Sepasang mata yang mengintip di tengah kesunyian malam itu kutahu adalah milikmu. Warnanya merah menyala, rekah dan retak seperti tanah kering yang terbakar api. Atau justru api itu sendiri.
Mata itu mengikuti ke mana pun aku pergi. Ke kamar. Ke luar. Ke kamar mandi. Ke dalam lemari. Ke balik jeruji. Ke alam mimpi. Tak kenal pejam atau nyalang, ia terus mengikuti tanpa mampu kuhalang.
Suara-suara yang berbisik pada kupingku di tengah keheningan itu pun kutahu adalah milikmu.
Suara itu mengikuti bagaimana pun caranya aku menyumpal kuping. Bisikannya lebih berisik dibanding desik, dersik, kersik, pun musik paling bising yang mengusik akustik.
Semalam, merah tatapanmu lebih parah dibanding biasanya. Mungkin sedang bergairah, atau bisa juga terbakar amarah. Bisikanmu lebih berisik dibanding sebelumnya. Kepadaku, ia embuskan kata-kata sadistik yang membuat otakku berakrobatik antara terjaga dan tertawan gelombang alfa.
Malam ini tak akan kubiarkan aku larut lagi. Sebab kutahu, mata itu milikmu. Suara itu milikmu. Segalanya milikmu. Milikku. Maka sebelum engkau datang dalam lengang kala manusia-manusia malang menutup mata mereka, aku balas menatap nyalang. Balas berseru garang. Ke hadapan cermin yang retak nyaris sekujur tubuhnya.
Malam ini tak akan kubiarkan aku terusik lagi. Sebab kutahu, mata itu milikku. Suara itu milikku. Segalanya milkkku.
Dengan satu sabetan pisau, segalanya musnah sudah.
Esok, aku akan lahir baru.
