Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Ayo mulai

Imam Muda

Pintu itu sudah lapuk. Beberapa bagian kayunya rapuh akibat termakan anai-anai. Engselnya telah korosi. Catnya terkelupas sebab tergerus jaman. Entah sudah berapa dasawarsa ia berdiri kokoh di sana. Jadi portal untuk masuk ke dalam masjid itu. Yang pasti, umurnya sudah lebih tua darimu. Bahkan dari ayahmu—barangkali.

Berdasar desas-desus warga setempat, tempat itu angker. Bagaimana bisa sebuah masjid angker? Aneh-aneh saja. Tapi begitulah. Setelah diusut lebih dalam, ketahuanlah bahwa masjid itu hanya nama. Tak pernah difungsikan sebagaimana mestinya. Anak-anak pun bahkan takut sekadar menyambangi serambinya. Termakan omongan para orang-orang tua.

Ridwan mengusap wajahnya yang pias. Baru dua minggu kehadirannya di kelurahan ini untuk program yang tengah digelutinya memberi beban baru di pundaknya. Tentang dakwah. Tentang amanah dan kemurnian akidah. Dusun ini tak begitu terpencil. Pemikiran para warga yang masih terpengaruh adat istiadat dan mitos tak masuk akallah yang membuatnya kerdil.

“Kak, kalau salat di rumah saja. Masjid itu angker. Sudah lama tidak dipakai.”

Masih terngiang ucapan seorang bocah anak Pak Lurah yang terlontar kepadanya kala ia mencoba masuk ke dalam masjid itu beberapa hari silam. Yanto, demikian nama anak laki-laki itu, tiba-tiba menghampirinya ketika ia tengah berupaya membuka pintu masjid kecil itu dengan cara mencongkel karena kuncinya tak ada.

Ridwan terpekur dalam palung kontemplasi. Masjid baginya adalah manifestasi baitullah yang terdekat. Tempat suci yang tak pernah terjamah oleh siapapun kecuali yang telah disucikan. Yang semestinya diramaikan, dilindungi, dan dijaga saban hari. Bukankah Allah akan menjaga siapa-siapa yang mau menjaga agama-Nya dalam jalur yang lurus?

Lama ia merenung. Seketika terbersit di benaknya kata-kata Kang Ilham—saudara sepupunya, “Makanya…, jadi pencetus. Bukan cuma pengikut.”

Ia seketika terlonjak dari dudukan sebab semangatnya yang tiba-tiba meluap. Tanpa banyak aksi lagi, ia melangkah keluar dari kamar kosnya. Mengaral ke rumah Pak Lurah.


Empat pasang mata yang menatapnya membersitkan pelbagai ekspresi yang sudah mampu ia tebak sebelumnya: ragu, geli, lucu, sinis dan tak percaya. Ridwan hanya mencoba menjelaskan apa yang ia yakini benar. Tentang kemuliaan memakmurkan tempat salat. Semangatnya urung lindap walau ditanggapi alasan-alasan yang menjurus pada mitos. Hanya Pak Lurah saja yang masih tenang mendengarkan ide-idenya sampai akhir.

“Baiklah…,” Pak Lurah yang berusia hampir sebaya dengan Ayahnya itu menatapnya lekat-lekat, “Kalau Nak Ridwan mau mengupayakan kembali masjid itu, terserah. Tapi kami tidak bisa bantu. Menurut paham kami selama sepuluh tahun ini, masjid itu sudah jadi tempat bersemayamnya arwah leluhur kami. Makanya kami sakralkan. Bila Nak Ridwan mau membersihkannya, silahkan. Tapi kami tidak bisa bantu.” Demikian putus beliau.

Ridwan tak tahu mesti gembira ataukah kecewa. Ia senang bisa diijinkan membangun kembali masjid mungil itu. Namun, tanpa bantuan materiil dan finansial dari para warga, apalah daya ia. Hatinya lebih mencelos lagi mendengar alasan tak masuk akal yang dikemukakan: arwah para leluhur bersemayam di masjid itu! Ini gila! Seterbelakang apa akidah warga di sini sampai-sampai hal yang mestinya hanya ada di zaman Jahiliyah mereka imani?

Tapi ia tahu ia tak bisa berkomentar banyak. Dengan mengambil konsekuensi yang ada, ia menarik napas dalam-dalam, “Baiklah, Pak,” putusnya.


Ridwan menyandarkan punggung di dashboard ranjang. Ia lelah setelah berkeliling mencari bantuan renovasi masjid. Bisa dipastikan, hasilnya nihil. Desahan kecewa lolos dari paru-parunya. Ia menengadahkan kepala. Menatap langit-langit dengan tatapan menerawang.

Ya Allah Ya Rabb. Beginikah sulitnya memurnikan ajaran-Mu? Beginikah perjuangan yang mesti ditempuh demi membangun rumah-Mu?

Ia berbisik getir. Seketika ia teringat sesuatu yang membuatnya langsung duduk tegak dan mengambil ponsel.

Ia menghubungi Kang Ilham di Garut. Curhat padanya tentang keadaan saat ini. Alhamdulillah, Kang Ilham bersedia membantu dalam hal finansial, meski hanya sedikit. Tidak apa. Lebih baik sedikit daripada tidak sama sekali. Satu janji dari Kang Ilham untuk mencoba meminta bantuan teman-temannya sesama aktivis di Garut melegakan dadanya. Jalannya terbuka sedikit-sedikit.

Usahanya mencari daya bantuan tak sia-sia. Dalam kurun waktu empat minggu, ia bisa memperoleh bantuan dari banyak pihak. Dari teman-teman Kang Ilham, juga dari beberapa warga yang sudah ia yakinkan sebelumnya tentang tauhid yang murni.

Proses renovasi memakan waktu hampir seminggu. Barangkali karena ramai, banyak warga yang sebelumnya menentang malah jadi turut membantu. Kini, masjid itu telah berdiri dengan penampilan baru.

Ridwan menatap masjid itu dengan luahan rasa haru. Ia tak menyangka upayanya bisa berbuah maksimal. Ia tersentak ketika bahunya ditepuk dari belakang oleh seseorang.

“Pak Lurah…”

Lelaki paruh baya itu tersenyum, “Nak Ridwan. Bapak mau mengucap terima kasih. Bukan cuma karena pemahaman yang sudah Nak Ridwan tanamkan pada kami. Tapi juga karena Nak Ridwan, warga di sini bisa jadi kompak begini,” tutur beliau tulus.

Ridwan hanya mampu mengulum senyum, “Alhamdulillah, Pak. Atas rahmat Allah lah semua ini bisa berjalan dengan baik. Kalau saja waktu itu Bapak tidak mengizinkan saya buat menangani masjid ini, barangkali saat ini masjid ini masih dianggap angker seperti dulu.”

Pak Lurah tertawa kecil, “Semestinya Bapak mengijinkan kamu dari awal-awal dan membantu semaksimal yang Bapak bisa,” tuturnya menyesal.

“Tidak, Pak, tidak…,” Ridwan menyanggah, “Bapak sudah melakukan yang terbaik.”

“Tapi…, satu hal, Nak Ridwan…” Pak Lurah menggantungkan kalimatnya, membuat Ridwan mengernyit khawatir, “masjid ini belum punya imam. Saya sendiri belum fasih bacaan salat. Begitu pun dengan para warga lainnya. Jadi…,” jeda sejenak. Pak Lurah menatap Ridwan yang harap-harap cemas, “Nak Ridwan saja yang jadi imam, ya.”

Ridwan tertegun sejenak. Satu beban lagi diamanatkan kepadanya. Sambil mengucap basmalah dalam hati, ia mengangguk, “Siap, Insya Allah, Pak.”


Hampir setahun sudah Ridwan menggeluti amanahnya sebagai Imam masjid. Sambil memandangi satu per satu anak-anak yang belajar mengaji di masjid, ia bersyukur dalam hati. Buncahan rasa syukur dan bangga selalu menelusupi dadanya kala anak-anak itu datang menghampirinya, menyalami punggung tangannya. Menyaksikan mereka giat mengkaji intisari kitab suci, dan kembali lagi pada masjid. Masjid mini itu kini ramai. Remaja masjid, Taman Pendidikan Qur’an, pengajian rutin…, semua telah tersedia.

Ridwan melirik arloji. Sudah masuk waktu magrib. Ia memberi isyarat pada Danu, ketua remas untuk segera mengumandangkan azan. Begitu azan mengalun, tanpa sadar pipinya basah oleh airmata. Ia merasa begitu lega sampai akhirnya semua kelegaan itu ia tumpahkan.

Fabiayyi aalaa i rabbikumaa tukadzdzibaan…” Ia mentartil mengimami shalat. Airmatanya kembali tertumpah. Kelegaan yang ia rasakan bukan lega yang biasa. Tapi lega karena berhasil menyelesaikan misi dengan maksimal. Lega selega-leganya.

Usai memimpin salat, ia menepi. Menunaikan shalat sunnah rawatib ba’diyah maghrib. Umar yang tadinya hendak menyalami tangannya urung. Nanti saja, kalau beliau sudah habis shalat sunnah, pikirnya.

Namun, Umar seketika heran. Tiga menit berlalu sejak Ridwan sujud sebelum tahiyat akhir, belum bangun-bangun juga. Tadinya ia berpikir Ridwan tengah melirihkan doa dalam sujud. Tapi ini sudah terlalu lama. Ia menoleh kanan-kiri, rupanya hanya ia yang memperhatikan. Yang lainnya tengah sibuk bertilawah. Akhirnya, ia memutuskan untuk mendekati Ridwan yang tengah sujud. Sedikit takut-takut mencolek punggungnya.

“Kak Ridwan…”

Ridwan tak geming.

Ia mencoba sekali lagi.

“Kak? Kak Ridwan…”

Rasa takut menyelimuti pikiranya. Ia meminta bantuan yang lain untuk turut membangunkan Ridwan. Ridwan tak bangun juga walau punggungnya ditepuk dengan keras. Akhirnya, mereka memutuskan membalikkan tubuh Ridwan.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’uun…” Pak Lurah melirih kala mengecek nadi Ridwan dan mendapatinya tak lagi berdenyut. Seluruhnya hening dalam isak duka. Tak percaya seorang imam muda mereka telah berpulang. Dalam posisi mulia.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: