Kopi Telaga

Lelaki tua bersumpah, untuk malam ini saja, ia akan berjaga di tepi telaga. Melepaskan senja yang melarung bersama perahu asa, juga abu istrinya. Rahim yang melahirkan istrinya adalah semesta, dan ke sana pula wanitanya bertolak pulang. 

Tiba-tiba, fragmen kenangan dilukiskan pada kanvas jingga oleh tangan waktu. Lelaki tua itu menengadah. Kini ia saksikan kembali momen mereka berjumpa. Momen ketika mereka singgah di tanah-tanah asing dengan sekebun kopi. Momen ketika biji kopi yang mereka tanam membuahkan harapan. Mereka adalah sepasang muda-mudi yang lalu lalang dalam pikiran, melempar sauh asa itu hingga jauh ke depan. Lalu dari kedua bibir yang merekah riang, terbentanglah seutas janji untuk bersama selamanya.

Lelaki itu mengusap matanya yang mendung sebelum hujan sempat jatuh lagi. Rupanya, selamanya tak selama yang dia sangka.

Dia berharap waktu seperti kaset; mampu diputar mundur lalu dijeda, hingga istrinya bisa ia awetkan dalam gelas kaca bersama kopi-kopi hangat yang mereka jaja. Sebab, meski belum lama dia ditinggal, kopi-kopi yang diseduhnya sudah terasa dingin dan hambar. Padahal sudah dia taburkan sebaskom gula, dan sudah dipakainya air paling mendidih yang bisa ia dapatkan.

Abu kian larut, dan senja di telaga telah sepenuhnya surut oleh malam yang menjemput. Lelaki tua itu hendak pulang, tapi kakinya terasa berat, dibebat rindu yang menyengat. Langkahnya tak kuasa dikayuh. Hanya ada satu-dua senti peranjakannya.

Lelaki tua itu terus mencoba. Ketika bergeser sekian senti dari tempatnya mematung, tiba-tiba ia berpikir kakinya telah tersesat.

Pasalnya, istrinya datang bersama rembulan yang terangkat, mengajaknya menari bersama bintang-bintang yang azimat. Ke telinganya, tertiuplah sebuah bisikan:

‘Kita pecah karena sudah rekah dan matang, aku hanya lebih duluan dipetik angin. Besok, kita akan kembali berkumpul dalam satu keranjang. Bersama-sama, kita akan terlahir menjadi secangkir kopi paling nikmat yang pernah ada.’

Ketika lelaki tua itu terjaga dari selubung jelaga, ia tertawa, kontras dengan matanya yang memuntahkan hujan. Ia percaya. Ia bahagia. Maka bersama subuh yang berendam di pucuk malam, ia memungut biji-biji kopi baru yang datang diantarkan embun.

Sekali lagi, ia lambaikan tangannya yang penuh kepada ujung telaga yang berdikara.

‘Aku mengerti, Sayang. Aku akan berlatih membuat kopi paling nikmat sebelum kita bertemu lagi. Jadi, tunggulah aku dengan bahagia.’

Punggungnya berbalik. Sembari memanggul biji-biji kopi tadi, lelaki tua berjalan keluar dari gelap menuju taring terang.

Tinggalkan komentar