di balik punggungku ada:
empapan bayang dan malang
telah karib ia pada
retak yang rekah di alur nadi
di depan wajahku ada:
garis pintu menghadang
asing, compang-camping,
taksa, pun abadi
dari pintu yang memalang,
coba-coba kakiku melintang
menyentuh langit yang bersembahyang
bintang-bintang terbang
angin terbuang
dari pintu yang memalang,
tiba-tiba detakku menghilang
ditelan hening yang menyeruak datang
kakiku terbang
beban-beban terbuang
bulan memotong gulita dengan pelita
kipas kapas mengepul dan menggumpal
segala yang semula sunyi
mendatangkan secarik bunyi
kepal kapal di seberang mulai mengepung
cerobongnya mendentangkan
selarik epos berekor tanda tanya
sebuah permintaan
untuk kuselam dan kusulam jawabnya:
di manakah ibu ayah
dan orang-orang yang duluan direngkuh tanah
dan bayi-bayi yang kadung dicumbu sripah
dan bidadari-bidadari yang diperjanjikan arwah
rindu wagu menyembul tanpa permisi
entah di mana tadi ia bersembunyi
tapi kerontang di kerongkongan seketika basah
sebab palang itu menyingkapkan telaga
menyingkirkan buta
dan penjara
dan angkara
dan rahasia
dan tanda tanya
tangan tak tampak mengukir kata-kata kebebasan
tawaku terlempar,
tangisku menggelepar,
di sini yang dahulu di sana
di sebuah tempat nirnama
di luar pintu yang memalang lama
di atas dari segala yang fana
akhirnya kujumpai sudah:
sewujud rumah yang ramah
