Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Ayo mulai

Indah, ya?

Siang itu, usai praktikum yang teramat menguras otak dan tenaga, dan saat matahari tengah berada pada puncak takhtanya …

“Bil, temani aku ke Rumah Sakit sekarang.”

Aku nggak sempat berpikir atau menjawab karena begitu kalimat itu tersumbar, tanganku sudah keburu ditarik. Hendak kulayangkan cerocosan protes, tapi melihat rautnya yang pucat dan tampak panik, yang keluar dari mulutku adalah, “Tapi aku nggak bawa motor.”

“Nggak masalah, kita naik angkot.” Dia menoleh ke arahku sekilas sambil terus menarik lenganku, menyeretku menyusuri koridor kampus terburu-buru. Akhirnya, begitu kami sudah duduk di atas kursi angkot, berdesak-desakan dan berpanas-panas ria, aku baru bisa bertanya, “Kamu sakit, Nid?” Kutempelkan punggung tangan di keningnya sebagai pemastian.

Nggak panas.

“Bukan aku,” jawabnya seraya menyingkirkan tanganku.

“Oh, ada saudara kamu yang sakit?”

Dia nggak menjawab, hanya menatap ke luar lewat kaca angkot. Tapi melihat rautnya yang tampak cemas, aku bungkam. Mencoba paham. Barangkali memang ada keluarganya yang sakit dan membuatnya sedemikian paniknya.

Akhirnya, setelah dua puluh menit berpanas ria di dalam angkot yang sesak dan penuh aneka aroma manusia, kami turun di depan rumah sakit. Dengan langkah terburu menyeberang jalan, lalu masuk ke pelataran bangunan beraroma obat-obatan itu.

Aku masih mengekori langkahnya kala dia berbelok menuju bagian persalinan. Aku berpresepsi, barangkali ada sanak saudaranya yang baru melahirkan. Pada akhirnya keningku berkerut ketika dia terus berjalan menuju ruang bayi. Kenapa dia nggak menjenguk ibu si bayi terlebih dahulu, pikirku. Namun sampai di sini, aku masih mencoba berpikir positif.

“Jadi yang mana Nid, bayi saudaramu?” tanyaku.

Rautnya yang tadinya kusut-masai seketika cerah dengan senyuman merekah ketika menghampiri ruang di mana para bayi digeletakkan berjejer di box kaca. Dia melangkah pelan-pelan sambil terus menatap deretan bayi-bayi itu. Lalu, seperti tayangan yang di-slow motion, dia menoleh ke arahku sambil tersenyum manis.

Aku menegang. Bulu kudukku meremang. Astaga, jangan bilang kalau ini …

“Indah, ya?”

ARRGHHH!!!

***

Nida mengipas-ngipasi wajahku yang sudah seperti kepiting rebus: merah, dan mendidih. Napasku naik turun. Berusaha menetralisir amarahku dengan berpikir rasional bahwa kami sekarang berada di kawasan-dilarang-berisik.

“Mereka lucu ya, Bil?” Dia tersenyum sambil terus mengipas-ngipasiku.

“Nida …,” Susah payah aku menelan ludah, “maksud kamu tuh apa? Kita berpanas-panas di atas angkot cuma mau ngeladenin ‘penyakit’mu yang kambuh? Iya?” bisikku geram.

Nida hanya menepuk-nepuk pundakku dan berkata dengan kalem, “Coba lihat, deh. Mereka ngademin, ‘kan? Aku perlu mereka buat menghilangkan penat di otak setelah praktek tadi, Bil.”

“Ya maksudku …,” Aku memijit pelipis, “kamu kelihatan panik. Langsung tarik-tarik aja tadi. Aku juga ikutan panik.”

Ia terkekeh. “Ya habis kalau dari tadi aku kasih tahu duluan, kan, jadinya nggak surprise.”

Surprise,” dengusku, tertawa kasihan—mengasihani diri sendiri. “Kirain ada yang sakit, Nid.”

“Lho ada, Bil.” Dia langsung menyambar ucapanku. “Ini, kan, namanya rumah sakit, tempat orang sakit. Kita juga bisa menjenguk mereka kapan pun kita mau. Toh mereka saudara kita juga. Apalagi ini …,” ia membentangkan tangannya, seolah menunjukkan keberadaan bayi-bayi merah yang bahkan barangkali baru saja mendiami dunia ini, “dengan melihat mereka saja langsung hilang deh penat akibat praktek yang menguras otak dan tenaga tadi. Lihat tuh mata mereka. Berbinar dan bening, belum pernah tersentuh dosa. ”

Itulah Nida. Berdebat dengannya nggak akan pernah menang. Lagipula dia benar. Aku jadi lupa bagaimana lelahnya otak dan tubuhku setelah praktek dan berpanas-panas di dalam angkot dengannya—tadi, dengan eksistensi bayi-bayi menggemaskan yang berada di hadapanku kini.

Ah, Nid. Kalau saja kamu bercermin saat ini, kamu bakal dapatkan binar mata itu, di dalam matamu sendiri.

***

Namanya Nida, sahabatku satu-satunya. Atau bisa dibilang, akulah sahabatnya satu-satunya. Ya, karena hanya aku yang selama dua tahun berteman dengannya ini yang tahan dengan ‘penyakit indah’-nya.

Yang kumaksud dengan penyakit indah ini, adalah mencintai keindahan dengan taraf overdosis. Memang, siapa pun pasti menyukai bunga, bulan purnama, langit cerah berawan, serta terbit-terbenamnya matahari dan mengategorikannya sebagai objek keindahan, termasuk aku. Tetapi kalau dia bilang bau tanah basah karena terguyur hujan itu indah, ayam kate yang berkeliaran di halte itu indah—sudah pasti ia overdosis keindahan.

Kejadian hari ini hanya salah satu contoh dari kejadian lain yang sudah sering terjadi. Pernah suatu hari usai ujian kalkulus yang teramat memenatkan kepala, dia menarik lenganku dan memaksaku meninggalkan motor di kampus, demi berpanas-panas di dalam bus patas. Dia hanya mengatakan, “Temani aku ke perpustakaan kota.”

Tetapi sebelum bus sampai ke tempat itu, dia sudah menggamit lenganku turun. Dan kalian tahu apa yang dia lakukan? Aku merasa diriku begitu bodoh ketika memandangi wajah cerianya yang saksama memerhatikan ayam kate yang berkeliaran di halte. Ayam kate, Sodara-sodara!

Nida juga pernah membuat kami dianggap mempermainkan tim SAR ketika study tour akhir semester lalu. Subuh itu, aku berseru panik mendapati sosoknya nggak ada di dalam tenda, dan sudah dicari ke sekitaran area kami tetapi nggak kunjung ketemu. Ketua tim kami menelepon tim SAR setelah dua jam pencarian tanpa hasil, dan ketika kami sedang menanti kedatangan tim pencari itu dengan aku yang sudah terisak cemas, dia muncul dengan raut ceria dan sebuah penjelasan tak masuk akal: mengejar seekor tupai dan tersesat karena lupa jalan pulang.

Itu dia, Nida. Dengan penyakit indah-nya yang bisa bikin kami mati karena jantungan.

***

“Nabila, aku mau cerita,” ucapnya suatu hari, usai mengerjakan tugas bersama di serambi depan rumahku.

“Soal apa? Soal penyakit indahmu itu?” Aku berceletuk asal sambil meneliti kembali tugas kami.

Ia tertawa. “Iya, itu juga.”

Aku meletakkan lembar-lembar di tanganku ke lantai ketika menangkap mimiknya berubah serius.

“Aku anak angkat, Bil.” Dia berkata tanpa basa-basi.

Aku mengedipkan mata. Begitu ujarannya berhasil otakku cerna, aku tersentak. “Apa?”

Ia tersenyum masam. “Kamu kaget? Aku juga sempat terkejut waktu diberitahu. Tahun lalu, tepat sehari setelah ulang tahunku yang ke dua puluh.

“Ibu yang ngasih tahu. Mungkin menurut beliau, aku sudah dewasa dan cukup bisa menerima fakta pahit ini. Kata beliau, aku diadopsi dari panti asuhan di Subang.”

Aku hanya bisa terdiam, tidak tahu mau berkomentar seperti apa—syok. Kuberanikan diri meraih tangannya, mengusap-usapnya, mencoba memberi sedikit kekuatan.

Matanya berair. “Awalnya aku ngamuk, Bil. Seminggu nggak masuk kampus waktu itu bukan karena aku kena cacar, tapi karena aku mengurung diri di kamar.”

Aku ingat kejadiannya. Waktu itu Nida tidak masuk selama seminggu. Sewaktu aku membesuknya, ia nggak mau bertemu. Kata Ibunya, dia kena cacar air.

Kini airmata Nida sudah tumpah.

“Aku nggak tahu orangtua kandungku siapa, Bil. Sewaktu kami ke Subang dan menyempatkan mengunjungi panti itu, nggak ada informasi yang kami dapat. Aku bahkan nggak tahu, aku keluar dari rahim siapa. Barangkali aku anak pencuri, pembunuh, atau anak haram yang dibuang oleh pelacur—”

Astaghfirullahal’adzhiim, Nid ….” Aku segera merengkuhnya. Membiarkannya menangis di bahuku. Mencegahnya mengatakan kemungkinan yang lebih buruk dengan kata-kata lebih kasar lagi. Kudengar ia beristighfar dengan lirih.

Ketika gadis itu sudah mulai tenang dan bahunya tak seberguncang tadi, ia lanjut berkisah.

“Seperti yang tadi aku bilang, aku mengamuk. Ibu dan Ayah menenangkan, kalau kenyataan ini nggak akan mengurangi rasa sayang mereka. Tapi tetap saja aku nggak terima.”

Aku tercekat. Mendadak, aku teringat kejadian di rumah sakit tempo hari. “Ya Allah …, Nid. Soal di rumah sakit itu, aku—”

“Nggak masalah, aku maklum kamu pasti kesal.” Dia tersenyum getir. “Yah …, Pada awalnya niat aku ngelihat bayi-bayi itu sebagai sarana mengasihani diri sendiri. Sampai akhirnya satu hidayah menghampiri …

“Waktu itu Ibu dan Ayah datengin seorang Ustadzah. Beliau perukyah dari pesantren di Tasikmalaya. Aku makin ngomel, ‘Aku nggak kerasukan, kenapa malah mau di-ruqyah?!’ Semuanya nggak sesuai prasangkaku. Beliau datang bukan buat ngilangin iblis di tubuhku atau semacamnya. Beliau nenangin aku, dengan kata-kata yang menyejukkan jiwa. Aku ngerasa tertampar pas beliau membaca satu ayat dalam surah Ar-Rahman.”

Keningku berkemerut bingung. Hafalan suratku payah, jadi aku tidak tahu ayat apa yang dimaksud.

Fabiayyi aalaa i rabbikumaa tukadzdzibaan …. Dan nikmat Tuhanmu yang manakah yang hendak kamu dustakan?” tartilnya.

Aku tersentak ketika menyadari ia kembali terisak—lebih hebat daripada yang tadi.

“Aku merasa Allah menyindirku, Bil. Aku malu. Ayat itu tertera berulang kali dalam surah itu. Aku yang nggak mensyukuri fakta bahwa aku sekarang berada bersama orangtuaku yang memperlakukan aku sebaik ini. Aku yang malah merutuki nasib, tanpa mengerti bahwa di luar sana, masih banyak orang yang nggak seberuntung aku. Aku malu ….” Berikutnya, tangisannya teredam di bahuku. Dan kami menangis bersama.

***

Jika sebuah penyakit bisa menular, maka bis kukatakan ‘penyakit indah’-nya ini sudah ditularkannya padaku sejak saat itu. Ketika semua orang mengeluh saat hujan, kami berdua malah bersyukur—menghirup bau tanah basah dalam-dalam. Ini indah. Mengingatkan kami bahwa kami masih diberi kesempatan dan kuasa untuk merasakan semua nikmat-Nya. Termasuk membaui aroma tanah yang habis diguyur hujan.

Ketika kami tengah dipenatkan oleh tugas yang menumpuk, kami usahakan untuk sejenak mentadaburi alam di akhir pekan. Mencoba menjerihkan pikiran, agar bisa melihat sesuatu dari segi positifnya. Bahwa kami beruntung, bisa menempuh pendidikan sampai sejauh ini.

Begitu salah satu dari kami terkena musibah, kami bersama bermuhasabah. Mengingatkan diri sendiri betapa Tuhan Maha Adil—memberi satu beban kepada hamba-Nya karena Ia yakin hamba-Nya sanggup memikulnya.

Pun di saat salah satu dari kami mendapat sebuah kabar gembira, kami usahakan saling berbagi. Semakin banyak rasa syukur yang kami haturkan kepada-Nya, maka Ia akan memberi yang lebih, yang lebih, dan yang lebih lagi.

Nida, seorang teman yang mengajari arti rasa syukur yang sebenarnya. Dan sejak saat itu, aku tahu betapa aku menyayanginya.

***

Aku menyesal setengah mati karena mematikan ponsel malam itu. Begitu aku terbangun dini hari dan mengaktifkannya, beberapa notifikasi berentet masuk. Dua belas pesan SMS, dan sepuluh pesan aplikasi whatsapp. Pengirim dan isinya sama. Dari Ibunya Nida, memberi kabar kalau Nida masuk rumah sakit.

Selepas shalat subuh yang nggak khusyuk, aku melajukan motor seperti orang gila ke rumah sakit. Kemudian berderap bak orang kesetanan ke arah ibunya Nida. Matanya basah dan merah, semerah hidungnya.

“Mau melihat indahnya bintang, katanya.” jelas wanita itu.

Malam itu, usai kuantarkan ke rumah selepas pulang dari perpustakaan demi mencari bahan referensi skripsi, dia keluar lagi. Pamitnya sih mau melihat bintang. Sepertinya dia terlalu serius menengadah sampai nggak menyadari sebuah truk keluar jalur karena pengemudinya mengantuk. Sebenarnya truk itu masih berada di jarak yang cukup untuk dihindari ketika Ibunya melihat.

“Ibu teriak tapi dia nggak dengar.”

Katanya truk itu memang tidak melindasnya. Tapi tiang serambi rumahnya yang ditabrak itulah yang ambruk di atasnya. Rumahnya memang nggak dipagari dan berada di pinggir jalan.

Mendengar hal ini saja aku bergidik. Nggak tega bila harus melihat kondisinya secara langsung, dan benar saja, ketika aku diizinkan masuk ke ruangannya, kakiku melemas. Hampir saja ambruk kalau tidak segera bersandar di dinding.

Aku menguatkan diri untuk mendekat. Mataku kembali memanas. Wajah yang biasanya cerah ceria berbalut kerudung lebar itu kini dililit perban—hampir menutupi seluruh kepala dan wajahnya. Tangan dan kakinya pun dililit. Barangkali patah.

Aku membungkam mulutku, mencegah isakanku terdengar. Malah bahuku berguncang hebat. Rupanya aku nggak sekuat yang kuperkirakan. Aku pingsan.

Begitu aku siuman, aku mendapati kabar bahwa Nida sudah tiada.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog di WordPress.com

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: