pagi-pagi sekali, secawan madu disajikan dalam tumpah ludah ayah di ujung meja makan. padahal, di sekitar kursi-kursi tengah berantakan: puing-puing dan sisa-sisa rencana hidup yang sudah diobrak-abrik kenyataan. huh, tak ada waktu lagi untuk menyusun ulang. ini dua puluh empat jam sebelum detik penentuan. walhasil, adik menangis, kakak meringis, ibu mengiris-iris, aku merasa miris. … Lanjutkan membaca Pagi di Rumah Lagi
Waktu itu Keji
Waktu itu keji, katanya. Ia melesat cepat tanpa peduli siapa-siapa yang tertinggal. Kau yang tertidur hanya sebentar pun harus kalang kabut dengan semua perubahan yang tidak kamu sadari. Segala tuntutan, siapa-siapa yang terenggut paksa, setiap sakit yang semakin parah, susah dan sendu yang hanya menyisakan pasrah ... semuanya berjalan dalam garis linier. Tanpa ada tanda-tanda … Lanjutkan membaca Waktu itu Keji
