. Padahal, kakimu belum tinggi. Tangan yang melingkari kepala belum mampu menyentuh daun telinga. Tetapi dengan mulutmu yang tawa, matamu bersabda, “Akulah pencinta!”
Sungguh, kupikir itu saatnya aku berkhotbah supaya kita bisa melepaskan diri dari afeksi palsu. Adalah sebuah ironi menyaksikan bagaimana sesosok bayi malaikat berpopok mengarahkan ujung mata panahnya pada jantungmu, tapi alih-alih tersedu pilu, kau malah makin mengelu-elukan namaku.
Jadi saat itu, aku hanya tertawa,
“HAHAHAAHAHA.”
Waktu kusuruh kausesap tehmu sendiri, matamu menyipit merasakan betapa tawar bulanmu itu. Kau tuang kembali isinya pada malam, sambil memasang wajah muram. Maka kutepuk-tepuk pundakmu sambil berkata,
“Dik, sekolah dulu yang benar. Besok, kalau sudah besar dan ketemu Kakak, baru boleh main cinta-cintaan.”
Kemudian bumi berputar dan kalender-kalender bergulir. Mesin melumat biji kopi menjadi butiran. Angin melumat batuan menjadi pepasiran. Kita melumat kenangan menjadi dendam dan penyelasan. Menyimpan rahasia atas apa yang pernah dan sedang terlintas dalam angan.
Di penghujung hari ini, kita bersua lagi. Tinggimu mengkalikan diri. Kulihat langit mengubah wajahmu jadi merah. Bukan oleh gairah, melainkan amarah. Kau ubah kesumat lama menjadi ombak yang menampar rasaku. Dan kita obrolkan kata maaf yang nyaris membeku.
Kemudian, ada jeda yang terisi oleh desau angin, selagi kita berdua bersisian mengantar mentari pulang. Terengah, kau bersuara,
“Tubuhku sudah lebih tinggi daripada tubuhmu. Aku juga sudah bisa menyentuh ujung telinga sendiri. Jadi, kalau sekarang, bagaimana?”
Gegap tawa silamku disergap degup jantung yang bertalu, ketika kembali kauseduh bulan pada air laut, dan kaupersilakan kusesap ia seteguk demi seteguk. Aku tidak tahu bahwa kau punya bakat meracik teh bulan senikmat ini setelah masa-masa berlalu. Mungkin karena kau berlatih setiap malam dengan wanita lain. Mungkin juga waktu memang jembatan yang perlu kita lalui untuk mematangkan rasa dan jiwa.
Kali ini, ujung mata panah si bayi berpopok yang menancap di jantungku kusambut sambil tersipu dan terharu.
“Aku mau.”
