Waktu itu Keji

Waktu itu keji, katanya. Ia melesat cepat tanpa peduli siapa-siapa yang tertinggal. Kau yang tertidur hanya sebentar pun harus kalang kabut dengan semua perubahan yang tidak kamu sadari. Segala tuntutan, siapa-siapa yang terenggut paksa, setiap sakit yang semakin parah, susah dan sendu yang hanya menyisakan pasrah …

semuanya berjalan dalam garis linier. Tanpa ada tanda-tanda akan kembali barang sekejap. Mengabaikanmu yang tertinggal jauh di belakangnya. Tak peduli langkah kaki rapuhmu yang terseok karena terkejut, usai terbangun dari lelapmu yang bahkan hanya sesekon saja.

Dunia itu kejam, katanya. Tiada pilihan bagi siapa pun. Mutlak; menjalani semua berdasarkan apa-apa yang telah digariskan. Kau yang kemarin sibuk memintal dunia dambaan dalam angan harus kembali terisap dalam realita mencekam, yang khusus bagimu, hanya berisi ruang kelabu yang suram, hitam yang legam, dan biru yang muram.

Hidup, apakah kau pun mahatega? tanyamu di sudut malam yang sepi, usai berhasil melepaskan segala simpul kekangan yang mengikatmu dengan kekejian dan kekejaman. Kau mengadu pada alam, pada malam, pada bulan, dan pada kesendirian, mengapa Hidup terasa tidak berhati. Mungkinkah Hidup sesungguhnya tidak hidup? Mungkinkah Hidup hanya suatu sistem kolot yang terpatri pada garis lurus dan tentuan yang tidak punya toleransi, pada kaum-kaum kecil semacammu, pada kaum-kaum kerdil seperti dirimu?

Mungkinkah?

Tanyamu pun bahkan tidak punya jawabannya, karena kautahu Hidup tidak akan sudi menjawab. Entah dia tidak punya waktu bagimu karena kamu orang kecil, ataukah dia malas mengurusimu yang hanya menghabiskan jatah oksigen yang diberinya. Entah. Atau malah baginya, eksistensimu hanya senilai debu semata, yang tidak punya makna, yang ada dan tiadamu pun tidak memengaruhinya.

Kau tertekuk.

Jikalau Hidup pun sedemikian bengisnya, lantas harus ke manakah kau bergantung? Kepada kematian ‘kah?

Tinggalkan komentar