pagi-pagi sekali, secawan madu disajikan dalam tumpah ludah ayah di ujung meja makan. padahal, di sekitar kursi-kursi tengah berantakan: puing-puing dan sisa-sisa rencana hidup yang sudah diobrak-abrik kenyataan.
huh, tak ada waktu lagi untuk menyusun ulang. ini dua puluh empat jam sebelum detik penentuan. walhasil, adik menangis, kakak meringis, ibu mengiris-iris, aku merasa miris.
aku tercenung menyantap sajian pelipur tawa. di atas kami menggelantung lampu mala. entah malaria atau malapetaka, toh sama saja kemalangan. ada aroma luka bakar dari panggangan. aku tidak tahu apa yang terbakar. luka muka ibu digampar ayah, atau luka sukma kami semua.
sekonyong-konyong, suara asing menyambar. desas-desus mendesak, memuntahkan kabar naik turun dewa pelangi di angkasa. ayah merenggut pisau ibu, menikamkannya pada harga diri yang sudah terkoyak. ibu mengambil tali tambang, menggantungkan asa hidupnya yang tinggal seupil. kakak beranjak, meloncat dari atas puncak piala-piala kejuaraannya. adik pergi menceburkan diri ke kolam berisi air matanya. aku? T E R T A W A; biar kumati tersedak gelembung kelucuan dunia
