Sejauh mana kita hendak terbang? Sementara di tepian tebing, bisa kita lihat seorang lelaki tua menggelandang dan terbuang.
Susah payah ia menyelamatkan namanya yang lungsur dari genggaman, akibat terbang terlalu tinggi di masa silam. Lalu mur dan bautnya pun turut berkarat, mengendur, kemudian tanggal. Menciptakan kekakuan yang menghambat, dan … oh, sayang, oh, malang, ia pun terlambat. Namanya justru kian tergelincir masuk jurang.
Laki-laki tua masih berupaya, tergopoh merogoh, siang juga malam. Sementara waktu yang terus bergulir melahirkan suara-suara baru di sekeliling. Orang-orang muda bermunculan, bersalaman, bereplikasi, dan tumbuh makin tinggi. Berlomba menjadi yang paling benderang di kening pagi.
Cahaya yang semula jatuh padanya dari kanan dan kiri lantas terhalang. Ketika sisi kirinya disirami mentari, dan kanannya disembur cahaya rembulan yang muncul samar-samar, ia justru makin tenggelam dalam bayangan yang makin lama makin membalam.
Namun, lelaki tua masih terus merogoh. Sebab nama adalah apa yang bisa ditinggalkannya jika kelak melindap lalu tiada.
Di tengah perjuangannya, suara ramai dari bahu jalan mengusik. Orang-orang berdasi tengah berkumpul menyita atensi sekeliling.
“Obral murah, obral murah! Nama dan identitas baru.”
Si lelaki tua pun tertarik. Terpincang dan terbungkuk, berlarilah ia menyambangi. Sudah jelas napasnya ada di ambang batas. Tetapi, tempo dan gerak sekitar harus dikejar lantaran melaju terlalu gegas.
“Saya mau satu. Yang baru, yang muda, dan segar.”
Orang berdasi bertepuk tangan dan menyeringai girang. “Aha. Apa yang bisa kamu pertaruhkan?”
“Hidup. Hidup saya. Sisa hidup saya,” jawab lelaki tua cepat.
Tepuk tangan orang berdasi semakin riuh sebagai pertanda kesepakatan.
Beberapa waktu kemudian, di bahu jalan yang sama, lelaki tua berjalan tenang. Tidak ada lagi langkah terpincang. Mur yang tanggal telah sukses ditambal. Nama baru pun terukir apik tebal-tebal. Sebagai gantinya, sisa waktunya akan diserahkan pada orang berdasi. Berbakti dan balas budi. Sementara setiap tetes darah dan keringatnya akan ditadah di baskom untuk dijadikan bahan minum dan mandi.
Si lelaki tua tidak tahu, selagi ia tersenyum sumbang menyambut cahaya yang perlahan mendekat, nama yang jatuh di bawah tebing ternyata hidup jadi daging yang tak diberi makan. Daging itu menggelepar dan memborok, menjelma bangkai beraroma mematikan.
Angin yang tak kenal kata rahasia pun berkabar, menebar bau-bauan itu ke seantero dunia. Nama baru lelaki tua ikut terkontaminasi. Tidak mau ikut terinfeksi, para tetangga mencari jalan beremigrasi.
Hingga di akhir cerita ini, kita bisa melihat si lelaki kembali teronggok busuk dan menyedihkan di tepi tebing, dengan kaki dibenamkan dalam pasir isap berisi kewajiban balas budi. Maka, seberapa jauhkah kita berani terbang?
